Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep Pelaksanaan Keperawatan Gerontik

Konsep Pelaksanaan Keperawatan Gerontik

Pelaksanaan tindakan merupakan langkah keempat dalam tahap proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan), strategi ini terdapat dalam rencana tindakan keperawatan. Tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal, diantaranya bahaya-bahaya fisik dan perlindungan pada lansia, teknik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak dari lansia dan memahami tingkat perkembangan lansia. Pelaksanaan tindakan gerontik diarahkan untuk mengoptimalkan kondisi lansia agar mampu mandiri dan produktif.

A. Pengertian Tindakan Keperawatan Gerontik

Tindakan keperawatan gerontik adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.

B. Cara Mempertahankan Kemampuan Aktivitas Sehari-Hari pada Lansia

Strategi mempertahankan kebutuhan aktivitas pada lansia meliputi :

a. Exercise/olahraga bagi lansia sebagai individu/ kelompok
→ Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh yang membutuhkan energi; seperti berjalan, mencuci, menyapu dan sebagainya.

Olahraga adalah aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, melibatkan gerakan tubuh berulang yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani.

Manfaat olahraga:
  • Meningkatkan kekuatan jantung sehingga sirkulasi darah meningkat
  • Menurunkan tekanan darah
  • Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi
  • Mencegah jatuh & fraktur
  • Memperkuat sistem imunitas
  • Meningkatkan endorphin zat kimia di otak menurunkan nyeri sehingga perasaan tenang & semangat hidup meningkat
  • Mencegah obesitas
  • Mengurangi kecemasan dan depresi
  • Kepercayaan diri lebih tinggi
  • Menurunkan risiko terjadinya penyakit kencing manis, hipertensi dan jantung
  • Memfasilitasi pemenuhan kebutuhan tidur
  • Mengurangi konstipasi
  • Meningkatkan kekuatan tulang, otot dan fleksibilitas.

Latihan senam aerobik adalah olahraga yang membuat jantung dan paru bekerja lebih keras untuk memenuhi peningkatan kebutuhan oksigen. Contoh: berjalan, berenang, bersepeda atau senam, dilakukan sekurang-kurangnya 30 menit dengan intensitas sedang, dilakukan 5 kali dalam seminggu, 20 menit dengan intensitas tinggi dilakukan 3 kali dalam seminggu, kombinasi 20 menit intensitas tinggi dalam 2 hari dan 20 menit intensitas sedang dalam 2 hari.

Latihan penguatan otot adalah aktivitas yang memperkuat dan menyokong otot dan jaringan ikat. Latihan dirancang supaya otot mampu membentuk kekuatan untuk menggerakkan dan menahan beban seperti aktivitas yang melawan gravitasi (gerakan berdiri dari kursi, ditahan beberapa detik dan dilakukan berulang-ulang). Penguatan otot dilakukan 2 hari dalam seminggu dengan istirahat untuk masing-masing sesi dan untuk masing-masing kekuatan otot.

Fleksibilitas dan latihan keseimbangan adalah aktivitas untuk membantu mempertahankan rentang gerak sendi (ROM) yang diperlukan untuk melakukan aktivitas fisik dan tugas sehari-hari secara teratur.

b. Terapi Aktivitas Kelompok
→ Terapi aktivitas pada lansia sebagai individu/kelompok dengan indikasi tertentu. Terapi aktivitas kelompok (TAK) merupakan terapi yang dilakukan atas kelompok penderita bersama-sama dengan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seseorang terapis.

Tujuan dari terapi aktivitas kelompok:
  1. Mengembangkan stimulasi persepsi
  2. Mengembangkan stimulasi sensoris
  3. Mengembangkan orientasi realitas
  4. Mengembangkan sosialisasi.

Jenis Terapi Aktivitas Kelompok pada Lansia
  1. Stimulasi Sensori (Musik) → Musik dapat berfungsi sebagai ungkapan perhatian, kualitas dari musik yang memiliki andil terhadap fungsi-fungsi dalam pengungkapan perhatian terletak pada struktur dan urutan matematis yang dimiliki. Lansia dilatih dengan mendengarkan musik terutama musik yang disenangi.
  2. Stimulasi Persepsi → Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Proses ini diharapkan mengembangkan respon lansia terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan dan menjadi adaptif. Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan: seperti membaca majalah, menonton acara televisi. Stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi lansia yang maladaptif atau destruktif, misalnya kemarahan dan kebencian.
  3. Orientasi Realitas → Lansia diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien, yaitu diri sendiri, orang lain yang ada disekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien, dan lingkungan yang pernah mempunyai hubungan dengan klien. Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu, dan rencana ke depan. Aktivitasnya dapat berupa: orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar dan semua kondisi nyata.
  4. Sosialisasi → Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal (satu per satu), kelompok, dan massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.

Tahap Terapi Aktivitas Kelompok
  1. Pre kelompok → Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan, siapa yang menjadi pemimpin, anggota, dimana, kapan kegiatan kelompok tersebut dilaksanakan, proses evaluasi pada anggota dan kelompok, menjelaskan sumber-sumber yang diperlukan kelompok (biaya dan keuangan jika memungkinkan, proyektor dan lain-lain).
  2. Fase awal → Pada fase ini terdapat 3 kemungkinan tahapan yang terjadi, yaitu orientasi, konflik atau kebersamaan.
  3. Orientasi → Anggota mulai mengembangkan system sosial masing-masing, dan leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontak dengan anggota.
  4. Konflik → Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana peran anggota, tugasnya dan saling ketergantungan yang akan terjadi.
  5. Fase kerja → Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim. Perasaan positif dan negatif dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah dibina, bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, kecemasan menurun, kelompok lebih stabil dan realistik, mengeksplorasikan lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugas kelompok, dan penyelesaian masalah yang kreatif.
  6. Fase terminasi → Ada dua jenis terminasi (akhir dan sementara). Anggota kelompok mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses.

C. Latihan Kognitif

  • Latihan kemampuan sosial → Meliputi; melontarkan pertanyaan, memberikan salam, berbicara dengan suara jelas, menghindari kritik diri atau orang lain.
  • Aversion therapy → Terapi ini menolong menurunkan frekuensi perilaku yang tidak diinginkan tetapi terus dilakukan. Terapi ini memberikan stimulasi yang membuat cemas atau penolakan pada saat tingkah laku maladaptif dilakukan klien.
  • Contingency therapy → Meliputi kontrak formal antara klien dan terapis tentang definisi perilaku yang akan dirubah atau konsekuensi terhadap perilaku jika dilakukan. Meliputi konsekuensi positif untuk perilaku yang diinginkan dan konsekuensi negatif untuk perilaku yang tidak diinginkan.