Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Keterampilan Pemeriksaan Fisik Sistem Pernapasan


Bagaimana cara pemeriksaan sistem pernapasan yang tepat dan benar? Tentunya harus mengikuti tuntunan teori yang telah diberikan oleh pengajar. Pemeriksaan fisik adalah modal utama sebagai seorang perawat atau tenaga medis lainnya untuk menentukan tindakan apa yang harus diberikan kepada pasien.

Tahapan Pemeriksaan Fisik Sistem Pernapasan

A. Pre Interaksi

  1. Cek catatan medis dan perawatan
  2. Cuci tangan
  3. Menyiapkan alat
    • Stetoskop
    • Penggaris sentimeter
    • Pensil penanda

B. Orientasi

  1. Memberikan salam, panggil klien serta mengenalkan diri
  2. Menerangkan prosedur dan tujuan tindakan pemeriksaan fisik sistem pernapasan.

C. Tahap Kerja

  1. Memberikan kesempatan klien untuk bertanya
  2. Menjaga privasi
  3. Inspeksi
    • Periksa dan palpasi hidung dan sunus apakah ada deformitas atau tanda-tanda peradangan
    • Periksa mulut dan faring untuk mendeteksi apakah ada tanda-tanda radang, simetris atau tidaknya, taukah ada pengeluaran, edema, ulserasi atau pembengkakan tonsil
    • Membuka baju pasien dan perhatikan badan pasien sebatas pinggang
    • Mengatur posisi pasien, bisa duduk atau berdiri, anjurkan pada klien untuk tetap santai dan rileks.
    • Lakukan pengamatan dari 4 sisi yaitu:
      • Depan: perhatikan klavikula, sternum dan tulang rusuk
      • Belakang: perhatikan bentuk tulang belakang, simetrisan skapula
      • Sisi kiri
      • Sisi kanan
    • Inspeksi bentuk dada secara keseluruhan untuk mengetahui kelainan bentuk dan tentukan frekuensi respirasi
    • Mengamati keadaan kulit dada, adanya reaksi interkostal selama bernafas, jaringan parut atau yang lainnya, lesi, kelainan tulang belakang.
  4. Palpasi
    • Palpasi ekspansi dada
      • Berdiri di depan klien dan letakkan kedua telapak tangan secara datar pada dinding dada klien.
      • Menganjurkan klien untuk menarik nafas
      • Merasakan getaran dinding dada dan bandingkan sisi kanan dan sisi kiri.
      • Pemeriksa berdiri di belakang klien, letakkan tangan pemeriksa pada sisi dada lateral pasien, perhatikan getaran kesamping sewaktu pasien bernafas.
      • Meletakkan kedua tangan pemeriksa si punggung klien: ibu jari diletakkan sepanjang penonjolan spina setinggi 19a ke-10, dengan telapak tangan menyentuh permukaan posterior, jari-jari harus terletak kurang lebih 5 cm terpisah dengan titik ibu jari pada spina dan jari lain ke lateral
      • Setelah ekhalasi minta klien untuk bernafas dalam, observasi gerakan ibu jari pemeriksa
      • Bandingkan gerakan kedua sisi dada
    • Palpasi tactil premitus
      • Meletakan telapak tangan pada bagian belakang dinding dada dekat apek paru
      • Menginstruksikan klien untuk mengucapkan bilangan "sembilan-sembilan"
      • Mengulang langkah tersebut dengan tangan bergerak ke bagian dasar paru
      • Membandingkan fremitus pada kedua sisi paru diantara apek dasar paru
      • Melakukan palpasi taktil fremitus pada dinding dada anterior. Bila fremitus redup minta klien untuk berbicara lebih keras dengan nada lebih rendah
  5. Perkusi 
    • Mengatur posisi pasien supine/terlentang
    • Untuk perkusi paru anterior, perkusi dimulai dari arah klavikula ke bawah pada spatium interkostalis pada interval 4-5 cm mengikuti pola sistematik.
    • Membandingkan sisi kanan dan sisi kiri
    • Menganjurkan posisi klien duduk dan berdiri
    • Untuk perkusi paru posterior, perkusi mulai dari puncak paru ke bawah
    • Bandingkan sisi kiri dan sisi kanan
    • Untuk mendeteksi diafragma suruh klien untuk menarik nafas panjang dan menahannya
    • Perkusi sepanjang garis skapula pada lokasi batas bawah dimana rensona berubah menjadi redup
    • Beri tanda dengan pensil/spidol pada tempat dimana bunyi redup didapatkan
    • Menginstruksikan klien untuk menghembuskan nafas secara maksimal dan menahannya
    • Melakukan perkusi dari bunyi redup/tanda 1 ke atas. Biasanya bunyi redup ke-2 ditemukan di atas tanda 1. Berikan tanda pada kulit yang ditemukan bunyi redup (tanda 2)
    • Mengukur jarak antara tanda 1 dan tanda 2. Pada wanita jarak antara kedu atnda ini normalnya 2-3 cm, dan pada pria 5-6 cm
  6. Auskultasi
    • Gunakan diafragma stetoskop
    • Meletakkan stetoskop dengan kuat pada area interkosta
    • Menginstruksikan klien untuk bernapas secara perlahan dengan menggunakan mulut sedikit tertutup. Mulailah auskultasi sesuai dengan urutan.
    • Dengarkan inspirasi dan ekspirasi pada setiap tempat
    • Catat hasil auskultasi
  7. Rapikan alat-alat

D. Terminasi

  1. Mengevaluasi klien
  2. Memberikan reinforcmen
  3. Kontal untuk kegiatan selanjutnya
  4. Cuci tangan
  5. Pendokumentasian