Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengertian, Teori, dan Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Pengertian Belajar

Belajar merupakan kunci dalam pembentukan tingkah laku manusia dan memegang peranan penting hampir di semua segi kehidupan.

Ada beberapa pengertian belajar, berikut ini:
  • Belajar adalah usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup.
  • Belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara berperilaku yang baru, berkat pengalaman, dan latihan.
  • Belajar merupakan proses psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif manusia dengan lingkungannya dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, nilai sikap, yang bersifat konstan atau menetap.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan:
"Belajar adalah proses perubahan hasil interaksi manusia dengan lingkungan, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun nilai sikap yang berguna untuk hidupnya, tetapi tidak semua perubahan merupakan hasil belajar, karena perubahan hasil belajar harus bersifat konstan atau menetap."

Teori-Teori Belajar

Yang dimaksud dengan teori belajar atau konsep belajar adalah suatu konsep pemikiran yang dirumuskan mengenai bagaimana proses belajar terjadi.

Teori Belajar Menurut Para Ahli

Teori belajar yang dikemukakan beberapa ahli di antaranya seperti berikut ini:

a. Teori Spekulatif

Teori yang dikelompokkan ke dalam konsepsi ini semata-mata hanya pendapat ahli, tanpa dibuktikan dengan penelitian atau percobaan.

Yang termasuk kelompok teori ini antara lain:
  1. Pendapat ahli scholastic, yang menyatakan belajar itu pada intinya adalah ulangan, artinya pada hakikatnya belajar adalah mengulang-ulang materi yang harus dipelajari;
  2. Kontra reformasi, menyatakan bahwa yang menjadi pokok proses belajar adalah mengulangi, dengan semboyannya repetitio est mater studiorum;
  3. Konsep psikologi daya (Christian Van Volt), menyatakan belajar adalah usaha untuk melatih daya jiwa yang terdapat pada otak agar berkembang, sehingga kita dapat berpikir, mengingat dengan cara menghafal, memecahkan soal, dan bermacam-macam kegiatan lainnya. Dasar teorinya adalah adanya anggapan bahwa jiwa manusia terdiri atas, daya pikir, mengenal, mengingat, mengamati, daya khayal dan daya merasakan. Hal ini dapat berkembang dan berfungsi dengan baik, apabila dilatih secara berulang kali.

b. Pendekatan Eksperimental, (Ebbinghaus)

Teori ini tidak bersifat spekulatif belaka dalam mengungkapkan pendapatnya, tetapi sudah melalui penelitian dan percobaan-percobaan. Hasilnya disimpulkan bahwa inti belajar adalah ulangan.

c. Teori Belajar Asosiasi (Thorndike)

Teori ini mengatakan bahwa jiwa manusia terdiri atas asosiasi bermacam-macam tanggapan yang masuk dan terbentuk karena hubungan stimulus – respon. Proses belajar ini, intinya adalah penguatan stimulus-respon. Sifat belajar menurut teori ini trial and error learning.

d. Classical Conditioning (Pavlov)

Pavlov melakukan penelitian dengan menggunakan anjing yang telah dioperasi kelenjar ludahnya, sehingga air liurnya dapat ditampung dan diukur. Hasil percobaan, apabila ada makanan, keluarlah air liur sebagai respon.

Percobaan selanjutnya, sebelum diberi makanan, dibunyikan bel terlebih dahulu. Hal ini dilakukan berulang kali. Hasilnya, bunyi bel saja (tanpa makanan) dapat menimbulkan keluarnya air liur secara refleks.

Dari percobaan tersebut: bunyi bel = conditioning stimulus (CS) = perangsang bersyarat, makanan = unconditioning stimulus (US) = perangsang tak bersyarat. Keluarnya air liur karena bunyi bel disebut conditioning reflex, keluarnya air liur, karena makanan disebut unconditioning reflexs.

e. Behaviorism (Watson)

Mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
  1. Teori stimulus-respon, pada tingkah laku yang kompleks akan ditemukan rangkaian unit stimulus dan respon yang disebut refleks. Stimulus merupakan situasi obyektif (sinar dan suara) dan respon adalah reaksi subyektif individu terhadap stimulus (mengambil makanan karena lapar atau menutup pintu karena ada angin kencang).
  2. Pengamatan dan kesan, adanya kesan motoris ditujukan terhadap berbagai stimulus.
  3. Perasaan, tingkah laku dan afektif, ditemukan tiga reaksi emosional yang dibawa sejak lahir, yaitu takut, marah dan cinta. Perasaan senang dan tidak senang adalah reaksi senso-motoris.
  4. Teori berpikir. Berpikir harus merupakan tingkah laku senso-motoris dan berbicara dalam hati adalah tingkah laku berpikir.
  5. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan individu, reaksi instinktif atau kodrati yang dibawa sejak lahir jumlahnya sedikit sekali, sedangkan kebiasaan yang terbentuk dalam perkembangan disebabkan oleh latihan dan belajar.

Bentuk-Bentuk Belajar

Proses belajar tidak bersifat tunggal saja, terdapat beberapa jenis belajar yang masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri walaupun semuanya merupakan suatu proses belajar.

Adapun jenis-jenis belajar adalah sebagai berikut.

a. Belajar menurut fungsi psikis

Yang terdiri atas empat fungsi berikut ini.
  1. Belajar dinamik atau konatif. Ciri khasnya terletak dalam belajar berkehendak terhadap sesuatu secara wajar. Berkehendak adalah sesuatu aktivitas psikis yang terarah pada pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari dan dihayati.
  2. Belajar afektif, menghayati nilai dari objek-objek yang dihadapi melalui alam perasaan. Obyek belajarnya dapat berupa orang, benda, kejadian atau peristiwa. Cirinya dalam belajar terletak pada penggunaan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar.
  3. Belajar kognitif. Ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, entah objek itu orang, benda, kejadian atau peristiwa.
  4. Belajar senso-motorik, belajar menghadapi dan menangani objek-objek secara fisik, termasuk kejasmanian manusia sendiri.

b. Belajar menurut Materi yang dipelajari seperti berikut

  1. Belajar Teoritis, bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta atau pengetahuan dalam sebuah kerangka organisasi mental sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti yang terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah.
  2. Belajar Teknis, bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam menangani dan memegang benda-benda serta menyusun bagian-bagian materi menjadi suatu keseluruhan, misalnya, belajar mengetik dan membuat suatu mesin tik.
  3. Belajar ber-Masyarakat, bentuk belajar ini bertujuan mengekang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama dan memberikan kelonggaran kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
  4. Belajar Estetis, bertujuan untuk membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan di berbagai bidang kesenian.

c. Bentuk belajar yang tidak begitu disadari

  1. Incidental Learning (Belajar Insidental). Proses belajar berlangsung bila orang mempelajari sesuatu dengan tujuan tertentu, tetapi di samping itu juga belajar hal lain yang sebenarnya tidak menjadi sasaran.
  2. Latent Learning (Belajar Tersembunyi). Proses belajar tanpa ada intens atau maksud untuk belajar atau mempelajari (dari pihak orang yang belajar). Seperti kegiatan belajar di sekolah, guru atau dosen dapat merencanakan supaya siswa atau mahasiswa belajar sesuatu tanpa mereka menyadari sedang belajar yang dimaksudkan oleh pengajar.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar

Secara umum faktor-faktor yang memengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi tiga macam, sebagai berikut:

a. Faktor Internal

  • Aspek fisiologis, adalah kondisi umum jasmani dan tonus atau tegangan otot yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendi yang dapat memengaruhi semangat dan intensitas dalam mengikuti pelajaran.
  • Aspek psikologis, dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran, antara lain faktor rohaniah pelajar yang pada umumnya dipandang lebih esensial yaitu tingkat kecerdasan atau intelegensi terdidik, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa atau mahasiswa.

b. Faktor Eksternal

  • Lingkungan sosial, termasuk pengajar, staf administrasi, teman-teman sekelas akan memengaruhi semangat belajar peserta didik.
  • Lingkungan nonsosial, termasuk gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan, karena faktor-faktor ini turut mendukung tingkat keberhasilan belajar.

c. Faktor Pendekatan Belajar

Adalah segala metode atau strategi yang digunakan untuk menunjang keefektifan dan efisiensi proses belajar. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.

Di samping faktor-faktor internal dan eksternal peserta didik, maka faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran.

Fase-Fase Dalam Proses Belajar

R.M Gagne dalam bukunya Essentials of Learning for Instruction menjelaskan urutan atau fase-fase dalam proses belajar secara kongkrit seperti berikut ini.
  • Attention atau menaruh perhatian, contoh dalam proses belajar di kelas, benar-benar konsentrasi kepada pelajaran.
  • Motivation atau menyadari tujuan belajar, sadar akan tujuan instruksional dan bersedia melibatkan diri.
  • Menggali dari ingatan jangka panjang, mengingat kembali tentang apa yang sudah diketahui sebelumnya.
  • Berprestasi selektif, mengamati unsur-unsur dalam perangsang yang relevan bagi pokok bahasan, mengolah informasi dari ingatan jangka pendek.
  • Mengolah informasi dari ingatan jangka panjang.
  • Mendapatkan umpan balik, mendapat penguatan dari pengajar kalau prestasinya tepat.
  • Memantapkan hasil belajar, mengajukan berbagai tugas untuk mengakarkan hasil belajar.

Mengingat Sebagai Hasil Belajar

Belajar adalah melakukan sesuatu yang baru dan ditampilkan dalam kegiatan kemudian. Hal ini berarti ada proses mengingat.

belajar dan mengingat

Ingatan adalah proses perilaku yang menyangkut encoding (pencatatan), storage (penyimpanan), dan retrieval (mengingat kembali). Ingatan (memory) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kembali kesan-kesan.

Ingatan merupakan bidang ilmu psikologi kognitif, yaitu psikologi yang mempelajari hal-hal yang berorientasi kepada akal dan areal pemikiran yang dilakukan otak.

Proses terjadinya ingatan adalah sebagai berikut

Proses terjadinya ingatan

Penjelasan:
  1. STM = Short Term Memory (memori jangka pendek) adalah proses memasukkan informasi hasil dari perhatian, berupa data yang tersimpan (memori) dengan jangka waktu pendek ± 30 detik (memori sementara). Dari STM dilanjutkan dengan proses rehearsal. Rehearsal adalah proses setelah informasi diterima panca indera, menjadi perhatian, dikirim ke otak atau memori jangka pendek. Rehearsal juga menentukan proses pemindahan data dari STM ke LTM sehingga menjadi memori jangka panjang.
  2. Long Term Memory (LTM) adalah ingatan yang menyimpan hasil retrieval dari STM. Retrieval adalah proses mendapatkan kembali infromasi yang telah dikode, yang disimpan pada saat dibutuhkan di arena LTM untuk segera diangkat atau di-retrieval (proses mengingat kembali). Informasi yang telah dikode dapat tersimpan lama, terkadang tak terbatas waktu (dapat termemori dalam jam, hari, minggu, bulan, tahun bahkan seumur hidup).
Adanya proses memorisasi memungkinkan orang dapat mengingat apa yang telah dipelajarinya, tetapi tidak semua akan tetap tinggal dengan baik di memory trace, karena suatu saat memory trace akan dapat hilang. Dalam hal ini orang mengalami kelupaan.

Lupa adalah hilangnya informasi yang dicatat dan disimpan dalam LTM. Lupa merupakan proses interference, artinya masuknya informasi baru dan mengacaukan informasi lama.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan proses terjadinya lupa, antara lain:
  • Informasi sebenarnya tidak pernah di-encode dan disimpan
  • Proses encoding dan rehearsal yang kurang adekuat
  • Level pengolahan tidak cukup eksploratif, sehingga informasi tidak pernah masuk
  • Proses konstruktif pada encoding mengalami distorsi sehingga informasi tidak pernah masuk
  • Gangguan dari pelajaran sebelumnya, artinya gangguan dari bahan baru sehingga bahan lama menjadi kurang baik atau lupa.
Selain hal-hal tersebut di atas, faktor emosi dan intelegensi juga menentukan seseorang mudah lupa atau tidak mudah lupa.