Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengertian dan Perkembangan Biopsikologi Manusia

Pengertian dan Perkembangan Biopsikologi Manusia
Perkembangan Biopsikologi Manusia - pixabay.com

Berbicara tentang perilaku manusia, sebetulnya jika kita urai secara teoritis ternyata bukan suatu hal yang simpel. Perilaku manusia terjadi karena adanya stimulus yang diterima organisme sehingga muncul respon (tampak perilaku). Hal tersebut ditentukan oleh faktor biopsikologi dan sensorik motorik.

Pada topik ini dipaparkan tentang definisi dari biopsikologi, tahapan perkembangan biopsikologi dari mulai masa bayi sampai dengan masa tua. Selain itu, dipaparkan juga tentang definisi proses sensorik-motorik, bagaimana proses sensorik-motorik terjadi, faktor-faktor yang memengaruhi proses sensorik-motorik, dan hubungan proses sensorik-motorik dengan perilaku.

Pengertian Biopsikologi

Biopsikologi adalah ilmu aplikasi atau terapan biologi (ilmu hayati) dan psikologi (ilmu tentang perilaku manusia). Jadi biopsikologi merupakan pendekatan psikologi dari aspek biologi.

Pada konsep ini, ahli biopsikologi melihat bahwa sifat dan tingkah laku manusia juga mengalami pewarisan dari induk asal. Sebagai contoh, sifat pendiam, dominan atau pasif adalah ciri-ciri sifat alamiah manusia dan tidak dipelajari melalui pengalaman.

Berbicara tentang konsep biopsikologi, maka kita harus berpikir bahwa untuk mempelajari perkembangan manusia, kita harus membedakan dua hal yaitu proses pematangan dan proses belajar.

Proses pematangan berarti proses pertumbuhan yang menyangkut penyempurnaan fungsi-fungsi tubuh sehingga terjadi perubahan-perubahan perilaku, terlepas ada tidaknya proses belajar. Proses belajar berarti proses mengubah atau mempelajari perilaku melalui latihan, pengalaman, dan kontak dengan lingkungan.

Selain dua hal tersebut tentunya faktor pembawaan atau bakat juga memengaruhi perkembangan
manusia.

Tahapan Perkembangan Biopsikologi Manusia

Ada 4 tahap perkembangan biopsikologi pada manusia yang akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Masa Kanak-Kanak

Awal masa kehidupan manusia, dimulai saat manusia dilahirkan. Pada masa ini, manusia dalam keadaan sepenuhnya tidak berdaya dan harus menggantungkan diri pada orang lain, terutama ibunya.

Peranan orang tua terhadap perkembangan kepribadian anak pada masa ini penting sekali. Pengaruh orang tua dan lingkungan tidak berhenti di masa kanak-kanak saja, tetapi berlangsung terus, kadang sampai seumur hidup, khususnya pengaruh pengalaman yang menegangkan, menakutkan, dan membahayakan.

Pada usia 2 atau 3 tahun, seorang anak mulai melihat kemampuan tertentu yang dimilikinya, juga sikap terhadap orang lain pun berubah. Pada usia ini, di satu pihak membutuhkan orang tua, di lain pihak keakuannya mulai tumbuh dan ingin mengikuti kehendaknya sendiri.

Masa ini disebut negativistik pertama, sedangkan masa negativistik kedua timbul pada usia 5 – 6 tahun, saat anak mulai mengenal lingkungan yang lebih luas.

Masa negativistik kedua ditandai sikap temper tantrum yaitu perilaku mengamuk, menangis, menjerit, menyerang, dan menyakiti dirinya sendiri apabila ada keinginannya yang tidak terpenuhi.

Pada anak penting juga kontak sosial di luar rumah, seperti hubungan dengan teman sebaya di luar sekolah, yang lambat laun menghilangkan rasa malu-malunya.

Anak menjadi lebih berani dan belajar hidup dalam lingkungan ketika ia menjadi pusat perhatian. Ia harus cukup berani mempertahankan haknya, sebaliknya ia harus mengakui hak orang lain. Ia pun dituntut harus bekerja sama dengan orang lain, dan tingkah lakunya mulai diatur norma-norma.

2. Masa Remaja

Masa ini merupakan masa transisi. Individu dihadapkan pada situasi yang membingungkan, di satu pihak ia masih kanak-kanak, tetapi di pihak lain ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Hal ini sering kali menimbulkan perilaku-perilaku aneh, canggung dan kalau tidak terkontrol bisa menjadi kenakalan. Sebagai upaya mencari identitas dirinya sendiri, seorang remaja sering membantah orang tuanya, karena ia sudah mempunyai pendapat sendiri, cita-cita sendiri, serta nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya.

Oleh karena itu, masa remaja disebut masa negativistik ketiga. Persoalan lain yang mengganggu para remaja biasanya ditandai oleh kematangan seksual. Dalam arti organ-organ seksualnya sudah dapat berfungsi untuk mengembangkan keturunan.

Perubahan sekunder pun terjadi. Badan cepat bertambah tinggi dan mulai tumbuh rambut pubis. Pada pria suara membesar, timbul jakun, dan otot-otot mulai tumbuh. Pada wanita, dada dan pinggul membesar. Perkembangan yang cepat menuntut penyesuaian perilaku yang cepat pula, tetapi umumnya penyesuaian perilaku tidak secepat pertumbuhannya.

Timbul masalah dengan matangnya fungsi seksual, yaitu, timbul dorongan dan keinginan untuk pemuasan seksual, tetapi budaya tidak mengizinkan hubungan seksual di luar perkawinan.

Perkawinan menuntut persyaratan yang berat, yang bisa terpenuhi setelah masa remaja. Hal ini menyebabkan remaja mencari pemuasan dengan mengkhayal dan membaca buku porno.

Menghadapi remaja, orang tua harus bijak dengan sedikit-demi sedikit melepas kontrolnya, agar anak benar-benar dapat mandiri pada saat dewasa. Jika orang tua tetap mempertahankan otoritasnya, meskipun anak sudah dewasa, maka si anak akan tetap tergantung pada orang tua, tidak pernah menjadi dewasa sepenuhnya dalam kepribadian.

Stolz membagi perkembangan pada masa remaja menjadi empat tingkat, sebagai berikut:
  1. Masa Pra puber, berlangsung satu atau dua tahun sebelum masa remaja sesungguhnya. Anak menjadi gemuk, pertumbuhan tinggi badan terhambat sementara.
  2. Masa puber atau masa remaja, berlangsung 2.5 s/d 3.5 tahun. Perubahan sangat nyata dan cepat. Anak perempuan lebih cepat memasuki masa ini dari pada laki-laki.
  3. Masa post puber, pertumbuhan cepat sudah berlalu, meskipun masih ada perubahanperubahan pada beberapa bagian badan.
  4. Masa akhir puber, melanjutkan perkembangan sampai mencapai tanda-tanda kedewasaan.

Keempat tahap tersebut berlangsung selama 9 sampai 10 tahun.

3. Masa Dewasa

Memasuki alam kedewasaan, seorang laki-laki harus mempersiapkan diri untuk dapat hidup dan menghidupi keluarganya. Ia harus mulai bekerja untuk mencari nafkah dan membina karier. Pada kaum perempuan harus mempersiapkan diri untuk berumah tangga, dituntut menjalankan peran sebagai istri dan ibu.

Umumnya dalam kehidupan bermasyarakat, peran wanita dan laki-laki berbeda. Lakilaki mencari nafkah, agresif dan dominan, sedangkan wanita mengurus rumah tangga, pasif dan lebih submisif. Tingkah lakunya pun berbeda. Laki-laki lebih kasar dibanding wanita.

Perbedaan tersebut tidak semata disebabkan faktor biologis tetapi banyak ditentukan oleh faktor kebudayaan.

Sesuai kondisi kebudayaan dan lingkungan, pada beberapa orang tertentu, baik laki-laki maupun perempuan, terdapat gejala khusus pada waktu usia 40 tahun tercapai atau terlewati.

Pada beberapa laki-laki terjadi nampak gejala seperti perilaku remaja kembali (senang bersolek, jatuh cinta lagi, pemarah, emosional), orang awan menyebutnya puber kedua.

Pada wanita kelihatan depresi (murung), cepat marah, biasanya diikuti perasaan cemas atau khawatir kehilangan kasih sayang suami dan anaknya yang mulai dewasa, serta kehilangan identitas kewanitaan (menopause). Oleh karena itu, usia 40 tahunan sering disebut usia pertengahan atau setengah baya, yang pada sebagian orang merupakan krisis.

4. Masa Tua

Problem utama adalah rasa kesepian dan kesendirian. Mereka sudah bisa melewatkan kesibukan dalam pekerjaan yang merupakan pegangan hidup dan dapat memberikan rasa aman serta rasa harga diri.

Pada saat pensiun, hilang kesibukan, anak-anak mulai menikah dan meninggalkan rumah. Badan mulai lemah dan tidak memungkinkan bepergian jauh. Hal ini menyebabkan semangat mulai menurun, mudah dihinggapi penyakit dan mengalami kemunduran mental.

Hal ini disebabkan kemunduran fungsi otak, sehingga sering lupa, daya konsentrasi berkurang, biasanya disebut kemunduran senile. Pada saat pensiun umumnya masih cukup kuat, sehingga harus diusahakan agar kesibukannya tidak terhenti dengan tiba-tiba.

Beberapa cara untuk menghindari penghentian kegiatan secara mendadak adalah berikut ini.
  • Memberikan masa bebas tugas sebelum pensiun
  • Memberikan pekerjaan yang lebih ringan sebelum pensiun
  • Mencari pekerjaan lain dalam masa pensiun
  • Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat kegemaran dalam masa pensiun.