Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengertian Stres dan Faktor yang Menyebabkan Stres

Stres merupakan kelainan psikis. Cabang ilmu psikologi yang mempelajari kelainan psikis disebut psikopatologi. Usaha untuk menyembuhkannya dilakukan oleh psikologi klinis. Kelainan psikis merupakan penyakit kejiwaan, oleh karena itu dipelajari oleh cabang ilmu kedokteran yang disebut psikiatri.

Perbedaan antara psikologi klinis dengan psikiatri adalah metode pendekatan. Psikologi klinis menggunakan teknik, seperti pemeriksaan psikologis, wawancara, observasi, pemberian nasehat, dan usaha penyembuhan secara psikologi (psikoterapi). Psikiater menggunakan teknik kedokteran yaitu dengan menggunakan obat (psikofarmaka), karena ia seorang dokter.

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan stres, Anda harus mempelajari secara seksama konsep-konsep tersebut sebagaimana yang disajikan pada materi ini.

Pengertian Stres dan Faktor yang Menyebabkan Stres

Pengertian Stres Menurut Para Ahli

Beberapa ahli mendefinisikan stres sebagai berikut:
  • Hans Selye, menyebutkan stres adalah semua respon manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya.
  • Dadang Hawari, menyebutkan stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan).
  • Soeharto Heerdjan, menyebutkan stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang.

Jadi yang dimaksud stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang dapat menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan sebagainya.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Stres

Stres pada seseorang diawali dengan adanya stimuli yang mencetuskan perubahan (stresor). Stresor menunjukan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi, bisa berupa kebutuhan fisiologis, psikologis sosial, lingkungan, perkembangan spiritual, atau kebutuhan kultural.

Penyebab stres terdiri atas faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik bersumber dari aspek fisiologik, seperti kehamilan, menopouse, kesakitan dan dari aspek psikologik, seperti, frustasi, konflik, tekanan, dan krisis. Faktor ekstrinsik, di antaranya, keluarga dan komunitas.

Selain hal tersebut, ada juga faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya stres antara lain:
  • Faktor biologis, herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsiologik dan neurohormonal;
  • Faktor sosio kultural, perkembangan kepribadian, pengalaman dan kondisi lain yang memengaruhi.

Terkait dengan kejadian stres psikologis, ada empat sumber stres sebagai berikut:
  1. Frustasi, timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan, karena adanya rintangan. Frustrasi dapat bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kehilangan orang yang dicintai, pengangguran, dan sebagainya).
  2. Konflik, timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih keinginan, kebutuhan atau tujuan pada waktu bersamaan.
  3. Tekanan, berkaitan dengan tekanan hidup sehari-hari, baik yang bersumber dari dalam dirinya maupun dari luar.
  4. Krisis, yaitu suatu kejadian mendadak yang menimbulkan stres pada diri individu

Suatu stresor dapat menyebabkan seseorang stres atau tidak, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti berikut:
  1. Sifat stresor, ditentukan oleh pengetahuan individu tentang stresor dan pengaruhnya pada individu tersebut.
  2. Jumlah stresor, banyaknya stresor yang diterima individu dalam waktu bersamaan.
  3. Lama stresor, seberapa sering individu menerima stresor yang sama. Makin sering individu mengalami hal yang sama, maka akan timbul kelelahan dalam mengatasi masalah tersebut.
  4. Pengalaman masa lalu, pengalaman individu yang lalu memengaruhi individu menghadapi masalah.
  5. Tingkat perkembangan. Setiap individu memiliki tingkat perkembangan yang berbeda.

Penggolongan Stres

Berdasarkan penyebabnya, Sunaryo (2004) menggolongkan stres menjadi enam golongan seperti berikut:
  1. Stres fisik, disebabkan oleh adanya suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang atau tersengat arus listrik.
  2. Stres kimiawi, disebabkan oleh asam basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormon atau gas.
  3. Stres mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang dapat menimbulkan penyakit.
  4. Stres fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
  5. Stres proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.
  6. Stres psikis atau emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, sosial, budaya atau keagamaan.

Tingkatan Stres

Stres yang terjadi pada seseorang dapat terjadi dengan tingkatan sebagai berikut:
  1. Tahap pertama (paling ringan), yaitu stres yang disertai dengan perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki dan penglihatan menjadi tajam.
  2. Tahap kedua, yaitu stres yang disertai keluhan, seperti bangun pagi badan tidak terasa segar dan merasa letih, lekas capek pada saat menjelang sore hari, lambung atau perut tidak nyaman, jantung berdebar, otot tengkuk dan punggung menjadi tegang. Hal ini disebabkan karena cadangan tenaga yang tidak memadai.
  3. Tahap ketiga, yaitu tahapan stres dengan keluhan, seperti defekasi yang tidak teratur, otot semakin tegang, emosional, imsomnia, mudah terjaga dan sulit untuk tidur kembali, bangun terlalu pagi, koordinasi tubuh terganggu, dan mau jatuh pingsan.
  4. Tahap keempat, yaitu tahapan stres dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terlalu sulit dan menjenuhkan, kegiatan rutin terganggu dan gangguan pada pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta dapat menimbulkan ketakutan serta kecemasan.
  5. Tahap kelima, yaitu tahapan stres yang disertai dengan kelelahan secara fisik dan mental, ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung dan panik.
  6. Tahap keenam, yaitu tahapan stres dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar keras, sesak nafas, badan gemetar, dingin dan keluar banyak keringat.

Reaksi Tubuh terhadap Stres

Menurut Dadang Hawari (2001), dampak dari stres dapat mengenai fisiologis maupun psikologis.

Dampak Fisiologis Karena Stres

Dampak secara fisiologis hampir mengenai seluruh sistem tubuh, seperti hal-hal berikut:
  1. Perubahan pada warna rambut dari hitam menjadi kecoklat-coklatan, ubanan atau kerontokan.
  2. Gangguan pada penglihatan.
  3. Tinitus (pendengaran berdering).
  4. Daya mengingat, konsentrasi, dan berpikir menurun.
  5. Wajah nampak tegang, serius, tidak santai, sulit senyum, serta terdapat kerutan pada kulit dan wajah.
  6. Bibir, mulut terasa kering, dan tenggorokan terasa tercekik.
  7. Kulit menjadi dingin atau panas, banyak berkeringat, biduran dan gatal-gatal.
  8. Nafas terasa berat dan sesak.
  9. Jantung berdebar-debar, muka merah, dan pucat.
  10. Lambung mual, kembung atau pedih.
  11. Sering berkemih.
  12. Otot sakit, seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang.
  13. Kadar gula meninggi.
  14. Libido menurun atau meningkat.

Dampak Psikologis Karena Stres

Dampak terhadap psikologis, yaitu timbulnya masalah-masalah seperti berikut:
  1. Kecemasan, merupakan tanda bahaya atau menyatakan emosi yang tidak menyenangkan sama dengan istilah khawatir, tegang, prihatin, takut seperti jantung berdebar-debar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur.
  2. Kemarahan dan agresi, yaitu perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. Kemarahan merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stres yang mungkin dapat menyebabkan agresi.
  3. Depresi, adalah keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat, terkadang disertai rasa sedih.