Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep Kebutuhan Psikososial dalam Keperawatan


Kebutuhan psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa (Depkes, 2011).

Pengertian Kebutuhan Psikososial

Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan sistem terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya.

Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan seseorang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya.

Sebagai makhluk sosial, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal positif .

Sebagai contoh: Seseorang yang sakit dan dirawat di rumah sakit, walaupun dalam keadaan sakit, dia tetap masih berhubungan dengan sesama klien yang dirawat, dan tetap juga menyesuaikan diri terhadap lingkungan rumah sakit yang baru, sehingga dalam proses penyembuhan dia tidak hanya sembuh dari penyakitnya tetapi juga bisa mendapatkan kawan baru yang baik yang dapat mendukungnya untuk mencapai kesembuhan tersebut di samping keluarganya.

Salah satu hal yang dibahas pada kebutuhan psikososial adalah status emosi. Setiap individu mempunyai kebutuhan emosi dasar, termasuk kebutuhan akan cinta, kepercayaan, otonomi, identitas, harga diri, penghargaan dan rasa aman.

Schultz (1966) merangkum kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan interpersonal untuk inklusi, kontrol dan afeksi. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, akibatnya dapat berupa perasaan atau perilaku yang tidak diharapkan, seperti ansietas, kemarahan, kesepian dan rasa tidak pasti.

Kebutuhan interpersonal akan inklusi, kontrol dan afeksi kadang saling tumpang tindih dan berkesinambungan. Maksudnya di sini dalam berhubungan dengan sesama manusia, kita tetap saling menjaga satu sama lain sehingga bisa saling diterima dan terjalin hubungan yang harmonis.

Kebutuhan akan inklusi merupakan kebutuhan untuk menetapkan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang. Dalam lingkungan perawatan kesehatan, kebutuhan inklusi dapat dipenuhi dengan memberi informasi dan menjawab semua pertanyaan, menjelaskan tanggung jawab perawat dalam memberi perawatan dan mengenali kebutuhan serta kesukaan pasien.

Kebutuhan akan kontrol berhubungan dengan kebutuhan untuk menentukan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang lain dengan memperhatikan kekuasaan, pembuatan keputusan dan otoritas.

Contoh: Saat orang melepaskan tanggung jawab pribadinya dan menjadi pasien yang sangat terikat dan tidak berdaya yang selalu meminta petunjuk dari semua orang mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dibalik perilaku itu tersembunyi ansietas, bermusuhan dan kurang percaya terhadap orang lain atau diri sendiri. Intervensi keperawatan yang membantu pasien menerima tanggung jawab untuk membuat keputusan mengenai perawatan pasien yang menunjang pemulihan kontrol.

Kebutuhan Afeksi :Seseorang membangun hubungan saling memberi dan saling menerima berdasarkan saling menyukai. Afeksi diungkapkan dengan kata-kata cinta, suka, akrab secara emosional, pribadi,sahabat, dan intimasi.

Teori Psikososial

Tokoh psikososial Erik H. Erikson beliau berasumsi bahwa:
  • Perkembangan kepribadian manusia terjadi sepanjang rentang kehidupan
  • Perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh interaksi sosial-hubungan dengan orang lain
  • Perkembangan kepribadian manusia ditentukan oleh keberhasilan atau kegagalan seseorang mengatasi krisis yang terjadi pada setiap tahapan sepanjang rentang kehidupan.

a. Tahap Perkembangan Psikososial
→ Erik H. Erikson menyatakan ada delapan tahap/fase perkembangan kepribadian memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia adalah sebagai berikut:
  1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya) → Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan, dari lahir sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup. Pada bayi sangat tergantung dari pengasuhan. Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia.
  2. Autonomy vs Shame and Doubt (otonomi vs malu dan ragu-ragu) → Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun. Masa awal kanak-kanak dan berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri. Latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting. Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian. Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.
  3. Initiative vs Guilt ( inisiatif dan rasa bersalah) → Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun. Masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya. Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung jawab dan prakarsa. Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat oleh rasa berhasil.
  4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri) → Terjadi pada usia 6 s/d pubertas, melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka. Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru membangun pesan kompeten dan percaya dengan keterampilan yang dimilikinya. Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuannya untuk berhasil. Prakarsa yang dicapai sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat dengan pengalaman baru. Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah diri, perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif. Guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak.
  5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas) → Terjadi pada masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun. Selama remaja ia mengeksplorasi kemandirian dan membangun kepekaan dirinya. Anak dihadapkan dengan penemuan siapa, bagaimana, dan ke mana mereka menuju dalam kehidupannya. Anak dihadapkan memiliki banyak peran baru dan status sebagai orang dewasa, pekerjaan dan romantisme. Jika remaja menjajaki peran dengan cara yang sehat dan positif maka identitas positif akan dicapai. Jika suatu identitas remaja ditolak oleh orang tua, tidak secara memadai menjajaki banyak peran, jalan masa depan positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela. Bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan kontrol dirinya akan muncul dalam tahap ini. Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhadap diri dan masa depannya.
  6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan) → Terjadi selama masa dewasa awal (20 s/d 30 tahun). Tahap ini penting, yaitu tahap seseorang membangun hubungan yang dekat & siap berkomitmen dengan orang lain. Mereka yang berhasil di tahap ini, akan mengembangkan hubungan yang komit dan aman. Identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan yang intim. Jika mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang.
  7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan) → Terjadi selama masa pertengahan usia dewasa. Selama masa ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya berfokus terhadap karier dan keluarga. Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa mereka berkontribusi terhadap dunia. Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.
  8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa) → Terjadi selama masa akhir dewasa. Cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu. Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hidupnya percuma dan mengalami banyak penyesalan. Individu akan merasa kepahitan hidup dan putus asa. Mereka yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami. Individu ini akan mencapai kebijaksanaan, meskipun saat menghadapi kematian.

b. Kriteria kepribadian yang sehat
  1. Citra tubuh positif dan akurat → Kesadaran akan diri berdasar atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai akan kesehatan diri. Termasuk peresepsi saat ini dan masa lalu.
  2. Ideal dan realitas → Individu mempunyai ideal diri yang realitas dan mempunyai tujuan hidup yang dapat dicapai.
  3. Konsep diri yang positif → Konsep diri yang positif menunjukkan bahwa individu akan sesuai dalam hidupnya.
  4. Harga diri tinggi → Seseorang yang akan mempunyai harga diri tinggi akan memandang dirinya sebagai seorang yang berarti dan bermanfaat. Ia memandang dirinya sama dengan apa yang ia inginkan.
  5. Kepuasan penampilan peran → Individu yang mempunyai kepribadian sehat akan dapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan, dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain serta membina hubungan interdependen.
  6. Identitas jelas → Individu merasakan keunikan dirinya yang memberi arah kehidupan dalam mencapai tujuan.

c. Karakteristik konsep diri rendah
  1. Menghindari sentuhan atau melihat bagian tubuh tertentu
  2. Tidak mau berkaca
  3. Menghindari diskusi tentang topik dirinya
  4. Menolak usaha rehabilitasi
  5. Melakukan usaha sendiri dengan tidak tepat
  6. Mengingkari perubahan pada dirinya
  7. Peningkatan ketergantungan pada yang lain
  8. Tanda dari keresahan seperti marah, keputusasaan, dan menangis
  9. Menolak berpartisipasi dalam perawatan dirinya.

3. Stres dan Adaptasi

Stres merupakan bagian dari kehidupan yang mempunyai efek positif dan negatif yang disebabkan karena perubahan lingkungan. Secara sederhana stres adalah kondisi di mana adanya respons tubuh terhadap perubahan untuk mencapai normal.

Sedangkan stressor adalah sesuatu yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stres. Stresor dapat berasal dari internal misalnya, perubahan hormon, sakit maupun eksternal misalnya, temperatur
dan pencemaran.

Seseorang mengalami situasi bahaya, maka respons akan muncul. Respons yang tidak disadari pada saat tertentu disebut respons koping. Perubahan dari suatu keadaan dari respons akibat stresor disebut adaptasi. Adaptasi sesungguhnya terjadi apabila adanya keseimbangan antara lingkungan internal dan eksternal.

Contoh adaptasi misalnya: optimalnya semua fungsi tubuh, pertumbuhan normal, normalnya reaksi antara fisik dan emosi, kemampuan menolerir perubahan situasi.

a. Fisiologi Stres dan Adaptasi
Tubuh selalu berinteraksi dan mengalami sentuhan langsung dengan lingkungan, baik lingkungan internal seperti pengaturan peredaran darah, pernapasan. Maupun lingkungan eksternal seperti cuaca dan suhu yang kemudian menimbulkan respons normal atau tidak normal.

Keadaan di mana terjadi mekanisme relatif untuk mempertahankan fungsi normal disebut homeostatis. Homeostatis dibagi menjadi dua yaitu homeostatis fisiologis misalnya, respons adanya peningkatan pernapasan saat berolahraga dan homeostatis psikologis misalnya, perasaan mencintai dan dicintai, perasaan aman dan nyaman.

b. Respons fisiologi terhadap stres
Respons fisiologi terhadap stres dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu lokal adaptation syndrome (LAS) yaitu respons lokal tubuh terhadap stresor misalnya kalau kita menginjak paku maka secara refleks kaki akan diangkat atau misalnya ada proses peradangan maka reaksi lokalnya dengan menambahkan sel darah putih pada lokasi peradangan dan general adaptation syndrome (GAS) yaitu reaksi menyeluruh terhadap stresor yang ada.

Dalam proses GAS terdapat tiga fase:
  1. Reaksi peringatan ditandai oleh peningkatan aktivitas neuroendokrin yang berupa peningkatan pembuluh darah, nadi, pernapasan, metabolisme, glukosa dan dilatasi pupil.
  2. Fase resisten dimana fungsi kembali normal, adanya LAS, adanya koping dan mekanisme pertahan.
  3. Fase kelelahan ditandai dengan adanya vasodilatasi, penurunan tekanan darah, panik, krisis.

Faktor-Faktor yang Dapat Menimbulkan Stres

  1. Lingkungan yang asing → Lingkungan yang masih asing pada sebagian orang bisa menimbulkan karena merasa tidak nyaman dan sendirian di lingkungan tersebut. Terlebih pada anak kecil, lingkungan yang asing bisa menimbulkan stres yang berkepanjangan bila tidak segera dilakukan pengenalan lebih lanjut.
  2. Kehilangan kemandirian → Sehingga mengalami ketergantungan dan memerlukan bantuan orang lain. Mereka yang kehilangan kemandiriannya akan berpikir yang tidak baik terhadap diri maupun orang lain. Hal ini memicu terjadinya stres pada orang yang bersangkutan.
  3. Berpisah dengan pasangan dan keluarga → Keluarga merupakan lingkungan yang paling nyaman dan tenang. Mereka yang berpisah dengan keluarganya apalagi pasangannya akan merasa tidak tenang, hal ini bisa menimbulkan stres.
  4. Masalah biaya → Walaupun dikatakan bahwa uang bukan segala-galanya dalam kehidupan ini, namun tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatu memerlukan uang. Maka mereka yang tidak mempunyai uang akan merasa tidak tenang. Apalagi kalau mereka sakit, keadaan tidak ada biaya ini semakin menghambat proses penyembuhan.
  5. Kurang informasi → Informasi adalah hal sangat mendukung keseimbangan kebutuhan manusia. Kalau kurang informasi bisa terjadi salah persepsi, salah pengertian dan sebagainya yang akhirnya nanti bisa menimbulkan gangguan. Kekurangan informasi atau informasi yang salah bisa menimbulkan efek yang kurang baik bagi kesembuhan klien yang kita asuh.
  6. Ancaman akan penyakit yang lebih parah → Dengan menderita suatu penyakit sudah memberikan stres pada seseorang. Apalagi mereka tahu bahwa penyakitnya akan menjadi lebih parah, tentunya hal ini akan membuat klien semakin stres.
  7. Masalah pengobatan → Bila menderita suatu penyakit, pasti kita akan mencari pengobatan. Namun secara tidak disadari pengobatan itu juga bisa menimbulkan stres bila tidak dilakukan dengan baik dan benar.

Dalam setiap tingkat, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan.