Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Asuhan Keperawatan (Askep) Kolitis Ulseratif


1. Pengertian Kolitis Ulseratif

Kolitis ulseratif adalah suatu penyakit inflamasi usus yang menyebabkan peradangan berkelanjutan dan ulkus (luka terbuka) di lapisan terdalam dari usus besar (kolon) dan rektum. Ulkus berdarah, memproduksi nanah dan lendir, dan peradangan menyebabkan usus untuk sering mengosongkan, menyebabkan diare. Colitis ulseratif dapat menyebabkan nyeri dan memiliki komplikasi yang mengancam jiwa.

2. Penyebab Kolitis Ulseratif

Tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan kolitis ulseratif. Teori yang paling mungkin adalah bahwa hal itu disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari genetika, reaksi sistem kekebalan tubuh yang rusak, dan pengaruh lingkungan.

Karena kolitis ulserativa lebih umum di negara maju, itu mungkin bahwa diet tinggi lemak dan makanan olahan jenuh berkontribusi terhadap penyakit. Beberapa faktor resiko adalah riwayat penyakit keluarga, keturunan Yahudi, terutama Yahudi Ashkenazi (Eropa), diet tinggi gula, tinggi kolesterol, dan lemak (terutama dari daging dan produk susu).

3. Gejala Klinis Kolitis Ulseratif

Tanda-tanda dan gejala kolitis ulseratif bervariasi tergantung pada seberapa parah peradangan dan di mana ia berada. Yang paling umum yaitu nyeri perut, dan diare berdarah.

Gejala-gejala dapat berkisar dari ringan sampai parah, yang mungkin muncul sangat tiba-tiba atau secara bertahap. Gejala lain meliputi
  • Diare berkepanjangan
  • Perdarahan rektum
  • Feses seperti darah
  • Penurunan berat badan
  • Anemia, demam dan dehidrasi.
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan serangkaian tes untuk mendiagnosis kolitis ulseratif meliputi, pemeriksaan darah, tinja; kolonoskopi dan sigmoidoskopi digunakan untuk mengambil gambar dari usus besar dan rektum. Foto-foto ini dapat mengungkapkan peradangan, perdarahan, atau borok di sepanjang dinding usus besar dan rektum secara keseluruhan.

4. Patofisiologi Kolitis Ulseratif

Kolitis adalah penyakit radang usus besar yang kronis, dan 20% kasus terjadi sebelum individu mencapai usia 20 tahun. Biasanya, penyakit ini dimulai di rektum dan kolon sigmoid dan secara bertahap menyebar sampai usus besar.

Proses inflamasi melibatkan mukosa dan submukosa usus besar.Secara bertahap, beberapa ulserasi dan abses terbentuk di daerah radang. Akibat penyakit berlangsung, mukosa usus menjadi edema dan menebal dengan pembentukan jaringan parut, yang menghasilkan kemampuan perubahan menyerap usus besar.

Tingkat keparahan penyakit ini berkisar dari bentuk ringan yang terlokalisasi di daerah tertentu usus besar ke sindrom kritis dengan komplikasi yang mengancam jiwa.

4. Managemen Medis Kolitis Ulseratif

Tujuan utama pengobatan kolitis ulseratif adalah mengurangi keradangan, menekan respon imun, mengistirahatkan usus yang sakit, sehingga terjadi penyembuhan.

Jenis pengobatan tergantung pada beratnya penyakit.Obat obat yang biasa digunakan pada kolitis meliputi:
  • Aminosalisilat (Sulfasalazine)
  • Obat anti inflamasi; kortikosteroid (seperti budesonide, prednisone, and prednisolone)
  • Obat mengurangi peradangan akut, anti diare (diphenoxylate, loperamide, or psyllium)
  • Anti sedatif digunakan untuk mengurangi peristaltik, mengistirahatkan usus yang terinflamasi.
Cairan oral, diet rendah serat, tinggi kalori dan protein dan terapi suplemen vitamin dan pengganti besi diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Pada kasus kolitis disertai perdarahan masif, sakit berat, ruptur kolon atau resiko kanker, dilakukan pengangkatan kolon atau rektum (kolektomi atau proctokolectomi).

5. Managemen Keperawatan

a. Pengkajian

Riwayat keperawatan perlu dikaji antara lain:
  • Karakteristik nyeri, adanya diare atau dorongan buang air besar, mengejan saat defekasi (tenesmus), mual, muntah, penurunan berat badan serta riwayat keluarga tentang penyakit radang usus.
  • Keluhan yang paling utama adalah nyeri intermiten sewaktu diare tetapi tidak hilang setelah defekasi.
  • Pola diet yang dikaji mencakup jumlah alkohol, kafein dan nikotin yang digunakan setiap hari; diet tinggi gula, tinggi kolesterol, dan lemak. 
  • Pola eliminasi mencakup karakter dan frekuensi, adanya pus, darah, lemak atau mukus/lendir dalam feses.
  • Pada pemeriksaan fisik mencakup auskultasi terhadap bising usus, palpasi terhadap distensi, nyeri tekan atau nyeri, gejala dehidrasi, gejala anemia.
  • Feses diinspeksi terhadap adanya darah dan mukus, termasuk adanya perdarahan rektal.

b. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pengkajian, diagnosis keperawatan meliputi:
  1. Diare berhubungan dengan proses peradangan usus
  2. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, diare dan penurunan absorpsi usus halus.
  3. Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan anoreksia dan diare
  4. Nyeri abdomen berhubungan dengan berhubungan dengan inflamasi usus dan peningkatan peristaltik.

c. Perencanaan

1) Diare berhubungan dengan proses keradangan usus

Tujuan: pasien melaporkan pengurangan diare

Intervensi Keperawatan:
  • Pertahankan lingkungan basien bebas bau
  • Lakukan perawatan perianal yang baik
  • Kurangi aktivitas fisik selama periode diare akut
  • Berikan cairan dan elektrolit oral
  • Tentukan hubungan antara diare dan makanan tertentu yang dikonsumsi
  • Kaji penurunan frekuensi /jumlah feses, peningkatan kosistensi feses
2) Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, diare dan penurunan absorpsi usus halus.

Tujuan: Pasien akan mencapai intake nutrient & kalori yang optimal untuk meningkatkan penyembuhan usus

Intervensi Keperawatan:
  • Berikan nutrisi parenteral (TPN) bila gejala usus bertambah berat
  • Berikan diet tinggi protein, rendah lemak dan rendah serat
  • Berikan makanan porsi kecil tapi sering
  • Berikan obat anti diare sesuai resep
  • Pantau intake dan output
  • Anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik ( sekali seminggu ).
3) Resiko kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan anoreksia dan diare

Tujuan: Pasien dapat mencegah kekurangan cairan dan elektrolit

Intervensi Keperawatan:
  • Timbang berat badan setiap hari
  • Kaji terhadap adanya tanda kekurangan cairan (mukosa/ kulit kering, turgor turun, oliguria, hipotensi, nadi cepat dan lainnya)
  • Berikan cairan intravena sesuai resep
  • Monitor kadar elektrolit serum
4) Nyeri abdomen berhubungan dengan berhubungan dengan inflamasi usus dan peningkatan peristaltik

Tujuan: Pasien menyatakan nyeri abdomen berkurang atau teradaptasi

Intervensi Keperawatan:
  • Berikan aktivitas untuk mengalihkan nyeri
  • Batasi aktivitas pasien/ hindari kelelahan
  • Beri kompres hangat pada abdomen.
  • Berikan obat anti mikroba, antidiare/antimotilitas sesuai resep
  • Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam pada saat nyeri muncul.
  • Berikan obat analgesik sesuai resep.
  • Observasi karakter nyeri

d. Evaluasi

Berdasarkan diagnosis yang telah diidentifikasi, perawat mengevaluasi perawatan pasien dengan kolitis ulseratif. Kriteria hasil yang diharapkan bahwa pasien akan:
  • Mengalami penurunan frekuensi diare
  • Memilih diet tinggi serat, dan menghindari makanan yang dapat meningkatkan gejala
  • Menentukan pola eliminasi usus yang teratur.
  • Tidak menunjukkan manifestasi komplikasi kolitis.