Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gagal Jantung


Pengertian Gagal Jantung

Gagal jantung diartikan sebagai ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen sehingga metabolisme mengalami penurunan.

Gagal jantung secara garis besar di bagi menjadi 2 yaitu gagal jantung akut dan gagal jantung kronik. Untuk gagal jantung kronik di lapangan banyak mempunyai persamaan istilah yaitu gagal jantung kongestif, chronic heart failur, decompensasi cordis.

Apa yang membedakan penyakit gagal jantung akut dengan gagal jantung kronik?

Gagal jantung dibedakan berdasarkan lama/waktunya pasien mengalami keluhan gagal jantung, dikatakan gagal jantung kronik apabila pasien mengalami gangguan lebih dari 6 bulan.

Penyebab Infark Gagal Jantung

Sekarang kita akan menjelaskan tentang penyebab gagal jantung. Gagal jantung disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
  • Kelainan otot jantung, gagal jantung sering terjadi pada pasien kelainan otot jantung, hal ini disebabkan karena menurunnya kemampuan pompa/kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot diantaranya aterosklerosis koroner, hipertensi arterial, dan penyakit degeneratif atau inflamasi.
  • Aterosklerosis/sumbatan koroner mengakibatkan disfungsi/gangguan miokardium dalam memompa karena terganggunya aliran darah ke otot jantung, biasanya mendahului terjadinya gagal jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
  • Hipertensi, hal ini akan meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi otot jantung dan pada akhirnya menurunkan kemampuan kontraktilitas jantung.
  • Peradangan dan penyakit myocardium degenerative berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan menurunnya kemampuan pompa dari jantung.
  • Penyakit jantung lainnya, Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung kelainan katup jantung, gangguan irama jantung/aritmia.
  • Faktor sistemik, Terdapat sejumlah besar faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme misal demam, tirotoksikosis, hipoksia dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia dan anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung sehingga dapat menurunkan kontraktilitas jantung

Gejala Gagal Jantung

Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung dalam memompa, maka gejala yang muncul dari pasien gagal jantung adalah akibat adanya aliran darah balik dari ventrikel kiri ke atrium kiri dan menuju ke vena pulmonalis yang pada akhirnya terjadi bendungan pada paru, selanjutnya daerah akan mengalir ke ventrikel kanan melalui arteri pulmonalis dan juga akan menuju ke atrium kanan. 

Seandainya atrium kanan sudah mengalami over load akhirnya darah akan mengalir ke vena cava superior dan vena cava inferior yang akan menimbulkan pembesaran vena jugalaris dan edema pada
ekstrimitas bawah.

Dari penjelasan di atas maka pada pasien gagal jantung akan memunculkan gejala yaitu bila gagal jantung dimulai dari jantung sebelah kiri/gagal jantung kiri maka akan muncul Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tak mampu memompa darah yang datang dari paru. Manifestasi klinis yang terjadi yaitu:
  1. Dispnoe/sulit bernafas, terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan mengganggu pertukaran gas yaitu oksigen dengan carbon dioksida. Selain itu juga dapat terjadi ortopnu/sesak nafas terjadi akibat perubahan posisi dari duduk ke tidur dan berkurang bila dari tidur ke duduk. Beberapa pasien dapat mengalami ortopnu pada malam hari yang dinamakan Paroksimal Nokturnal Dispnea ( PND).
  2. Batuk
  3. Mudah lelah, terjadi karena curah jantung yang kurang sehingga metabolisme akan mengalami penurunan, sehingga energi akan menurun juga.
  4. Kegelisahan dan kecemasan, terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan, stress akibat kesakitan bernafas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik.

Sedang gejala pada gagal jantung kanan antara lain:
  1. Edema ekstermitas bawah yang mengakibatkan penambahan berat badan
  2. Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran vena di hepar
  3. Anorexia dan mual hal ini terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena dalam rongga abdomen.

Selain dengan menggunakan anamnesa untuk menegakkan diagnosa gagal jantung, maka diperlukan juga pemeriksaan penunjang diantaranya adalah foto thorak dan perekaman EKG Nah, berdasarkan anamnesa dari penyakit gagal jantung, kira-kira tujuan


Pengobatan Gagal Jantung

Pengobatan pada penyakit ini meliputi:
  • Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung, meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokardium dengan preparat farmakologi dan membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara memberikan terapi antidiuretik, diit dan istirahat.
  • Sedangkan terapi farmakologis meliputi:
    • Obat Digitalis yaitu untuk meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung. Efek yang dihasilkan berupa peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan peningkatan diuresis dan mengurangi edema (Misal: Digoxin dan Digitoxin).
    • Terapi diuretik, diberikan untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal. Penggunaan harus hati-hati karena efek samping hiponatremia dan hipokalemia (Misal : Natrium Diklofenak, Furosemid, spironolactone, manitol)
    • Terapi vasodilator, Obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi tekanan terhadap pompa darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat dituruinkan (Misal : Citicolin).
    • Dukungan diet yaitu pembatasan Natrium (garam dapur) untuk mencegah, mengontrol, atau menghilangkan edema.

Asuhan Keperawatan Gagal Jantung

Proses keperawatan yang dimulai dari pengkajian, penyusunan diagnosa keperawatan, penyusunan rencana tindakan dan penentuan evaluasi.

Hal yang Perlu Dikaji dari Pasien Gagal Jantung

Bahwa pengkajian hanya difokuskan pada pengkajian keperawatan ditujukan untuk mengobservasi adanya tanda-tanda dan gejala kelebihan cairan di paru dan tanda serta gejala sistemis yang meliputi:
  1. Aktivitas/istirahat, keletihan, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas, gelisah, dispnea saat istirahat atau aktifitas, perubahan status mental, Tanda vital berubah saat beraktifitas.
  2. Sirkulasi, riwayat hipertensi, penyakit katup jantung, anemia, kelainan irama jantung, kuku pucat atau sianosis, hepar adanya pembesaran, bunyi nafas krekles atau ronkhi, edema pada ektrimitas.
  3. Integritas ego, ansietas stress marah takut dan mudah tersinggung.
  4. Eliminasi, gejala penurunan berkemih urun berwarna pekat, berkemih malam hari diare/ konstipasi.
  5. Makanan/cairan, kehilangan nafsu makan mual, muntah, penambahan berat badan signifikan, pembengkakan ektrimitas bawah, diit tinggi garam pengunaan diuretic distensi abdomen edema umum.
  6. Neurosensori akibat adanya kelemahan, pusing letargi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung.
  7. Pernafasan/Dispnea saat aktivitas tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal. Batuk dengan atau tanpa sputum penggunaan bantuan otot pernafasan oksigen. Bunyi nafas warna kulit.

Diagnosa Keperawatan Gagal Jantung

Nah dari hasil pengkajian di atas, kira-kira diagnosa keperawatan apa saya yang mungkin muncul pada pasien gagal jantung?

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien gagal jantung antara lain:
  • Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan menurunnya curah jantung , hipoksemia jaringan, asidosis, dan kemungkinan thrombus atau emboli.
  • Kerusakan pertukaran gas
  • Kelebihan volume cairan ekstravaskuler
  • Pola nafas tidak efektif
  • Intoleransi aktivitas dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari

Rencana Tindakan Keperawatan Gagal Jantung

Setelah kita membuat diagnosa keperawatan, maka langkah berikutnya adalah menyusun rencana tindakan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan, maka rencana tindakan keperawatan antara lain:

1. Penurunan Perfusi Jaringan 

Dapat dihubungkan dengan menurunnya curah jantung, hipoksemia jaringan, asidosis, dan kemungkinan thrombus atau emboli.

Kemungkinan dibuktikan oleh:
  • Daerah perifer dingin, RR lebih dari 24 x/ menit, Kapiler refill Lebih dari 3 detik, Nyeri dada, Gambaran foto torak terdapat pembesaran jantung & kongestif paru (tidak selalu), HR lebih dari 100 x/menit, TD > 120/80, AGD dengan: pO2 < 45 mmHg (N : 80-100 mmHg) dan Saturasi < 80 (N:90-100%).

Tujuan:
  • Gangguan perfusi jaringan berkurang/tidak meluas selama dilakukan tindakan perawatan di Rumah Sakit.

Intervensi:
  • Monitor frekuensi dan irama jantung
  • Observasi perubahan status mental
  • Observasi warna dan suhu kulit/membran mukosa
  • Ukur produksi urin dan catat berat jenisnya
  • Kolaborasi: berikan cairan IV l sesuai indikasi
  • Pantau pemeriksaan diagnostik dan laboratorium mis EKG, elektrolit, GDA ( PaO2, PaCO2 dan saturasi O2)
  • Pemberian oksigen.


2. Kerusakan Pertukaran Gas

Dapat dihubungkan dengan gangguan aliran darah ke alveoli atau kegagalan utama paru, perubahan membran alveolar- kapiler ( atelektasis , kolaps jalan nafas/ alveolar edema paru/efusi, sekresi berlebihan/perdarahan aktif.

Kemungkinan dibuktikan oleh:
  • Dispnea berat, gelisah, sianosis, hipoksemia.

Tujuan:
  • Kerusakan pertukaran gas teratasi.

Intervensi:
  • Catat frekuensi & kedalaman pernafasan, penggunaan otot bantu pernafasan, auskultasi paru untuk mengetahui penurunan / tidak adanya bunyi nafas dan adanya bunyi tambahan missal krakles, ronki dll
  • Lakukan tindakan untuk memperbaiki/mempertahankan jalan nafas misalnya, batuk, penghisapan lendir dll,
  • Tinggikan kepala/tempat tidur sesuai kebutuhan/toleransi pasien
  • Kaji toleransi aktivitas misalnya keluhan kelemahan/kelelahan selama kerja atau tanda vital berubah.

3. Kemungkinan terhadap kelebihan volume cairan ekstravaskuler

Faktor resiko meliputi penurunan perfusi ginjal, peningkatan natrium/ retensi air, peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma (menyerap cairan dalam area interstisial/jaringan).

Kemungkinan dibuktikan oleh:
  • Tidak adanya Tanda-Tanda dan gejala gejala membuat diagnosa aktual.

Tujuan:
  • Keseimbangan volume cairan dapat dipertahankan selama dilakukan tindakan keperawatan selama di Rumah Sakit.

Intervensi:
  • Ukur masukan/pengeluaran, catat penurunan , pengeluaran, sifat konsentrasi, hitung keseimbangan cairan.
  • Observasi adanya oedema dependen.
  • Timbang BB tiap hari.
  • Pertahankan masukan total cairan 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.
  • Kolaborasi pemberian diet rendah natrium, berikan diuretik.

4. Pola nafas Tidak Efektif

Dapat dihubungkan dengan penurunan volume paru, hepatomegali, splenomegali

Kemungkinan dibuktikan oleh:

  • Perubahan kedalaman dan kecepatan pernafasan ,gangguan pengembangan dada, GDA tidak normal.

Tujuan:
  • Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di Rumah Sakit.

Intervensi:
  • Monitor kedalaman pernafasan, frekuensi, dan ekspansi dada.
  • Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu nafas.
  • Auskultasi bunyi nafas dan catat bila ada bunyi nafas tambahan.
  • Tinggikan kepala dan bantu untuk mencapai posisi yang senyaman mungkin.
  • Kolaborasi pemberian oksigen dan periksa GDA

5. Intoleransi Aktivitas dalam Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari

Dapat dihubungkan dengan ketidakseimbangan antar suplai oksigen miocard dan kebutuhan, adanya iskemik/ nekrotik jaringan miocard

Kemungkinan dibuktikan oleh:
  • Gangguan frekuensi jantung, tekanan darah dalam aktifitas, terjadinya disritmia, kelemahan umum.

Tujuan:
  • Terjadi peningkatan toleransi pada klien setelah dilaksanakan tindakan keperawatan selama di Rumah sakit.

Intervensi:
  • Catat frekuensi jantung, irama, dan perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktivitas.
  • Tingkatkan istirahat (di tempat tidur).
  • Batasi aktivitas pada dasar nyeri dan berikan aktivitas sensori yang tidak berat.
  • Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas, contoh bengun dari kursi bila tidak ada nyeri, ambulasi dan istirahat selam 1 jam setelah makan.
  • Kaji ulang tanda gangguan yang menunjukan tidak toleran terhadap aktifitas atau memerlukan pelaporan pada dokter.

Evaluasi Asuhan Keperawatan Gagal Jantung

Langkah yang terakhir dalam asuhan keperawatan pada pasien gagal jantung adalah evaluasi, dimana evaluasi merupakan penilaian efektifitas terhadap intervensi keperawatan sehubungan dengan keluhan, hasil perekaman EKG, foto thorak dan pemeriksaan hasil laboratorium menunjukkan hasil yang normal. Intervensi dikatakan efektif bila tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Dalam evaluasi, perawat melakukan pengkajian ulang tentang keluhan sesak nafas, hemodinamik dan terapi yang diberikan pada klien serta perilaku klien setelah melakukan implementasi dari intervensi. Evaluasi menggunakan observasi, mengukur dan wawancara dengan pasien.