Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengertian Perilaku Abnormal, Penyebab dan Jenisnya

Pengertian Perilaku Abnormal

Perilaku pribadi abnormal adalah perilaku yang menyimpang jauh dari perilaku normal atau berbeda dari keadaan integrasi ideal.

Menurut Atkinson R.L. dkk, dalam Purwanto, Heri (1998), perilaku abnormal dapat ditinjau dari beberapa segi, sebagai berikut.

  • Secara statistik, dikatakan perilaku abnormal jika secara statistik jarang atau menyimpang dari normal, jadi tidak sesuai dengan perilaku masyarakat umumnya.
  • Maladaptif, perilaku dianggap abnormal jika bersifat maladaptif dan memiliki pengaruh buruk pada individu atau masyarakat.
  • Menyimpang dari norma sosial, perilaku yang menyimpang secara jelas dari standar atau norma dalam masyarakat.
  • Distres pribadi, adanya perasaan distres subyektif individu

Dengan demikian, kita dapat menilai suatu perilaku abnormal atau tidak, bisa dikaji secara statistik, daya adaptasi, penyimpangan dari norma sosial, atau subyektif individunya.

Penyebab Perilaku Abnormal

Penyebab yang mendasari seseorang mengalami perilaku abnormal, menurut Purwanto, Heri (1998) adalah:

  • Faktor keturunan, seperti idiopathy, psikosis, neurosis, idiocy dan psikosa sifilitik;
  • Faktor sebelum lahir, yaitu terjadi pada ibu karena kekurangan nutrisi, infeksi, luka, keracunan, menderita penyakit, menderita psikosis, dan trauma pada kandungan;
  • Faktor ketika lahir, seperti, kelahiran dengan alat, asphyxia, premature, atau primogeniture;
  • Faktor setelah lahir, seperti, pengalaman traumatik, kejang atau stuip, infeksi pada otak atau selaput otak, kekurangan nutrisi dan faktor psikologis.

Jenis-Jenis Perilaku Abnormal

Pada kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan perilaku manusia yang aneh-aneh. Dari mulai pembunuhan, perampokan sampai penyimpangan seks. Pada kerangka tersebut maka perilaku abnormal menurut Sunaryo (2004) digolongkan sebagai berikut.

Psikopat

Disebut juga psikopati atau sosiopatik, akibat perbuatannya masyarakat menderita dan dirugikan. Psikopat ialah bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum.

Psikopat adalah kelainan tingkah laku berbentuk tingkah laku antisosial, seolah-olah tidak mempunyai hati nurani, berbuat semaunya sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain. Dalam bentuk ekstrimnya dapat menjadi pembunuh berdarah dingin atau penipu ulung.

Ditinjau dari sudut psikodinamika dan genetika, asal-usul psikopat bersumber dari kelakuan menyimpang pada masa kanak-kanak dan kenakalan remaja.

Tanda-Tanda Psikopat

  • Tidak pernah membentuk keterikatan yang baik dengan orang tua atau pengganti orang tua.
  • Suka melawan terhadap hal-hal yang dilarang oleh masyarakat, karena biasa dimanja dan merasa diperlakukan tidak adil.
  • Membutuhkan penerimaan orang lain dan ada perasaan bersalah, tetapi tidak terjalin dengan baik dalam kepribadian keseluruhannya.

Menurut beberapa ahli, psikopat dibedakan menjadi empat perilaku sebagai berikut Sunaryo, (2004).

  1. Simpatik tetapi tidak bertanggung jawab. Penderita psikopat tipe ini memiliki ciri: simpatik, mudah bergaul, disukai, ramah, tingkah lakunya sopan dan menarik, mudah mendapat kepercayaan dan perhatian, berperilaku baik, yang digunakan untuk menipu atau menjerumuskan orang lain. Dapat ditemukan pada individu yang memiliki pendidikan tinggi, tetapi kelakuannya tidak bertanggung jawab.
  2. Pendendam dan pemberontak. Pada tipe ini, penderita gemar memusuhi dan memberontak terhadap hal-hal yang tidak disukainya, misalnya memiliki kebiasaan mudah marah, agresi lisan maupun fisik, cepat menyerang, membandel, keras kepala, sering membantah, dan melawan.
  3. Hipokondriasis dan tidak adekuat, dengan ciri-ciri, banyak mengeluh sakit, fisik seolah tidak berdaya sebagai alasan tidak mau bekerja, suka berbohong, banyak keluhan dan mengharap selalu mendapat bantuan orang, hidupnya ibarat benalu (merugikan orang lain).
  4. Antisosial, dengan ciri-ciri, sama sekali tidak peduli akan kepentingan orang lain, orang lain tidak diperhatikan, melakukan perbuatan yang berulang-ulang dan berbenturan dengan nilai-nilai sosial atau hukum. Psikopat jenis ini dapat mencuri, membunuh, dan melakukan kejahatan seks tanpa ia sendiri merasa bersalah atau berdosa.

Defisiensi Moral

Defisiensi moral atau dikenal dengan sebutan defect moral, dicirikan dengan individu yang hidupnya delinquent, selalu melakukan kejahatan (crimes), dan berperilaku asosial atau antisosial, tetapi tidak ada penyimpangan atau gangguan pada inteleknya.

Penyebab utama adalah terpisah (separation) dengan orang tua pada usia kurang dari 3 tahun. Efek perpisahan, menyebabkan individu tidak mendapatkan kasih sayang, tidak mendapatkan afeksi dan selalu mendapatkan perlakuan yang keras dan kejam. Akibatnya, individu menjadi  pendendam, bersifat agresi, miskin hubungan kemanusiaan, emosinya dingin dan beku, tidak memiliki super ego, adanya penolakan super ego dan hati nurani.

Ciri-ciri orang dengan defisiensi moral, secara fisik dan organik normal, namun pada umumnya bersifat semaunya, keras kepala, pikiran sering berubah-ubah, perangai kasar dan munafik. Kelemahan dorongan instingtif primer, sehingga ego menjadi lemah, kemiskinan afektif, tanpa self respect, dan ada relasi longgar dengan sesama manusia.

Perilaku abnormal adalah defisiensi moral yang dikelompokkan menjadi dua sebagai berikut.

  1. Damage children. Sikap ini terjadi akibat terlalu lama terpisah dengan ibunya sejak masa bayi. Sikap dan perilakunya antara lain, suka protes, badung, suka melawan, depresi, tindakan meledak-ledak, egoistis, tindakan kasar, tidak mengenal ampun, dan tidak tahu rasa belas kasihan.
  2. Juvenile delinquency, adalah anak-anak muda (di bawah umur 18 tahun), yang selalu melakukan kejahatan dan melanggar hukum, yang dimotivasi oleh keinginan mendapatkan perhatian, status sosial dan penghargaan dari lingkungan. Penyebabnya adalah fungsi persepsi yang defektif, impuls tidak terkendalikan, defisiensi dari kontrol super ego dan instabilitas psikologis. Ciri-ciri anak dengan juvenile delinquency, yaitu tidak memiliki kesadaran sosial dan moral, mental lemah, labil dan tidak terkendali karena super ego tidak terbentuk. Disharmoni dan disfungsi dorongan, kemauan (volusi), sehingga pribadinya tidak terintegrasi, overacting, perilaku liar, dan mengarah kepada psikosis. Mempunyai rasa inferior, frustasi dan dendam yang dikompensasi dengan perbuatan kekerasan, agresif, destruktif, dan kriminal yang secara tidak sadar digunakan untuk mempertahankan harga dirinya guna memperoleh perhatian dan prestise sosial.

Abnormalitas Seksual

Kartini Kartono menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual abnormal adalah bentuk relasi seks yang abnormal dan buruk atau jahat yaitu relasi seks yang tidak bertanggung jawab, yang didorong oleh kompulsi-kompulsi dan dorongan-dorongan yang abnormal.

Berdasarkan tersebut, abnormalitas seksual digolongkan menjadi tiga golongan sebagai berikut.

  1. Dorongan seksual yang abnormal, seperti prostitusi, perzinahan, sedukasi, frigiditas, impotensi, ejakulasi dini, nimfomania, satyriasis, dispareunia, dan anorgasme.
  2. Partner seks yang abnormal, seperti homoseksualitas, lesbianisme, bestiality, zoofilia, nekrofilia, pornografi, pedofilia, fetisisme, dan sebagainya.
  3. Cara abnormal dalam pemuasan, seperti onani dan masturbasi, sadisme, masokisme dan sadomasokisme, voyeurism, exhibionisme, transvestitisme dan transeksualisme.

Maramis menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual abnormal adalah perilaku seks yang tidak dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntutan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan individu mengenai kebahagiaan, perwujudan diri sendiri atau peningkatan kemampuan individu untuk mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik.

Bentuk abnormal perilaku seksual menurut Maramis dibedakan menjadi dua kategori seperti berikut ini.

  1. Gangguan kemampuan seksual, seperti impotensi, ejakulasi pradini, frigiditas, disparenia dan vaginismus serta hipo dan hiperseksual.
  2. Deviasi seksual, seperti homoseksual dan lesbian, fetisisme, pedofilia, transvestititsme, voyeurism, sadisme, dan masokisme serta transeksualisme

Psikoneurosis

Pada hakekatnya bukan penyakit, tetapi yang diderita adalah ketegangan pribadi yang terus menerus akibat adanya konflik dalam dirinya, sehingga ketegangan tak kunjung reda dan akhirnya psikoneurosis.

Mereka cukup kritis menilai situasi dan motif-motif yang saling bertentangan, sehingga dirasakan adanya konflik. Bisa disebabkan faktor eksternal maupun internal.

Psikoneurosis disebut juga sebagai kelainan mental ringan, karena gejala-gejalanya ringan dan orang yang bersangkutan sepenuhnya normal. Ia masih dapat bergaul, bekerja, belajar dan sebagainya seperti orang-orang lainnya.

Psikoneurosis berdasarkan gejalanya digolongkan menjadi tiga golongan berikut ini:

  1. Neurosa anxietas, gejala-gejalanya adalah ada rasa khawatir atau was-was yang terus menerus dan tidak beralasan. Penderita menjadi gelisah, tidak tenang dan sukar tidur.
  2. Histeria, secara tidak sadar meniadakan fungsi salah satu anggota tubuhnya, sekalipun secara organis tidak ditemukan kelainan.
  3. Obsesif-kompulsif, ditandai adanya pikiran atau dorongan tertentu secara terus menerus, individu tahu bahwa hal itu tidak benar dan tidak masuk akal, tetapi tidak dapat melepaskannya

Psikosa

Psikosa disebut juga kelainan kepribadian yang mayor, karena seluruh kepribadian orang tersebut terkena, sehingga tidak dapat hidup dan bergaul normal dengan orang di sekitarnya.

Psikosa berbeda dengan psikoneurosis atau neurosa. Perbedaan psikosa dan neurosa antara lain sebagai berikut.

Perbedaan psikosa dan neurosa
Tabel: Perbedaan neurosa dan psikosa

Jenis-Jenis Psikosa dalam Purwanto, H (1998) adalah sebagai berikut:


1. Psikosa Fungsional

➢Skizofrenia atau perpecahan kepribadian

Yaitu pikiran, perasaan dan perbuatannya berjalan sendiri-sendiri dengan gejala sebagai berikut.

  • Pola pikir dan alam perasaan tidak teratur, tidak sesuai dengan yang dirasakan, inkoheren, kadang neologisme.
  • Apatis, tidak menunjukkan perasaan pada situasi yang seharusnya menimbulkan reaksi-reaksi emosi.
  • Tingkah laku bizar, aneh, eksentrik dan tidak dapat dimengerti.
  • Seklusif, arah minat dan kontak sosial sangat dipersempit, lebih suka menarik diri, dan menyendiri.
  • Delusi atau waham adalah keyakinan yang salah tetapi tidak bisa dibantah.
  • Tidak mau mengikuti kebiasaan manusia normal.

Skizofrenia terbagi menjadi:

  • Reaksi simpleks, menunjukkan gejala-gejala seperti di atas tanpa ada komplikasi lain.
  • Reaksi hebeprenik, disertai dengan kemunduran mental.
  • Reaksi katatonik, disertai dengan tingkah laku motorik yang tidak terkontrol.
  • Reaksi paranoid, disertai dengan kecurigaan dan kebencian terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas.

➢Paranoia dan kondisi paranoid

Ditandai adanya kecurigaan yang tidak beralasan yang terus menerus, puncaknya menjadi tingkah laku agresif.

Kondisi paranoid merupakan bentuk-bentuk antara skizofrenia paranoid dan paranoi. Emosi dan jalan pikirannya masih berjalan baik dan berhubungan. Jalan pikirannya cukup sistematis, mengikuti suatu logika dan teratur, tetapi berakhir dengan interpretasi yang menyimpang dari kenyataan.

Paranoid yang sudah lebih lanjut ditandai dengan halusinasi dan kecurigaan yang sangat kuat, pola berpikir makin kacau, dan tingkah laku makin aneh.

2. Psikosa manik depresif

Terutama menyangkut aspek emosi penderita. penderita menjadi sangat gembira atau sangat sedih, sangat agresif, atau diam seperti patung.

3. Psikosa organik

Berbeda dengan psikosis fungsional. Penyebabnya semata-mata adalah faktor kelainan fisiologik. Misalnya, karena usia senil maka terjadi penyempitan pembuluh darah otak, sehingga bertingkah laku seperti psikosis. Dalam beberapa kasus, psikosis ini diturunkan (psikokongenital).