Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Perkembangan Kepribadian Manusia

Perkembangan Kepribadian Manusia

Kita sering mendengar bahkan sering menyebutkan kata kepribadian, akan tetapi apakah yang dimaksud itu sama secara konsep teori?

Pada topik ini, kita akan mempelajari tentang perkembangan kepribadian manusia yang di dalamnya dibahas mulai dari pengertian kepribadian, perkembangan kepribadian, struktur kepribadian, tipologi kepribadian, faktor-faktor yang memengaruhi kepribadian, pentingnya perawat mengetahui kepribadian orang lain, dan kepribadian perawat.

Sebagai seorang perawat tentunya kita perlu tahu dan paham akan kepribadian orang lain untuk memahami respon klien, pasien atau keluarganya.

Selain itu, dalam memberikan pelayanan kesehatan atau keperawatan sebaiknya bekerja secara tim, sehingga pemahaman akan kepribadian teman sejawat sangatlah penting. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi atau menjadi perawat yang memiliki kepribadian yang baik, sehingga klien, pasien, dan keluarganya begitu juga teman sejawat akan nyaman pada saat berhubungan dengan kita.

Pengertian Kepribadian


Istilah kepribadian merupakan sesuatu yang abstrak. Kepribadian atau personality, berasal dari kata personare yang berarti topeng. Selanjutnya istilah ini berubah menjadi gambaran sosial atau peran tertentu pada diri individu.

Dalam pengertian popular, kepribadian dibagi dua kategori, sebagai berikut.
  1. Keterampilan atau kecakapan sosial, misalnya, keras dan kaku sehingga tidak terjalin hubungan dengan lingkungannya.
  2. Ciri tertentu yang dimiliki individu, misalnya, pemalu, penakut, periang, agresif, atau penurut.

Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli

Coba Anda pahami beberapa pengertian kepribadian menurut para ahli dalam Sunaryo (2004) berikut ini.
  • Allport berpendapat bahwa kepribadian adalah suatu organisasi psichophysis yang dinamis dari seseorang yang menyebabkan Ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  • Koentjaraningrat, menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang.
  • Theodore R. Newcom, berpendapat bahwa kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah suatu organisasi psichophysis yang unik (khas) pada diri setiap individu yang ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan, sehingga menjadi penentu atau memengaruhi tingkah laku. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang dimiliki seseorang apabila berhubungan dengan orang lain.

Perkembangan Kepribadian

Pada perkembangannya, terjadi dinamisasi kepribadian, karena adanya konsentrasi energi (lapar, haus, dan sebagainya) yang disebut motif. Motif merupakan taraf ketegangan tertentu dalam jaringan yang tidak mempunyai awal atau akhir, tapi dapat meningkat atau menurun seiring perubahan energi. Hal ini berkaitan dengan faktor kepuasan dan ketidakpuasan atau kesenangan dan ketidaksenangan.

Dinamisasi kepribadian dapat stabil dan tegar seiring perkembangan individu, sehingga mampu melawan tekanan-tekanan lingkungan atau tekanan tersebut berpengaruh terhadap individu dalam cara yang telah diatur terlebih dahulu, terapi psikodinamika ini dapat terganggu (goyah) apabila dunia luar tidak menyajikan tujuan (obyek) yang serasi atau menimbulkan pengalaman traumatis, kecuali pada orang yang memiliki pribadi integral.

Perkembangan kepribadian menurut Gardner Murfy 

Terjadi dalam tiga fase (Purwanto,1998) berikut ini.
  1. Fase keseluruhan tanpa deferensiasi. Pada fase ini, individu berbuat berlebih-lebihan terhadap keseluruhan situasi, ini bisa dilihat pada masa bayi.
  2. Fase diferensiasi. Pada fase ini, fungsi-fungsi khusus mengalami diferensiasi dan muncul dari keseluruhan.
  3. Fase integrase. Pada fase ini, fungsi yang sudah mengalami diferensiasi diintegrasikan dalam unitas yang berkoordinasi dan terorganisasi.

Ketiga fase tersebut tidak dapat dibatasi dengan tajam, karena overlapping (tumpang tindih) satu sama lain, juga dapat maju (progresif), dan dapat juga mundur (regresi).

Perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh pembawaan atau bakat dan lingkungan. Proses belajar merupakan bentuk perkembangan, karena terjadi interaksi antara organisme atau individu dengan lingkungan. Hasil interaksi akan terbentuk koneksi antara kebutuhan dan respon dengan tingkah laku yang mengubah tingkah laku tertentu.

Koneksi terjadi melalui dua proses, Purwanto (1998), yaitu kanalisasi dan persyaratan yang memberi penjelasan tentang pola tingkah laku yang dipelajari, sebagai berikut.
  1. Kanalisasi adalah suatu proses yang memberi jalan tersalurnya motif atau konsentrasi energi tingkah laku, misalnya seseorang telah belajar mengerjakan sesuatu yang langsung memberi kepuasan. Kekuatan kanalisasi dapat diperhitungkan dan tergantung pada kekuatan kebutuhan, intensitas kepuasan, taraf atau fase perkembangan tertentu, dan frekuensi kepuasan.
  2. Persyaratan, memberi persiapan pada individu tentang kepuasan yang akan dialami.

Bisa dikatakan sebagai jalan untuk mendapatkan kepuasan. Fungsi persyaratan berfungsi menimbulkan tegangan tingkah laku dalam keadaan laten.

Kepribadian dipengaruhi oleh faktor sociocultural (masyarakat)

Selain faktor pembawaan, perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh faktor sociocultural (masyarakat), yang terjadi melalui empat cara, seperti berikut ini.
  1. Masyarakat mempunyai suatu rangkaian tanda (kode) yang menjadi persyaratan anak-anak yang hidup di dalamnya.
  2. Melalui berbagai lembaga (terutama keluarga) menunjukkan bentuk kanalisasi, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan.
  3. Hadiah dan hukuman dapat mengubah dorongan-dorongan impulsif menjadi dorongan yang dapat diterima masyarakat. Dorongan yang ditekan tidak dapat hilang. Jadi, untuk sementara hilang tapi pada suatu saat dapat muncul kembali.
  4. Masyarakat dapat memengaruhi proses-proses perceptual dan kognitif anggota-anggotanya dengan sedemikian rupa.


Dengan demikian, suatu perkembangan kepribadian adalah perubahan jiwa atau perilaku seseorang yang secara terus menerus mengalami perkembangan atau menjadikan lebih sempurna di dalam kehidupan individu sesuai dengan berjalannya waktu. Dengan demikian akan berkembang secara bertahap.

Perkembangan Kepribadian Menurut Erikson

Banyak ahli yang mengemukakan tahapan perkembangan kepribadian, tetapi untuk memudahkan pemahaman, hanya dipaparkan perkembangan kepribadian menurut Erikson yang kecenderungannya bipolar, yaitu terjadi pada masa-masa tertentu sebagai berikut.
  1. Masa bayi (infancy), ditandai adanya kecenderungan trust - mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing tidak akan dipercayainya. Oleh karena itu, kadang-kadang bayi menangis bila dipangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga pada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing, dan sebagainya. Bayi seringkali menangis jika menghadapi situasi-situasi tersebut.
  2. Masa kanak-kanak awal (early childhood), ditandai adanya kecenderungan autonomy, shame, dan doubt. Pada masa ini, sampai batas-batas tertentu, anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, dan minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia juga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
  3. Masa prasekolah (preschool age), ditandai adanya kecenderungan initiative-guilty. Pada masa ini, anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas, adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisiatif atau berbuat.
  4. Masa Sekolah (school age), ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengetahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain, karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
  5. Masa Remaja (adolescence), ditandai adanya kecenderungan identity-identity confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan yang didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya. Dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya, mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
  6. Masa Dewasa Awal (young adulthood), ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini, timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
  7. Masa Dewasa (adulthood), ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya -masa dewasa- pada tahap ini, individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal-hal tertentu Ia mengalami hambatan.
  8. Masa hari tua (senescence), ditandai adanya kecenderungan ego integrity-despair. Pada masa ini, individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin Ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya, tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acap kali menghantuinya.

Struktur Kepribadian

Struktur kepribadian menurut teori psikoanalitik terdiri atas id, ego, dan super ego. Id adalah sistem kepribadian yang asli, berisi impuls agresif dan libinal, merupakan aspek biologi dari kepribadian (diwariskan) dan berkaitan dengan aspek jasmaniah.

Id merupakan dunia batin (subyektif) manusia, tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia luar. Id berfungsi menghindari ketidaksenangan, sehingga disebut pleasure principle. Id menghilangkan ketidaksenangan melalui refleks (misalnya bersin, batuk, berkedip), dan proses primer (misalnya pada saat lapar membayangkan makanan).

Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, yang bekerja menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai super ego. Ego merupakan aspek psikologis kepribadian yang timbul karena adanya kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia nyata (realitas). Sistem kerja ego berpegang pada prinsip kenyataan dan bekerja menurut proses sekunder, yaitu proses berpikir realistis.

Super ego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena Ia merupakan filter dari sensor baik-buruk, salah-benar, boleh-tidaknya sesuatu dilakukan oleh dorongan ego. Super ego merupakan aspek sosiologis dan moral kepribadian, karena lebih mengejar kesempurnaan bukan kenikmatan. Super ego berisi dua hal yaitu concientia (menghukum orang dengan rasa berdosa) dan ich ideal (memberi hadiah dengan rasa bangga terhadap diri).

Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodok bahwa manusia dilihat sebagai sistem energi. Dinamika kepribadian itu sendiri terdiri atas cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego, dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu di antara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya. Jadi, kepribadian manusia sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan (libido).

Tipologi Kepribadian

Tipologi adalah usaha untuk menggambarkan kepribadian manusia dengan melakukan kategorisasi dan penyederhanaan terhadap berbagai kemungkinan kombinasi kepribadian. Meskipun demikian, kita tetap berpegang pada pemahaman bahwa setiap manusia itu unik. Tipologi kepribadian digunakan untuk membantu memahami kepribadian diri sendiri maupun orang lain.

Banyak teori dan ahli yang membahas tentang tipologi manusia. Dalam Sunaryo (2004) di bawah ini dipaparkan dua pandangan ahli yaitu tipologi C.G Jung dan Hipocrates-Galenus sebagai berikut.

1. Tipologi C.G Jung 

Menggolongkan kepribadian manusia ke dalam tiga golongan sebagai berikut.
  • Introvert, yaitu tipe kepribadian yang minatnya lebih mengarah ke dalam pikiran dan pengalaman sendiri. Jadi, tindakannya lebih dipengaruhi oleh dunia dari dalam dirinya sendiri. Orang dengan tipe kepribadian ini mempunyai sifat tertutup, banyak fantasi, tidak tahan kritik, mudah tersinggung, sukar bergaul, sukar dimengerti orang lain, dan suka membesar-besarkan kesalahannya.
  • Extrovert, yaitu tipe kepribadian yang tindakannya lebih banyak dipengaruhi oleh dunia luar. Orang dengan kepribadian ini, bersifat terbuka, lincah dalam pergaulan, periang, ramah, ekspresi emosinya spontan, kebal terhadap kritik, tidak begitu merasakan kegagalan ,serta tidak banyak mengadakan analisis dan kritik diri sendiri.
  • Ambivert, tipe kepribadian seseorang yang memiliki kedua tipe dasar dan sulit untuk memasukkan ke dalam salah satu tipe.

2. Hipocrates-Galenus

Teori yang paling popular karena merupakan pengembangan dari teori Empedokretus. Teori ini membagi kepribadian manusia berdasarkan empat macam cairan tubuh yang sangat penting di dalam tubuh manusia, yaitu, sifat kering yang terdapat dalam chole (empedu kuning), sifat basah yang ada di dalam melanchole (empedu hitam), sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir), dan sifat panas yang terdapat dalam sanguis (darah).

Berikut penjelasan dari ke empat sifat manusia menurut Hipocrates-Galenus tersebut.
  • Tipe kepribadian koleris. Cairan yang lebih dominan dalam tubuh yaitu cairan chole. Orang yang koleris adalah orang yang memiliki tipe kepribadian yang khas seperti, hidup penuh semangat, keras, hatinya mudah terbakar, daya juang besar, optimistis, garang, mudah marah, pengatur, penguasa, pendendam, dan serius.
  • Tipe kepribadian melankolis. Cairan yang lebih dominan dalam tubuh yaitu cairan melanchole. Orang yang melankolis adalah orang yang memiliki tipe kepribadian yang khas seperti mudah kecewa, daya juang kecil, muram, pesimistis, penakut, dan kaku.
  • Tipe kepribadian plegmatis. Cairan yang lebih dominan dalam tubuh yaitu cairan phlegma. Orang yang plegmatis adalah orang yang memiliki tipe kepribadian yang khas seperti, tidak suka terburu-buru, tenang, tidak mudah dipengaruhi, setia, dingin, santai, dan sabar.
  • Tipe kepribadian sanguinis. Cairan yang lebih dominan dalam tubuh yaitu cairan sanguis. Orang yang sanguinis adalah orang yang memiliki tipe kepribadian yang khas seperti, hidup mudah berganti haluan, ramah, mudah bergaul, lincah, periang, mudah senyum, dan tidak mudah putus asa.

Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Secara umum, perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh lima faktor, sebagai berikut (Ahmadi, Abu., 2009).
  1. Biologis (Heredity) ↠ Aspek biologis memengaruhi kehidupan manusia dan setiap manusia mempunyai kondisi biologis yang unik, berbeda dari orang lain. Artinya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang mempunyai karakteristik fisik yang sama persis dengan orang lain, bahkan anak kembar sekalipun. Faktor keturunan berpengaruh terhadap keramah-tamahan, perilaku kompulsif (terpaksa dilakukan), dan kemudahan dalam membentuk kepemimpinan, pengendalian diri, dorongan hati, sikap, dan minat.
  2. Lingkungan Alam (Natural Environment) ↠ Perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam menyebabkan manusia harus menyesuaikan diri terhadap alam. Melalui penyesuaian diri tersebut, maka dengan sendirinya pola perilaku masyarakat dan kebudayaannya pun dipengaruhi oleh alam.
  3. Sosial (Social Heritage) atau Kebudayaan ↠ Kita tahu bahwa antara manusia, alam, dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling memengaruhi. Manusia berusaha untuk mengubah alam agar sesuai dengan kebudayaannya guna memenuhi kebutuhan hidup.
  4. Pengalaman Kelompok Manusia (Group Experiences) ↠ Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kelompoknya. Kelompok manusia, sadar atau tidak telah memengaruhi anggota-anggotanya.
  5. Pengalaman Unik (Unique Experience) ↠ Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang lain, walaupun orang itu berasal dari keluarga yang sama, dibesarkan dalam kebudayaan yang sama, serta mempunyai lingkungan fisik yang sama pula. Mengapa demikian? Walaupun mereka pernah mendapatkan pengalaman yang serupa dalam beberapa hal, namun berbeda dalam beberapa hal lainnya. Mengingat pengalaman setiap orang adalah unik dan tidak ada pengalaman siapa pun yang secara sempurna menyamainya.

Kepribadian Perawat

Beberapa ciri khas yang perlu dimiliki seorang perawat menurut Sunaryo (2004) adalah sebagai berikut.
  1. Keadaan fisik dan kesehatan ↠ Pekerjaan perawat penuh dinamika, sehingga kondisi badan harus baik, sehat dan mempunyai energi yang banyak. Bila perawat kurang stamina, kurang ketahanan fisik, maka akan mudah patah semangat apabila mengalami tekanan fisik, mental ataupun ketegangan emosi.
  2. Penampilan menarik ↠ Hal ini mengambil peranan dalam mengubah suasana hati pasien yang sedang sedih, tetapi harus diingat penampilan menarik bukan berarti harus bermake up atau dandan berlebihan. Yang diharapkan, perawat dengan penampilan bersih dan segar dalam melaksanakan tugasnya disertai sikap serta suara yang lembut dan menyenangkan.
  3. Kejujuran ↠ Sifat ini penting dimiliki karena setiap orang termasuk pasien dan keluarganya ingin kepastian akan sikap jujur orang lain terhadapnya. Harus ditanamkan bahwa sikap perawat didasarkan pada pengabdian yang murni untuk kesejahteraan manusia, bukan untuk mendapatkan pahala atau hadiah dengan sikap berpura-pura.
  4. Keriangan ↠ Seorang perawat sebaiknya dapat menghadapi situasi yang penuh kesulitan dan kekecewaan dan tidak terlihat oleh orang lain. Seorang perawat sedapat mungkin tetap senyum, memberi salam dengan ramah serta memiliki sikap umum yang optimis dan percaya diri.
  5. Berjiwa sportif ↠ Dalam arti mau mengakui kekurangan diri sendiri, jujur, dan tetap berusaha memperbaiki kekurangan dan dapat mengikuti teknik perawatan yang ternyata lebih efektif.
  6. Rendah hati ↠ Seorang perawat harus menyadari kekuatan dan batas-batas kemampuannya dan yakin keberhasilannya dalam batas kemampuan tersebut. Seorang perawat harus dapat meninggalkan kesan pada orang lain melalui perbuatan dan tindakannya, dan bukan karena ucapan memuji diri sendiri.
  7. Murah hati ↠ Yang diwujudkan dalam bentuk pemberian pertolongan dan bantuan nyata, tapi harus diingat jangan sampai pasien memanfaatkan perawat dengan minta bantuan atau pertolongan yang berlebihan, atau menjadi ketergantungan kepada perawat. Perawat memberikan pertolongan kepada pasien, merupakan bentuk kewajiban, tugas dan tanggung jawab, bukan mengharapkan hadiah atau imbalan.
  8. Ramah, simpati, dan kerja sama ↠ Ketiga hal tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk keberhasilan dan kebahagiaan hidup sebagai individu dan makhluk sosial, yang senantiasa bekerja sama dengan sikap kooperatif disertai kejujuran.
  9. Dapat dipercaya ↠ Perawat harus percaya diri, dapat dipercaya ketulusan hatinya, jujur dan memiliki itikad baik dalam memberikan pertolongan dan bantuan melalui asuhan keperawatan.
  10. Loyalitas ↠ Perawat harus mampu menunjukkan loyalitas terhadap pimpinan atau rekan kerja, agar memperlancar pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawabnya.
  11. Sikap sopan dan santun ↠ Ini merupakan cerminan bahwa perawat mengetahui etika dan etiket pergaulan, serta memahami nilai-nilai kebudayaan yang hidup dalam masyarakat.