Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Perencanaan Keperawatan Gerontik

Perencanaan Keperawatan Gerontik

Perencanaan Keperawatan Gerontik ini merupakan langkah ketiga dalam proses keperawatan. Perawat memerlukan berbagai pengetahuan dan keterampilan diantaranya pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan klien, nilai dan kepercayaan klien, batasan praktik keperawatan, peran dari tenaga kesehatan lainnya.

Pengetahuan dan keterampilan lain yang harus dimiliki perawat adalah kemampuan memecahkan masalah, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan menulis tujuan serta memilih dan membuat strategi keperawatan yang aman dalam memenuhi tujuan, menulis instruksi keperawatan serta kemampuan dalam melaksanakan kerja sama dengan perangkat kesehatan lain.

Pengertian Perencanaan Keperawatan Gerontik

Perencanaan keperawatan gerontik adalah suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang berguna untuk untuk mencegah, menurunkan atau mengurangi masalah-masalah lansia.

Prioritas Masalah Keperawatan

Penentuan prioritas diagnosis ini dilakukan pada tahap perencanaan setelah tahap diagnosis keperawatan. Dengan menentukan diagnosis keperawatan, maka perawat dapat mengetahui diagnosis mana yang akan dilakukan atau diatasi pertama kali atau yang segera dilakukan. Terdapat beberapa pendapat untuk menentukan urutan prioritas, yaitu:

a. Berdasarkan tingkat kegawatan (mengancam jiwa)
→ Penentuan prioritas berdasarkan tingkat kegawatan (mengancam jiwa) yang dilatarbelakangi oleh prinsip pertolongan pertama, dengan membagi beberapa prioritas yaitu prioritas tinggi, prioritas sedang dan prioritas rendah.
  1. Prioritas tinggi; Prioritas tinggi mencerminkan situasi yang mengancam kehidupan (nyawa seseorang) sehingga perlu dilakukan terlebih dahulu seperti masalah bersihan jalan napas (jalan napas yang tidak efektif).
  2. Prioritas sedang; Prioritas ini menggambarkan situasi yang tidak gawat dan tidak mengancam hidup klien seperti masalah higiene perseorangan.
  3. Prioritas rendah; Prioritas ini menggambarkan situasi yang tidak berhubungan langsung dengan prognosis dari suatu penyakit yang secara spesifik, seperti masalah keuangan atau lainnya.

b. Berdasarkan kebutuhan Maslow
→ Maslow menentukan prioritas diagnosis yang akan direncanakan berdasarkan kebutuhan, diantaranya kebutuhan fisiologis keselamatan dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri. Untuk prioritas diagnosis yang akan direncanakan, Maslow membagi urutan tersebut berdasarkan kebutuhan dasar manusia, diantaranya:
  1. Kebutuhan fisiologis; Meliputi masalah respirasi, sirkulasi, suhu, nutrisi, nyeri, cairan, perawatan kulit, mobilitas, dan eliminasi.
  2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan; Meliputi masalah lingkungan, kondisi tempat tinggal, perlindungan, pakaian, bebas dari infeksi dan rasa takut.
  3. Kebutuhan mencintai dan dicintai; Meliputi masalah kasih sayang, seksualitas, afiliasi dalam kelompok antar manusia.
  4. Kebutuhan harga diri; Meliputi masalah respect dari keluarga, perasaan menghargai diri sendiri.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri; Meliputi masalah kepuasan terhadap lingkungan.

Penentuan Tujuan dan Hasil yang Diharapkan

Tujuan merupakan hasil yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah diagnosis keperawatan, dengan kata lain tujuan merupakan sinonim kriteria hasil (hasil yang diharapkan) yang mempunyai komponen sebagai berikut: S (subyek) P (predikat) K (kriteria) K (kondisi) W (waktu), dengan penjabaran sebagai berikut:
  • S : Perilaku lansia yang diamati.
  • P : Kondisi yang melengkapi lansia.
  • K : Kata kerja yang dapat diukur atau untuk menentukan tercapainya tujuan.
  • K : Sesuatu yang menyebabkan asuhan diberikan.
  • W : Waktu yang ingin dicapai.

Kriteria hasil (hasil yang diharapkan) merupakan standard evaluasi yang merupakan gambaran faktor-faktor yang dapat memberi petunjuk bahwa tujuan telah tercapai.

Kriteria hasil ini digunakan dalam membuat pertimbangan dengan cirri-ciri sebagai berikut:
  • Setiap kriteria hasil berhubungan dengan tujuan yang telah ditetapkan
  • Hasil yang ditetapkan sebelumnya memungkinkan dicapai
  • Setiap kriteria hasil adalah pernyataan satu hal yang spesifik
  • Harus sekongkrit mungkin untuk memudahkan pengukuran
  • Kriteria cukup besar atau dapat diukur
  • Hasilnya dapat dilihat, didengar dan kriteria menggunakan kata-kata positif bukan menggunakan kata negatif.

Contoh:
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada lansia teratasi dengan kriteria hasil berat badan seimbang, porsi makan habis; setelah dilaksanakan asuhan keperawatan selama 7 hari.

Rencana Tindakan

Setelah menetapkan tujuan, kegiatan berikutnya adalah menyusun rencana tindakan. Berikut ini dijelaskan rencana tindakan beberapa masalah keperawatan yang lazim terjadi pada lansia.

a. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Penyebab gangguan nutrisi pada lansia adalah penurunan alat penciuman dan pengecapan, pengunyahan kurang sempurna, gigi tidak lengkap, rasa penuh pada perut dan susah buang air besar, otot-otot lambung dan usus melemah.

Rencana makanan untuk lansia:
  1. Berikan makanan sesuai dengan kalori yang dibutuhkan
  2. Banyak minum dan kurangi makanan yang terlalu asin
  3. Berikan makanan yang mengandung serat
  4. Batasi pemberian makanan yang tinggi kalori
  5. Batasi minum kopi dan teh.

b. Gangguan keamanan dan keselamatan lansia
Penyebab kecelakaan pada lansia:
  1. Fleksibilitas kaki yang berkurang
  2. Fungsi pengindraan dan pendengaran menurun
  3. Pencahayaan yang berkurang
  4. Lantai licin dan tidak rata
  5. Tangga tidak ada pengaman
  6. Kursi atau tempat tidur yang mudah bergerak.

Tindakan mencegah kecelakaan:
  1. Anjurkan lansia menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan.
  2. Latih lansia untuk pindah dari tempat tidur ke kursi.
  3. Biasakan menggunakan pengaman tempat tidur jika tidur.
  4. Bila mengalami masalah fisik misalnya rematik, latih klien untuk menggunakan alat bantu berjalan.
  5. Bantu klien ke kamar mandi terutama untuk lansia yang menggunakan obat penenang/diuretik.
  6. Anjurkan lansia memakai kaca mata jika berjalan atau melakukan sesuatu.
  7. Usahakan ada yang menemani jika berpergian.
  8. Tempatkan lansia di ruangan yang mudah dijangkau.
  9. Letakkan bel di dekat klien dan ajarkan cara penggunaannya.
  10. Gunakan tempat tidur yang tidak terlalu tinggi.
  11. Letakkan meja kecil di dekat tempat tidur agar lansia menempatkan alat-alat yang biasa digunakannya.
  12. Upayakan lantai bersih, rata dan tidak licin/basah.
  13. Pasang pegangan di kamar mandi/WC
  14. Hindari lampu yang redup/menyilaukan, sebaiknya gunakan lampu 70-100 watt
  15. Jika pindah dari ruangan terang ke gelap ajarkan lansia untuk memejamkan mata sesaat.

c. Gangguan kebersihan diri
Penyebab kurangnya perawatan diri pada lansia adalah :
  1. Penurunan daya ingat
  2. Kurangnya motivasi
  3. Kelemahan dan ketidak mampuan fisik.

Rencana tindakan untuk kebersihan diri, antara lain:
  1. Bantu lansia untuk melakukan upaya kebersihan diri
  2. Anjurkan lansia untuk menggunakan sabun lunak yang mengandung minyak atau berikan skin lotion
  3. Ingatkan lansia untuk membersihkan telinga dan mata
  4. Membantu lansia untuk menggunting kuku.

d. Gangguan istirahat tidur
Rencana tindakannya, antara lain:
  1. Sediakan tempat tidur yang nyaman
  2. Mengatur waktu tidur dengan aktivitas sehari-hari
  3. Atur lingkungan dengan ventilasi yang cukup, bebas dari bau-bauan
  4. Latih lansia dengan latihan fisik ringan untuk memperlancar sirkulasi darah dan melenturkan otot (dapat disesuaikan dengan hobi)
  5. Berikan minum hangat sebelum tidur, misalnya susu hangat.

e. Gangguan hubungan interpersonal melalui komunikasi
Rencana tindakan yang dilakukan antara lain:
  1. Berkomunikasi dengan lansia dengan kontak mata
  2. Mengingatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan
  3. Menyediakan waktu berbincang-bincang untuk lansia
  4. Memberikan kesempatan lansia untuk mengekspresikan atau perawat tanggap terhadap respon verbal lansia
  5. Melibatkan lansia untuk keperluan tertentu sesuai dengan kemampuan lansia
  6. Menghargai pendapat lansia.

f. Masalah mekanisme pertahanan diri (Koping)
Rencana tindakan yang dilakukan:
  1. Dorong aktivitas sosial dan komunitas
  2. Dorong lansia untuk mengembangkan hubungan
  3. Dorong lansia berhubungan dengan seseorang yang memiliki tujuan dan ketertarikan yang sama
  4. Dukung lansia untuk menggunakan mekanisme pertahanan yang sesuai
  5. Kenalkan lansia kepada seseorang yang mempunyai latar belakang pengalaman yang sama.

g. Masalah cemas
Rencana tindakan yang dilakukan adalah
  1. Bantu lansia mengidentifikasi situasi yang mempercepat terjadinya cemas
  2. Dampingi lansia untuk meningkatkan kenyamanan diri dan mengurangi ketakutan
  3. Identifikasi kondisi yang menyebabkan perubahan tingkat cemas
  4. Latih klien untuk teknik relaksasi