Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Adaptasi Psikologis - Pengertian, Tujuan dan Macam-Macamnya

Adaptasi Psikologis - Pengertian, Tujuan dan Macam-Macamnya
Adaptasi Psikologi - Pixabay.com

Seorang manusia sepanjang kehidupannya tidak akan terlepas dari masalah atau suatu kondisi yang mengakibatkan ketidaknyamanan. Kondisi tersebut menuntut tubuh untuk berupaya memulihkan dan mengembalikan ke kondisi yang seimbang.

Untuk pemahaman Anda bagaimana semua itu terjadi maka, pelajari secara seksama pokok-pokok bahasan yang ada pada topik ini. Anda akan mempelajari pengertian adaptasi, tujuan adaptasi, dan macam-macam adaptasi.

A. PENGERTIAN ADAPTASI

Adaptasi merupakan pertahanan yang didapat sejak lahir atau diperoleh karena belajar dari pengalaman untuk mengatasi stres. Cara mengatasi stres dapat berupa membatasi tempat terjadinya stres, mengurangi atau menetralisasi pengaruhnya.

Pengertian Adaptasi Menurut Para Ahli

Ada beberapa ahli yang menjelaskan pengertian adaptasi, di antaranya berikut ini:
  • W.A Gerungan, menjelaskan bahwa penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri). Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplasti), sedangkan mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri, sifatnya aktif (alloplasti).
  • Soeharto Herdjan, menjelaskan tentang penyesuaian diri sebagai suatu usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan.

Berdasarkan pengertian di atas, adaptasi merupakan usaha individu mengatasi atau menyesuaikan diri terhadap stres yang dialaminya. Adaptasi merupakan suatu cara penyesuaian yang berorientasi pada tugas (task oriented).

B. TUJUAN ADAPTASI

Adaptasi merupakan respon individu terhadap suatu perubahan yang ada di lingkungan yang dapat memengaruhi keutuhan tubuh. Secara umum tujuan adaptasi adalah agar individu mampu menghadapi tuntutan keadaan secara sadar, realistik, objektif, dan rasional.

C. MACAM-MACAM ADAPTASI

Adaptasi merupakan usaha untuk mempertahankan keseimbangan dari suatu keadaan tidak normal agar dapat kembali pada keadaan normal. Namun setiap orang akan berbeda dalam perilaku adaptif, ada yang dapat berjalan dengan cepat, namun ada pula yang memerlukan waktu lama, tergantung dari kematangan mental orang tersebut. Proses adaptasi dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

1. Adaptasi Fisiologis

Adaptasi yaitu respon tubuh terhadap stresor untuk mempertahankan fungsi kehidupan, yang dirangsang oleh faktor eksternal dan internal. Mekanisme fisiologis adaptasi berfungsi melalui umpan balik negatif, yaitu suatu proses mekanisme kontrol terhadap suatu keadaan abnormal seperti penurunan suhu tubuh dan membuat suatu respon adaptif seperti mulai menggigil untuk membangkitkan panas tubuh.

Mekanisme utama yang digunakan tubuh dalam menghadapi stresor dikontrol oleh medula oblongata, formasi retikuler, dan hipofisis.

Riset klasik yang telah dilakukan oleh Hans Selye telah mengidentifikasi dua respon fisiologis terhadap stres, seperti berikut ini.

a. LAS (Lokal Adaptasion Syndrome), adalah respon tubuh dengan menghasilkan banyak respon setempat terhadap stres, responnya berjangka pendek.

Karakteristik dari LAS adalah:
  1. Respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua sistem;
  2. Respon bersifat adaptif, diperlukan stresor untuk menstimulasikannya;
  3. Respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus;
  4. Respon bersifat restoratif atau penyesuaian.

b. GAS (General Adaptasion Syndrome), merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon yang terlibat di dalamnya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di beberapa buku teks, GAS sering disamakan dengan sistem neuroendokrin.

GAS diuraikan dalam tiga tahapan berikut:
  1. Fase alarm, melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stresor seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Aktivitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Respon ini bisa berlangsung dalam hitungan menit sampai jam. Bila stresor menetap, maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
  2. Fase resistance (melawan), individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stres. Bila teratasi, gejala stres menurun atau normal. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapan terakhir dari GAS yaitu fase kehabisan tenaga.
  3. Fase exhaustion (kelelahan), merupakan fase perpanjangan stres yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Pada tahap ini, cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap stresor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersebut.

2. Adaptasi Psikologis

Perilaku adaptasi psikologi membantu kemampuan seseorang untuk menghadapi stresor, diarahkan pada penatalaksanaan stres, yang didapatkan melalui pembelajaran dan pengalaman perilaku yang dapat diterima dan berhasil.

Perilaku adaptasi psikologi dapat konstruktif atau destruktif. Perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan untuk menyelesaikan konflik. Perilaku destruktif memengaruhi orientasi realitas, kemampuan pemecahan masalah, kepribadian dan situasi yang sangat berat, serta kemampuan untuk berfungsi.

Perilaku adaptasi psikologis juga disebut sebagai mekanisme koping. Mekanisme ini dapat berorientasi pada tugas, yang mencakup penggunaan teknik pemecahan masalah secara langsung untuk menghadapi ancaman atau dapat juga mekanisme pertahanan ego, yang tujuannya adalah untuk mengatur distres emosional, sehingga memberikan perlindungan individu terhadap ansietas dan stres.

Mekanisme pertahanan ego adalah metode koping terhadap stres, secara tidak langsung dibagi menjadi dua sebagai berikut.

a. Task oriented behavior, yaitu perilaku berorientasi tugas mencakup penggunaan kemampuan kognitif untuk mengurangi stres, memecahkan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi kebutuhan.

Tiga tipe umum perilaku yang berorientasi tugas sebagai berikut:
  1. Perilaku menyerang, yaitu tindakan untuk menyingkirkan atau mengatasi suatu stresor;
  2. Perilaku menarik diri, adalah menarik diri secara fisik atau emosional dari stresor;
  3. Perilaku kompromi, adalah mengubah metode yang biasa digunakan, mengganti tujuan atau menghilangkan kepuasan terhadap kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan yang lain atau untuk menghindari stres.

b. Ego dependen mechanism, yaitu perilaku tidak sadar yang memberikan perlindungan psikologis terhadap peristiwa yang menegangkan. Mekanisme ini sering kali diaktifkan oleh stresor jangka pendek dan biasanya tidak mengakibatkan gangguan psikiatrik.

Ada banyak mekanisme pertahanan ego, di antaranya berikut ini:
  1. Represi, yaitu menekan keinginan, impuls atau dorongan, dan pikiran yang tidak menyenangkan ke alam tidak sadar dengan cara tidak sadar.
  2. Supresi, yaitu menekan secara sadar pikiran, impuls, dan perasaan yang tidak menyenangkan ke alam tidak sadar.
  3. Reaksi formasi, yaitu tingkah laku berlawanan dengan perasaan yang mendasari tingkah laku tersebut.
  4. Kompensasi, tingkah laku menggantikan kekurangan dengan kelebihan yang lain, ke kompensasi langsung atau kompensasi tidak langsung.
  5. Rasionalisasi, yaitu berusaha memperlihatkan tingkah laku yang tampak sebagai pemikiran yang logis bukan karena keinginan yang tidak disadari.
  6. Substitusi, mengganti objek yang bernilai tinggi dengan objek yang kurang bernilai, tetapi dapat diterima oleh masyarakat.
  7. Restitusi, mengurangi rasa bersalah dengan tindakan pengganti.
  8. Displacement, yaitu memindahkan perasaan emosional dari objek sebenarnya kepada objek pengganti.
  9. Proyeksi, memproyeksikan keinginan, perasaan, impuls, pikiran pada orang lain, objek lain atau lingkungan untuk mengingkari.
  10. Simbolisasi, yaitu menggunakan objek untuk mewakili ide atau emosi yang menyakitkan untuk diekspresikan.
  11. Regresi, yaitu ego kembali pada tingkat perkembangan sebelumnya dalam pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya.
  12. Denial, mengingkari pikiran, keinginan, fakta, dan kesedihan.
  13. Sublimasi, memindahkan energi mental (dorongan) yang tidak dapat diterima kepada tujuan yang dapat diterima masyarakat.
  14. Reaksi konversi, yaitu memindahkan konflik mental pada gejala fisik.
  15. Introyeksi, yaitu mengambil alih semua sifat dari orang yang berarti menjadi bagian dari kepribadiannya sekarang.