Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Perkembangan Keperawatan Jiwa di Dunia dan Indonesia

Perkembangan Keperawatan Jiwa di Dunia dan Indonesia

Perkembangan keperawatan jiwa dimulai sejak zaman peradaban. Pada masa ini suku bangsa Yunani dan Arab percaya bahwa gangguan jiwa disebabkan karena tidak berfungsinya organ otak. Pengobatan pada masa ini telah menggabungkan berbagai pendekatan pengobatan seperti: memberikan ketenangan, mencukupi asupan gizi yang baik, melaksanakan kebersihan badan yang baik, mendengarkan musik dan melakukan aktivitas rekreasi.

Perkembangan keperawatan jiwa pada abad 21 lebih menekankan pada upaya preventif melalui pengembangan pusat kesehatan mental, praktek mandiri, pelayanan di rumah sakit dan pelayanan day care serta mengidentifikasi pemberian asuhan keperawatan pada kelompok berisiko tinggi dan pengembangan sistem management patient care dengan pendekatan multidisipliner.

A. PERKEMBANGAN KEPERAWATAN JIWA DI DUNIA

Perkembangan keperawatan jiwa di dunia dimulai dalam berbagai periode, yang akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Masa Peradaban

Masa ini dimulai antara tahun 1770 sampai dengan tahun 1880, ditandai dengan dimulainya pengobatan terhadap pasien gangguan mental. Para masa ini, suku bangsa Yunani, Romawi maupun Arab percaya bahwa gangguan mental (emosional) diakibatkan karena tidak berfungsinya organ pada otak. Pengobatan yang digunakan pada masa ini telah menggabungkan berbagai pendekatan pengobatan seperti: memberikan ketenangan, mencukupi asupan gizi yang baik, melaksanakan kebersihan badan yang baik, mendengarkan musik dan melakukan aktivitas rekreasi.

Hippocrates bapak kedokteran abad 7 SM, menerangkan bahwa perubahan perilaku atau watak dan gangguan mental disebabkan karena adanya perubahan 4 cairan tubuh atau hormon, yang dapat menghasilkan panas, dingin, kering dan kelembaban. seorang Dokter Yunani Galen, mengatakan ada hubungan antara kerusakan pada otak dengan kejadian gangguan mental dan perubahan emosi.

Pada masa itu suku bangsa Yunani telah menggunakan sistem perawatan yang modern dimana telah digunakannya kuil sebagai rumah sakit dengan lingkungan yang bersih, udara yang segar, sinar matahari dan penggunaan air bersih. Untuk menyembuhkan pasien dengan penyakit jiwa/gangguan mental pasien diajak untuk melakukan berbagai aktivitas seperti bersepeda, jalan-jalan, dan mendengarkan suara air terjun, musik yang lembut dll.

2. Masa Pertengahan

Masa ini merupakan periode pengobatan modern pasien gangguan jiwa. Bapak Psikiatrik Perancis Pinel, menghabiskan sebagian hidupnya untuk mendampingi pasien gangguan jiwa. Pinel mengajarkan pentingnya hubungan pasien-dokter dalam “pengobatan moral". Tindakan yang diperkenalkan nya adalah menerapkan komunikasi dengan pasien, melakukan observasi perilaku pasien dan melakukan pengkajian riwayat perkembangan pasien.

3. Abad 18 dan 19

William Ellis seorang praktisi kesehatan mengusulkan perlunya pendamping yang terlatih dalam merawat pasien dengan gangguan jiwa. Pada tahun 1836, William Ellis mempublikasikan Treatise on Insanity yaitu pentingnya pendamping terlatih bagi pasien gangguan jiwa karena pendamping terlatih terbukti efektif di dalam memberikan ketenangan dan harapan yang lebih baik bagi kesembuhan pasien. Benjamin Rush bapak Psikiatric Amerika tahun 1783, menulis tentang pentingnya kerja sama dengan rs jiwa dalam memberikan bantuan kemanusiaan terhadap pasien gangguan jiwa. Pada tahun Tahun 1843, Thomas Kirkbride mengadakan pelatihan bagi dokter di rumah sakit Pennsylvania mengenai cara merawat pasien gangguan jiwa. Tahun 1872, didirikannya pertama kali sekolah perawat di New England Hospital Women’s Hospital Philadelphia, tetapi tidak untuk pelayan pskiatrik.

Tahun 1882 didirikannya pendidikan keperawatan jiwa pertama di McLean Hospital di Belmont, Massachusetts. Dan pada tahun 1890 diterimanya lulusan sekolah perawat bekerja sebagai staff keperawatan di rumah sakit jiwa. Di akhir abad 19 terjadi perubahan peran perawat jiwa yang sangat besar, dimana peran tersebut antara lain menjadi contoh dalam pengobatan pengobatan pskiatrik seperti, menjadi bagian dari tim kesehatan, mengelola pemberian obat penenang dan memberikan hidroterapi (terapi air).

4. Keperawatan Jiwa di Abad 20

Keperawatan jiwa pada abad ini ditandai dengan terintegrasinya materi keperawatan psikiatrik dengan mata kuliah lain. Pembelajaran dilaksanakan melalui pembelajaran teori, praktek di laboratorium, praktek klinik di RS dan Masyarakat. Tingkat pendidikan yang ada pada abad ini adalah D.III, Sarjana, Pasca Sarjana dan Doktoral.

Fokus pemberian asuhan keperawatan jiwa pada abad 21 adalah mengembangkan asuhan keperawatan berbasis komunitas dengan menekankan upaya preventif melalui pengembangan pusat kesehatan mental, praktek mandiri, pelayanan di rumah sakit, pelayanan day care (perawatan harian) yaitu pasien tidak dirawat inap hanya rawat jalan,kunjungan rumah dan hospice care (ruang rawat khusus untuk pasien gangguan jiwa yang memungkinkan pasien berlatih untuk meningkatkan kemampuan diri sebelum kembali ke masyarakat).

Selain itu dilakukan identifikasi dan pemberian asuhan keperawatan pada kelompok berisiko tinggi berupa penyuluhan mengenai perubahan gaya hidup yang dapat mengakibatkan masalah gangguan kesehatan jiwa. Selain itu dikembangkan pula sistem management pasien care dimana peran seorang manager adalah mengkoordinasikan pelayanan keperawatan dengan menggunakan pendekatan multidisipliner.

B. PERKEMBANGAN KEPERAWATAN JIWA DI INDONESIA

Sejarah dan perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi akibat penjajahan yang dilakukan oleh kolonial Belanda, Inggris dan Jepang. Perkembangannya dimulai pada masa penjajahan Belanda sampai pada masa kemerdekaan.

1. Masa Penjajahan Belanda

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat merupakan penduduk pribumi yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit.Tahun 1799 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Rumah Sakit Binen Hospital di Jakarta, Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat yang bertujuan untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Jenderal Daendels juga mendirikan rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan, karena tujuannya hanya untuk kepentingan tentara Belanda.

2. Masa Penjajahan Inggris (1812 – 1816)

Gubernur Jenderal Inggris ketika itu dijabat oleh Raffles sangat memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu kesehatan adalah milik setiap manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain melakukan pencacaran umum, cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa dan kesehatan para tahanan

Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan penduduk Indonesia menjadi lebih baik. Pada tahun 1819 didirikanlah RS. Stadverband di Glodok Jakarta dan pada tahun 1919 dipindahkan ke Salemba yang sekarang bernama RS. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Antara tahun 1816 hingga 1942 pemerintah Hindia Belanda banyak mendirikan rumah sakit di Indonesia. Di Jakarta didirikanlah RS. PGI Cikini dan RS. ST Carollus. Di Bandung didirikan RS. ST. Boromeus dan RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu berdiri pula sekolah-sekolah perawat.

3. Zaman Penjajahan Jepang (1942 – 1945)

Pada masa penjajahan Jepang, perkembangan keperawatan di Indonesia mengalami kemunduran dan merupakan zaman kegelapan,Pada masa itu, tugas keperawatan tidak dilakukan oleh tenaga terdidik dan pemerintah Jepang mengambil alih pimpinan rumah sakit. Hal ini mengakibatkan terjangkitnya wabah penyakit karena ketiadaan persediaan obat.

4. Zaman Kemerdekaan

Empat tahun setelah kemerdekaan barulah dimulai pembangunan bidang kesehatan yaitu pendirian rumah sakit dan balai pengobatan. Pendirian sekolah keperawatan dimulai pertama kali tahun 1952 dengan didirikannya Sekolah Guru Perawat dan sekolah perawat setingkat SMP. Tahun 1962 didirikan Akademi Keperawatan milik Departemen Kesehatan di Jakarta bertujuan untuk menghasilkan Sarjana Muda Keperawatan. Tahun 1985 merupakan momentum kebangkitan keperawatan di Indonesia, karena Universitas Indonesia mendirikan PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) di Fakultas Kedokteran. Sepuluh tahun kemudian PSIK FK UI berubah menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan. Setelah itu berdirilah PSIK-PSIK baru seperti di Undip, UGM, UNHAS dll.