Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengertian dan Hubungan Sensorik Motorik dengan Perilaku

Pengertian dan Hubungan Sensorik Motorik dengan Perilaku
Gambar: pixabay.com

Pengertian Proses Sensorik

Proses sensorik adalah kemampuan untuk memproses atau mengorganisasikan input sensorik yang diterima. Secara umum proses sensorik juga dapat diartikan sebagai proses masuknya rangsangan melalui alat indera ke otak (serebral), kemudian kembali melalui saraf motoris dan berakhir dengan perbuatan.

Berikut alat indera yang terlibat dalam proses sensoris:
  1. Rangsangan (stimulus): Cahaya → Penerima (Reseptor): Mata → Perasaan (Sensitivitas) Penglihatan
  2. Rangsangan (stimulus): Suara → Penerima (Reseptor): Telinga → Perasaan (Sensitivitas): Pendengaran
  3. Rangsangan (stimulus): Panas, dingin dan tekanan → Penerima (Reseptor): Kulit → Perasaan (Sensitivitas): Perabaan
  4. Rangsangan (stimulus): Gas → Penerima (Reseptor): Hidung → Perasaan (Sensitivitas): Penciuman

Proses sensoris diawali dengan pengamatan, yaitu gejala mengenal benda-benda di sekitar dengan menggunakan alat indera. Pengamatan dengan anggapan atau respon, memiliki perbedaan.

Pengamatan terjadi pada saat stimulus atau rangsangan mengenai indera dan menghasilkan kesadaran serta pikiran. Respon yaitu proses terjadinya kesan dari pikiran setelah stimulus tidak ada.

Proses awal dari pengamatan disebut dengan perhatian, sedangkan proses akhir disebut persepsi yang menyebabkan kita mempunyai pengertian tentang situasi sekarang atas dasar pengalaman yang lalu.

Pengamatan akan terjadi jika ada perhatian terhadap rangsangan dan ada stimulus yang mengenai alat indera. Kemudian, saraf sensoris meneruskan rangsangan ke otak dan individu menyadari adanya rangsangan.

Jadi, pengamatan melalui tiga proses, yaitu fisik (stimulus mengenai indera), fisiologis (stimulus diteruskan oleh saraf sensoris ke otak), dan psikologis (interpretasi terhadap stimulus yang diterima otak).

Persepsi merupakan bentuk pengalaman yang belum disadari sebelumnya, sehingga individu belum mampu membedakan dan melakukan pemisahan mengenai hal-hal yang dihayati. Apabila pengalaman tersebut telah disadari, maka individu sudah mampu membedakan dan melakukan pemisahan antara subjek dengan objek, yang disebut apersepsi.

Dalam pengamatan, yang diutamakan adalah kualitas objek bukan kuantitas objek. Secara psikologi, perbedaan benda yang diamati bersifat kualitatif, dengan tidak mengabaikan proses fisiologi dan secara psikologi sikap seseorang.

Berdasarkan hal tersebut, tahapan proses sensorik diawali dengan:
  1. Penerimaan input (registration), yaitu individu menyadari adanya input.
  2. Orientasi (orientation), yaitu tahapan individu untuk memperhatikan input yang masuk.
  3. Tahap berikutnya, kita mulai mengartikan input tersebut (interpretation).
  4. Organisasi (organization) yaitu tahapan otak untuk memutuskan apakah memperhatikan atau mengabaikan input ini.
  5. Tahap terakhir adalah eksekusi (execution), yaitu tindakan nyata yang dilakukan terhadap input sensorik tadi (Williamson dan Anzalone, 1996)

Proses sensoris akan berlangsung dengan baik atau tidak tergantung dari faktor-faktor berikut ini:
  1. Keadaan indera yang sehat dan sempurna akan memengaruhi kesempurnaan proses sensoris.
  2. Perhatian yang tertuju pada objeknya memudahkan persepsi, dan jika perhatian kurang, maka akan mengganggu konsentrasi sehingga proses sensoris tidak sempurna.
  3. Rangsangan yang sangat lemah ataupun sangat kuat akan mengganggu proses sensoris.
  4. Saraf dan pusat saraf dalam keadaan baik dan sehat.

Proses sensoris yang terjadi pada seseorang secara realitas, jika tidak berjalan dengan semestinya dapat menimbulkan gangguan mental yang tercermin dalam perilaku sebagai berikut:
  1. Osilasi (ayunan). Osilasi terjadi karena perhatian atau pengamatan yang mudah beralih sehingga menyebabkan kesan selalu berubah.
  2. Ilusi, terjadi karena kesalahan persepsi sehingga terjadi kesalahan kesan. Hal ini disebabkan:
    • Keadaan fisik, ada penyebab rangsangan yang keliru;
    • Kebiasaan mempercayai suatu objek yang serupa, misal: tebangan pohon pisang dikira mayat;
    • Harapan-harapan tertentu sehingga menimbulkan berbagai prasangka;
    • Tidak adanya analisis terhadap kesan yang diterima dan adanya kesan secara keseluruhan.
  3. Halusinasi, terjadi apabila individu mempunyai kesan tentang sesuatu, atau dikatakan sebagai bentuk kesalahan pengamatan tanpa obyek penginderaan dan tidak disertai stimulus yang adekuat.

Pengertian Proses Motorik

Motorik dapat diartikan sebagai suatu peristiwa laten yang meliputi keseluruhan proses-proses pengendalian dan pengaturan fungsi-fungsi organ tubuh, baik secara fisiologis maupun secara psikis yang menyebabkan terjadinya suatu gerakan.

Proses motorik terjadi atas kerja beberapa bagian tubuh, yaitu, saraf, otak dan otot. Ketiga unsur itu melaksanakan masing-masing peranannya secara “interaksi positif”, artinya unsur-unsur yang satu berkaitan, saling menunjang, saling melengkapi dengan unsur yang lainnya untuk mencapai kondisi motoris yang lebih sempurna keadaannya.

Gerakan motorik berupa gerakan involunteer (gerakan yang tidak dikendalikan oleh kehendak), gerakan volunteer (gerakan yang dikendalikan oleh kehendak), dan gerakan refleks. Gerakan refleks timbul sebagai akibat adanya stimulus reseptor di dalam tendon, jaringan otot, kulit, selaput lendir, mata ataupun telinga.

Terdapat berbagai jenis gerakan motorik, gerakan refleks, gerakan terprogram dan gerakan motorik halus, seperti, menulis, merangkai, melukis, berjinjit, serta gerakan motorik kasar, seperti, berjalan, merangkak, memukul, dan mengayunkan tangan.

Pada proses motorik terjadi peristiwa-peristiwa laten yang tidak dapat diamati yaitu: penerimaan informasi, pemberian makna terhadap informasi, pengolahan informasi, proses pengambilan keputusan, dan dorongan untuk melakukan berbagai bentuk aksi-aksi motorik.

Proses motorik merupakan keseluruhan yang terjadi pada tubuh manusia, yang meliputi proses pengendalian (koordinasi) dan proses pengaturan (kondisi fisik) yang dipengaruhi oleh faktor fisiologi dan faktor psikis untuk mendapatkan suatu gerakan yang baik.

Motorik berfungsi sebagai motor penggerak yang terdapat di dalam tubuh manusia. Motorik dan gerak tidaklah sama, namun tetap berhubungan. Persamaannya, setiap proses yang terjadi di dalam tubuh manusia menghasilkan gerak, sedangkan perbedaannya, motorik tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan, berbeda dengan gerak yang dapat dilihat dan diamati.

Proses motorik juga menghasilkan gerakan yang dinamakan gerakan motorik. Gerakan motorik adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku gerakan yang dilakukan oleh tubuh manusia. Pengendalian motorik biasanya digunakan dalam bidang ilmu psikologi, fisiologi, neurofisiologi maupun olah raga.

Pada tubuh manusia terdapat tiga komponen, utama yang berperan dalam proses gerakan sebagai berikut:
  1. Analisator adalah alat penerima rangsangan, seperti, mata (optik), akustik (pendengaran), taktil (alat perasa atau kulit), dan semua yang berhubungan dengan stimulus.
  2. Kinestetik adalah alat penerima rangsangan yang berbentuk saraf dan otot yang terdapat pada tubuh manusia.
  3. Vestibular adalah perasaan gerak yang terletak di dalam telinga.

Hubungan Sensorik dengan Perilaku

Proses sensoris menyebabkan manusia dapat mengenal alam di luar dirinya, yang berguna untuk mengembangkan dirinya sebagai makhluk sosial.

Akibat dari proses sensorik manusia dapat berperilaku dalam bentuk berikut ini:
  1. Fantasi, yaitu suatu daya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Menurut kejadiannya ada fantasi yang dipimpin oleh akal dan kemauan (disebut fantasi aktif) dan ada pula fantasi yang tidak disadari (fantasi pasif). Dengan fantasi, manusia dapat menciptakan sesuatu yang baru, bersimpati kepada sesama manusia meskipun jauh, mengikuti perjalanan sejarah (walau sudah lampau), dan menghilangkan perasaan duka ke dunia indah.
  2. Berpikir, yaitu gejala jiwa yang dapat menghubungkan pengetahuan yang di milki manusia. Berpikir merupakan proses “tanya jawab” antara pengetahuan yang dimiliki dengan apa yang baru, dengan menggunakan akal. Hubungan dapat terjadi sebagai sebab-akibat, hubungan tempat, hubungan perbandingan, dan hubungan waktu.
  3. Perasaan, yaitu pernyataan jiwa yang dapat mempertimbangkan dan mengukur sesuatu menurut rasa senang atau tidak senang, sedih-gembira, dan sebagainya. Berdasarkan perasaan, manusia dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan eukolia (orang yang selalu merasa gembira atau optimis) dan golongan diskolia (orang yang selalu merasa tidak senang, murung, dan pesimis.