Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Intelegensi dan Faktor yang Mempengaruhinya

Pada kehidupan ini senantiasa dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tentunya memerlukan intelegensi dan kreativitas. Intelegensi dan kreativitas yang dimiliki individu akan menentukan kemampuan penggunaan pikirannya untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan.

Seorang perawat pada saat berhadapan dengan pasien, tentunya harus memahami aspek ini, sehingga bisa memahami bahwa ada pasien yang dengan mudah dan cepat menerima informasi yang diberikan, ada juga yang lambat.

Oleh karena itu, Anda harus dengan seksama mempelajari materi pembelajaran pada materi ini.

Pengertian Intelegensi

Secara harfiah kata intelegensi berasal dari bahasa Inggris intelegence = inteliligere, yang artinya menghubungkan atau menyatukan satu sama lain.

Intelegensi disebut sebagai kecerdasan atau kemampuan dasar yang bersifat umum, sedangkan yang bersifat khusus disebut bakat.

Pengertian Intelegensi Menurut Para Ahli

Beberapa ahli yang mengemukakan pengertian intelegensi, adalah sebagai berikut:

  • Thorndike, menyatakan intelegensi adalah hal yang dapat dinilai sebagai kemampuan untuk menentukan ketidaklengkapan kemungkinan-kemungkinan dalam perjuangan hidup individu.
  • Binet, menyatakan intelegensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan serta untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri.
  • David Wechsler, mendefinisikan intelegensi sebagai suatu kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan umum dan khusus. Kemampuan umum berkaitan dengan bidang perdagangan, ilmu pasti dan bahasa, sedangkan kemampuan khusus berkaitan dengan kemampuan analisa, kemampuan mensintesa atau mengorganisasikan fakta, daya ingat, dan kreativitas.


Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa:

Intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.

Konsep umum yang lebih diterima tentang kecerdasan intelektual adalah multifaktor, yaitu kemampuan seseorang dalam berbagai bidang seperti kemampuan berpikir abstrak, pemahaman, kemampuan penalaran, kemampuan yang berhubungan dengan angka-angka atau bilangan dan kemampuan verbal serta kemampuan selasi ruang.

Faktor yang Memengaruhi Intelegensi

Faktor-faktor yang memengaruhi intelegensi adalah sebagai berikut:

  • Herediter (pembawaan), merupakan faktor utama dan terpenting dalam menentukan intelegensi.
  • Kematangan, menyangkut pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.
  • Pembentukan, yaitu perkembangan individu yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan seperti pendidikan dan latihan berbagai keterampilan juga memegang peranan penting.


Pengukuran Intelegensi (IQ)

Intelegence Quotient artinya hasil bagi taraf kecerdasan. IQ dinyatakan dalam jumlah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan, tetapi ini hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Pengukuran intelegensi dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut psikotes. Hasil pengukuran intelegensi bermanfaat dalam pendidikan dan penempatan jabatan.

Prinsip pengukuran intelegensi adalah membandingkan individu yang dites dengan norma tertentu, yaitu intelegensi kelompok sebaya.

Cara untuk mengetahui IQ seseorang adalah dengan membandingkan antara umur kecerdasan (mental age = MA) dengan umur kalender (chronological age = CA).

Rumus: IQ= (MA/CA) x 100

MA = mental age, diperoleh dari hasil tes intelegensi.
CA = chronological age, diperoleh dari menghitung umur berdasarkan tanggal kelahiran.

Jenis tes intelegensi dikelompokkan menjadi tiga kelompok sebagai berikut:

  1. Tes intelegensi individual, seperti, Stanford – Binet Intelegence Scale, Wechsler Bellleve Intelegence Scale (WBIS), Wechsler Intelegence Scale for Children (WISC), Wechsler Adult Intelegence Scale (WAIS), Wechsler Preschool and Primer Scale of Intelegence (WPPSI).
  2. Tes intelegensi kelompok, seperti, Pintner Cuningham Primary Test, The California Test of Mental Maturity, The Henmon Nelson Test Mental Ability, Otis Lennon Mental Ability Test dan Progressive Matrices.
  3. Tes intelegensi dengan tindakan.


Tingkat Kecerdasan

Tingkat dan klasifikasi IQ, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tingkat dan klasifikasi IQ
Tabel: Tingkat dan klasifikasi IQ

Gangguan Intelegensi

Retardasi mental adalah keadaan seseorang dengan intelegensi kurang (abnormal), sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa kanak-kanak) atau keadaan kekurangan intelegensi, sehingga daya guna sosial dan dalam pekerjaan seseorang menjadi terganggu.

Tanda-Tanda Retardasi Mental

Tanda-tanda seseorang mengalami retardasi mental adalah sebagai berikut:

  • Taraf kecerdasan (IQ) rendah
  • Daya ingat (memori) lemah
  • Ketidakmampuan sosial, yaitu tidak mampu mengurus diri
  • Arah minat sangat terbatas pada hal-hal tertentu yang sederhana
  • Perhatian labil, mudah berpindah-pindah
  • Miskin dan keterbatasan emosi (hanya perasaan senang, takut, marah, benci dan terkejut)
  • Apatis, acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya
  • Kelainan jasmani yang khas, seperti, badan terlalu kecil, kepala terlalu besar, mulut melongo, mata sipit, badan bungkuk atau tampak tidak sehat


Retardasi mental dapat dibedakan berdasarkan jenis dan penyebabnya atau berdasarkan taraf intelegensinya.

Berdasarkan jenis dan penyebabnya maka dibedakan menjadi dua sebagai berikut:

  1. Retardasi mental primer, kemungkinan faktor penyebabnya keturunan (genetik) dan kemungkinan tidak diketahui (retardasi mental simplek).
  2. Retardasi mental sekunder, ini disebabkan faktor luar yang diketahui dan memengaruhi otak, baik masa prenatal, perinatal maupun postnatal, misalnya infeksi atau intoksikasi, rudapaksa, gangguan metabolisme atau gizi, penyakit otak, kelainan kromosom, prematuritas, dan akibat gangguan jiwa berat.


Berdasarkan taraf intelegensinya, orang dengan keterbelakangan mental dibagi menjadi beberapa jenis, sebagai berikut:

  1. Idiot, taraf IQ paling rendah (di bawah 20), perkembangan jiwanya tidak akan lebih dari usia 3 tahun, sekalipun usia kalendernya remaja atau dewasa. Mereka tidak dapat bicara, tidak dapat berjalan, terus ngompol dan harus ditolong selama hidupnya.
  2. Imbesil, mempunyai IQ 20 – 50, dapat mencapai taraf usia kejiwaan 3 sampai 7 tahun. Dapat diajari memelihara diri sendiri dalam kebutuhan sederhana dan menjaga diri dari bahaya, misalnya buang air, memakai baju, menghindari api, berteduh dari hujan, dan sebagainya. Mereka juga memerlukan bantuan orang lain seumur hidupnya.
  3. Debil atau Moron, taraf IQ 50 – 70, mereka dapat mencapai taraf usia kejiwaan 7,5-10,5 tahun. Mereka masih dapat diajari berhitung, menulis dan melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana, sekalipun harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan waktu yang lama.