Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Asuhan Keperawatan (Askep) Pasien dengan Trauma Mata


Selamat bertemu kembali dengan BLOGPERAWAT.NET Sekarang kita akan belajar tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan trauma mata. Kira-kira Anda mengetahui tentang definisi trauma mata? Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Pengertian Trauma Mata

Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata, dan dapat juga sebagai kasus polisi. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata.

2. Penyebab Trauma Mata

Nah menurut penyebabnya trauma mata terbagi atas:
  • Trauma tumpul atau kontusio yang dapat di sebabkan oleh benda tumpul, benturan atau ledakan
  • Trauma tajam, yang mungkin perforatif atau non perforatif, dapat juga di sertai dengan adanya korpus alienum (benda asing) atau tidak. Korpus alienum dapat terjadi di intraokuler (didalam mata) maupun ekstraokuler (diluar mata).
  • Trauma termis oleh jilatan api atau kontak dengan benda panas.
  • Trauma khemis karena kontak dengan benda yang bersifat asam atau basa.
  • Trauma listrik oleh karena listrik yang bertegangan rendah maupun yang bertegangan tinggi.
  • Trauma barometrik, misalnya pada pesawat terbang atau menyelam.
  • Trauma radiasi oleh gelombang pendek atau partikel-partikel atom (proton dan neutron).

3. Gejala Trauma Mata

Trauma mata dapat menimbulkan beberapa akibat pada mata, yaitu:
  • Hematoma palpebra → Adanya hematoma pada satu mata merupakan keadaan yang ringan, tetapi bila terjadi pada kedua mata, hati-hati kemungkinan adanya fraktur basis kranii, Penanganan: kompres dingin 3 kali sehari.
  • Ruptura kornea → Kornea pecah, bila daerah yang pecah besar dapat terjadi prolapsus iris, merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan operasi segera.
  • Ruptura membran descement → Di tandai dengan adanya garis kekeruhan yang berkelok-kelok pada kornea, yang sebenarnya adalah lipatan membran descement, visus sangat menurun dan kornea sulit menjadi jernih kembali, maka penanganannya dapat diberikan obat-obatan yang membantu menghentikan perdarahan dan tetes mata kortisol.
  • Hifema → Perdarahan dalam kamera okuli anterior, yang berasal dari pembuluh darah iris atau korpus siliaris, biasanya di sertai odema kornea dan endapan di bawah kornea, hal ini merupakan suatu keadaan yang serius.
    • Hifema terbagi: 1) Hifema primer, timbul segera oleh karena adanya trauma. 2) Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.
    • Hifema ringan tidak mengganggu visus, tetapi apabila sangat hebat akan mempengaruhi visus karena adanya peningkatan tekanan intra okuler.
    • Penanganan: istirahat, dan apabila karena peningkatan tekanan intra okuli yang di sertai dengan glaukoma maka perlu adanya operasi segera dengan dilakukannya parasintesis yaitu membuat insisi pada kornea dekat limbus, kemudian di beri salep mata antibiotik dan di tutup dengan verband.
    • Komplikasi hifema: 1) Galukoma sekunder, di sebabkan oleh adanya penyumbatan oleh darah pada sudut kamera okuli anterior. 2) Inhibisi kornea, yaitu masuknya darah yang terurai ke dalam lamel-lamel kornea, sehingga kornea menjadi berwarna kuning tengguli dan visus sangat menurun. Penanganan terhadap imhibisi kornea: tindakan pembedahan yaitu keratoplastik.
  • Iridoparese-iridoplegia → Adanya kelumpuhan pada otot pupil sehingga terjadi midriasis. Penanganan: berikan pilokarpin, apabila dengan pemberian yang sampai berbulan-bulan tetap midriasis maka telah terjadi iridoplegia yang iriversibel.
  • Iridodialisis → Iris yang pada suatu tempat lepas dari pangkalnya, pupil menjadi tdak bula dan di sebut dengan pseudopupil. Penanganan: bila tidak ada keluhan tidak perlu di lakukan apa-apa, tetapi jika ada maka perlu adanya operasi untuk memfixasi iris yang lepas.
  • Irideremia → Keadaan di mana iris lepas secara keseluruhan. Penanganan secara konservatif adalah dengan memberikan kacamata untuk mengurangi silau.
  • Subluksasio lentis - luksasio lentis → Luksasio lentis yang terjadi bisa ke depan atau ke belakang. Jika ke depan akan menimbulkan glaukoma dan jika ke belakang akan menimbulkan afakia. Bila terjadi gaukoma maka perlu operasi untuk ekstraksi lensa dan jika terjadi afakia pengobatan di lakukan secara konservatif.
  • Hemoragia pada korpus vitreum → Perdarahan yang terjadi berasal dari korpus siliare, karena bnayak terdapat eritrosit pada korpus siliare, visus akan sangat menurun.
  • Glaukoma → Di sebabkan oleh kare na robekan trabekulum pada sudut kamera okuli anterior, yang di sebut “traumatic angle” yang menyebabkan gangguan aliran akquos humour. Penanganan di lakukan secara operatif.
  • Ruptura sklera → Menimbulkan penurunan teknan intra okuler. Perlu adanya tindakan operatif segera.
  • Ruptura retina → Menyebabkan timbulnya ablasio retina sehingga menyebabkan kebutaan, harus di lakukan operasi.

4. Asuhan Keperawatan

Setelah Anda mengetahui konsep trauma mata, maka pengkajian keperawatan terdiri dari:
  • Aktivitas dan istirahat: perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/hobi di karenakan adanya penurunan daya/ kemampuan penglihatan.
  • Makan dan minum: mungkin juga terjadi mual dan muntah akibat dari peningkatan tekanan intraokuler.
  • Neurosensori: adanya distorsi penglihatan, silau bila terkena cahaya, kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap/ memfokuskan penglihatan). Pandangan kabur, halo, penggunaan kacamata tidak membantu penglihatan. Peningkatan pengeluaran air mata.
  • Nyeri dan kenyamanan: rasa tidak nyaman pada mata, kelelahan mata. Tiba-tiba dan nyeri yang menetap di sekitar mata, nyeri kepala.
  • Keamanan: penyakit mata, trauma, diabetes, tumor, kesulitan/ penglihatan menurun.
Pemeriksaan penunjang dengan kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina. Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma.

Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12- 25 mmHg). Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.

Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

Setelah anda menyusun diagnosa keperawatan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan intervensi atau rencana tindakan keperawatan:

a. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (tindakan pembedahan)

Tujuan: Tidak terjadi infeksi

Rencana:
  • Diskusikan dan ajarkan pada pasien pentingnya cuci tangan yang bersih sebelum menyentuh mata.
  • Gunakan dan demonstrasikan tehnik yang benar tentang cara perawatan dengan kapas yang steril serta dari arah yang dalam memutar kemudian keluar.
  • Jelaskan pentingnya untuk tidak menyentuh mata/ menggosok mata.
  • Diskusikan dan observasi tanda-tanda dari infeksi (merah, darinase yang purulen).
  • Kolaborasi dalam pemberian obat-obat antibiotik sesuai indikasi.
b. Penurunan sensori perceptual (penglihatan) berhubungan dengan adanya trauma, penggunaan alat bantu terapi.

Tujuan: Dengan penurunan penglihatan tidak mengalami perubahan/ injuri.

Rencana:
  • Kaji keadaan penglihatan dari kedua mata.
  • Observasi tanda-tanda dari adanya disorientasi.
  • Gunakan alat yang menggunakan sedikit cahaya (mencegah terjadinya pandangan yang kabur, iritasi mata).
  • Anjurkan pada pasien untuk melakukan aktivitas yang bervariasi (mendengarkan radio, berbincang-bincang).
  • Bantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Anjurkan pasien untuk mencoba melakukan kegiatan secara mandiri.
c. Kurangnya pengetahuan (perawatan) berhubungan dengan keterbatasan informasi.

Tujuan: Pasien dan keluarga memiliki pengetahuan yang memadai tentang perawatan.

Rencana:
  • Jelaskan kembali tentang keadaan pasien, rencana perawatan dan prosedur tindakan yang akan di lakukan.
  • Jelaskan pada pasien agar tidak menggunakan obat tetes mata secara sembarangan.
  • Anjurkan pada pasien gara tidak membaca terlebih dahulu, “mengedan”, “buang ingus”, bersin atau merokok.
  • Anjurkan pada pasien untuk tidur dengan menggunakan punggung, mengatur cahaya lampu tidur.
  • Observasi kemampuan pasien dalam melakukan tindakan sesuai dengan anjuran petugas.

Evaluasi Keperawatan

Langkah yang terakhir dalam mempelajari asuhan keperawatan pada pasien trauma mata adalah evaluasi, dimana evaluasi merupakan penilaian efektifitas terhadap intervensi keperawatan sehubungan dengan keluhan pasien dan pemeriksaan hasil laboratorium menunjukkan hasil yang normal. Komplikasi tidak ada yang meliputi resiko penurunan visus atau kebutaan. Dalam evaluasi, perawat melakukan pengkajian ulang tentang keluhan pada mata. Evaluasi menggunakan observasi, mengukur dan wawancara dengan pasien.