Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Asuhan Keperawatan (Askep) Intoleransi Aktivitas

Asuhan Keperawatan (Askep) Intoleransi Aktivitas

Penggunaan proses keperawatan, aplikasi kritis anatomi dan fisiologi, pengalaman klien memungkinkan mengembangkan rencana keperawatan secara individu klien yang mengalami gangguan mobilisasi dan resikonya. Rencana keperawatan dibuat untuk meningkatkan status fungsional, meningkatkan perawatan mandiri, mempertahankan kondisi psikologis, dan mengurangi bahaya imobilisasi.

A. PENGKAJIAN

Saudara dalam melakukan pengkajian harus dilihat dari dua bagian yaitu mobilisasi dan imobilisasi dengan menggerakan semua indra dan tenaga untuk melakukan pengkajian secara cermat baik melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dengan palpasi, auskultasi, hasil tes laboratorium, bb (berat badan), asupan cairan, dan haluaran cairan.

Menggali data yang akurat selama pemeriksaan fisik yang meliputi:
  1. Perawat harus menanyakan tingkat aktivitas klien, hal ini untuk mengidentifikasi mobilisasi dan resiko cedera yang meliputi pola aktivitas, jenis, frekuensi, dan lamanya.
  2. Selain itu perawat juga perlu mengkaji kecepatan aktivitas.
  3. Tanyakan tingkat kelelahan meliputi aktivitas yang membuat lelah dan gangguan pergerakan meliputi penyebab , gejala dan efek dari gangguan pergerakan
  4. Perawat mengkaji tingkat aktivitas klien meliputi:
    • Tingkat 0: klien mampu merawat diri sendiri secara penuh
    • Tingkat 1: klien memerlukan penggunaan alat
    • Tingkat 2: klien perlu bantuan atau pengawasan orang lain
    • Tingkat 3: memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan peralatan
    • Tingkat 4: Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan
  5. Pemeriksaan fisik, pemeriksaan ini bertujuan untuk mendapatkan data adanya indikasi rintangan dan keterbatasan sehingga klien perlu bantuan perawat meliputi
    • Tingkat kesadaran dan postur/bentuk tubuh
    • Skoliosis, kiposis, lordosis dan cara berjalan
    • Ekstremitas: kelemahan, gangguan sensorik, tonus otot, atropi, tremor, gerakan tak terkendali, kekuatan otot, kemampuan jalan, kemampuan duduk, kemampuan berdiri,
    • Pergerakan, kemerahan, deformitas, nyeri sendi dan kripitasi, suhu sekitar sendi.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Menurut NANDA (2015), diagnosa keperawatan yang terkait dengan aktivitas karena ketidaktepatan mekanika tubuh dan hambatan mobilisasi, yang perlu peserta didik ketahui antara lain:
  1. Intoleransi aktivitas: yang berhubungan dengan kesejajaran tubuh yang buruk dan penurunan mobilisasi.
  2. Hambatan mobilisasi fisik : yang berhubungan dengan penurunan rentang gerak, tirah baring, penurunan kekuatan, sedangkan resiko cedera : yang berhubungan dengan ketidak tepatan mekanika tubuh, ketidak tepatan teknik pemindahan.
  3. Gangguan integritas kulit atau risiko gangguan integritas kulit : berhubungan dengan keterbatasan mobilisasi, tekanan permukaan kulit dan gaya gesek, dan lain-lain.

Diagnosa → Intoleransi aktivitas
  • Definisi: Kondisi di mana seseorang mengalami penurunan energi fisiologis dan psikologis untuk melakukan aktivitas sehari-hari (intoleransi aktivitas).
  • Kemungkinan berhubungan (etiologi/penyebab) antara lain: kesejajaran tubuh buruk, kelemahan, bedrest lama/ imobilisasi, motivasi yang kurang, pembatasan pergerakan, nyeri, kemungkinan data yang ditemukan pada klien: verbal/adanya kelemahan, sesak nafas/pucat, kesulitan dalam pergerakan, abnormal nadi, tekanan darah terhadap respons aktivitas.
  • Kondisi klinis klien kemungkinan terjadi: anemia, gagal ginjal kronis, gangguan jantung, kardiak aritmia, COPD, gangguan metabolism, gangguan musculoskeletal.
  • Tujuan yang diharapkan setelah dilakukan tindakan:
    • Kelemahan klien berkurang
    • Klien berpartisipasi dalam perawatan diri
    • Klien mempertahankan kemampuan aktivitas seoptimal mungkin.

C. INTERVENSI

  1. Kaji tingkat kemampuan klien dalam melakukan gerak.
  2. Rencanakan tentang pemberian program latihan sesuai kemampuan pasien.
  3. Berikan diet tinggi kalsium
  4. Ajarkan klien tentang bagaimana melakukan aktivitas sehari-hari.
  5. Libatkan keluarga untuk melatih mobilitas pasien.
  6. Konsultasikan dengan ahli tetapi fisik .