Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Asuhan Keperawatan (Askep) pada Pasien TBC


BLOGPERAWAT.NET - Pernahkah Anda melihat orang sakit saat bernafas, badannya kurus, posisi tubuh membungkuk, kadang batuk? Mungkin saja orang tersebut menderita TBC, dibawah ini adalah informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut.

1. Pengertian TBC

TBC adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

2. Penyebab TBC

Penyakit Tubercolosa Paru disebabkan oleh Mycibakterium Tuberkolosis, yang mempunyai sifat: basil berbentuk batang, bersifat aerob, mudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 80°C), mudah mati terkena sinar ultra violet (matahari) serta tahan hidup berbulan-bulan pada suhu kamar dan ruangan yang lembab.

3. Pathofisiologi TBC

Setelah seseorang menghirup Mycobakterium Tuberkolosis, kemudiam masuk melalui mukosiliar saluran pernafasan, akhirnya basil TBC sampai ke alveoli (paru), kuman mengalami multiplikasi di dalam paru-paru disebut dengan Focus Ghon, melalui kelenjar limfe basil mencapai kelenjar limfe hilus. Focus Ghon dan limfe denopati hilus membentuk Kompleks Primer. Melalui kompleks Primer inilah basil dapat menyebar melalui pembuluh darah sampai ke seluruh tubuh.

Perjalanan penyakit selanjutnya ditentukan oleh banyaknya basil TBC dan kemampuan daya tahan tubuh seseorang, kebanyakan respon imun tubuh dapat menghentikan multiplikasi kuman, namun sebagian kecil basil TBC menjadi kuman Dorman. Kemudian kuman tersebut menyebar ke jaringan sekitar, penyebaran secara Bronchogen ke paru-paru sebelahnya, penyebaran secara hematogen dan limfogen ke organ lain seperti; tulang, ginjal, otak.

Terjadi setelah periode beberapa bulan atau tahun setelah infeksi primer, reaktivasi kuman Dorman pada jaringan setelah mengalami multiplikasi terjadi akibat daya tahan tubuh yang menurun/lemah. Reinfeksi dapat terjadi apabila ada sumber infeksi, jumlah basil cukup, virulensi kuman tinggi dan daya tahan tubuh menurun.

4. Tes Diagnostik

Pada pasien TBC dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
  • Bakteriologis dengan specimen dahak, cairan pleura, cairan serebrospinalis.
  • Dahak untuk menentukan BTA, specimen dahak SPS (sewaktu, Pagi, sewaktu). Dinyatakan positif bila 2 dari 3 pemeriksaan tersebut ditemukan BTA positif.
  • Foto thorax → Bila ditemukan 1 pemeriksaan BTA positif, maka perlu dilakukan foto thorax atau SPS ulang, bila foto thorax dinyatakan positif maka dinyatakan seseorang tersebut dinyatakan BTA positif, bila foto thorax tidak mendukung maka dilakukan SPS ulang, bila hasilnya negatif berarti bukan TB paru.
  • Uji Tuberkulin yaitu periksaan guna menunjukan reaksi imunitas seluler yang timbul setelah 4-6 minggu pasien mengalami infeksi pertama dengan basil BTA. Uji ini sering dengan menggunakan cara Mantoux test. Bahan yang dipakai adalah OT (old tuberculin), PPD (purified protein derivate of tuberculin). Cara pemberian, Intra Cutan (IC), pada 1/3 atas lengan bawah kiri, pembacaan hasil dilakukan setelah 6-8 jam penyuntikan, hasil positif, bila diameter indurasi lebih dari 10 mm, negatif bila kurang dari 5 mm, meragukan bila indurasi 5-10 mm.

5. Pengobatan TBC

Pengobatan TBC bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah relaps, menurunkan penularan ke orang lain, mencegah terjadinya resistensi terhadap obat. Pengobatan membutuhkan waktu yang lama 6-8 bulan untuk membunuh kuman Dorman.

Terdapat 3 aktivitas anti TBC yaitu:
  • Obat bacterisidal: Isoniasid (INH), rifampisin, pirasinamid
  • Obat dengan kemampuan sterilisasi: rifampisin, PZA
  • Obat dengan kemampuan mencegah resistensi: rifampisin dan INH, sedangkan etambutol dengan streptomisin kurang efektif.
Cara pengobatan terdiri dari 2 fase
  • Fase initial/fase intensif (2 bulan) → Fase ini membunuh kuman dengan cepat, dalam waktu 2 minggu pasien infeksius menjadi tidak infeksi dan gejala klinis membaik BTA positif akan menjadi negatif dalam waktu 2 bulan
  • Fase Lanjutan (4-6 bulan) → Fase ini membunuh kuman persisten dan mencegah relaps.
Pada pengobatan ini (fase I dan II) membutuhkan pengawas minum obat (PMO)

Contoh pengobatan

2(HRZE)/4(HR)3, maksudnya adalah:
  • Fase initial obatnya adalah 2(HRZE), lama pengobatan 2 bulan dengan obat INH, rifampisin, pirazinamid dan etambutol diminum tiap hari.
  • Fase lanjutan 4(HR)3, adalah lama pengobatan 4 bulan, dengan INH dan rifampisin diminum 3 kali sehari.

6. Penularan TBC

Cara penularan dapat terjadi sebagai berikut:
  • Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif
  • Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
  • Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
  • Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
  • Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
  • Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. 

T. Managemen Keperawatan

a. Pengkajian

Batuk lebih dari 3 minggu, berdahak, kadang batuk darah, nyeri dada, sesak nafas, demam keringat malam hari, lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, riwayat paparan TBC, riwayat vaksinasi. Suara nafas bronchial, ronchi basah, gerakan nafas tertinggal, perkusi redup.

b. Diagnose Keperawatan dan intervensi

1) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi yang ada, keterbatasan kognitif atau salah interpretasi.

Tujuan:
  • Pasien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan dirinya
Intervensi:
  1. Kaji pengetahuan tentang penyakitnya, identifikasi salah persepsi dan reaksi emosi
  2. Kaji kemampuan dan perhatian untuk belajar, tingkat perkembangan dan hambatan untuk belajar
  3. Identifikasi support system termasuk orang lain yang berperan
  4. Ciptakan hubungan saling percaya antara pasien-perawat dan lainya.
  5. Ajarkan tentang TBC dan penatalaksanaannya meliputi:
    • Sifat penyakit dan penyebaranya
    • Tujuan pengobatan dan prosedur control
    • Pencegahan penyakit ke orang lain
    • Pentingnya memelihara kesehatan dengan diet TKTP, latihan dan istirahat yang teratur, hindari merokok
    • Nama obat, dosis, tujuan dan efek samping dari masing-masing obat
    • Minum cairan 2,5-3 liter tiap hari
    • Segera lapor ke dokter bila ada, nyeri dada, batuk darah, kesulitan bernafas, penurunan penglihatan, penurunan pendengaran.
  6. Dokumentasikan seluruh pengajaran dan hasilnya.
2) Ketidakefektifan penatalaksanaan terapi obat berhubungan dengan ketidakmampuan mengelola penatalaksanaan pengobatan yang cukup kompleks dan lama.

Tujuan:
  • Klien mendapatkan program pengobatan yang memadai dan paripurna
Intervensi:
  1. Kaji kemampuan perawatan diri klien dan adanya support system
  2. Kaji pengetahuan dan pengertian klien terhadap penyakit, komplikasi, penatalaksanaan dan resiko yang lain, bila perlu berikan pengetahuan tambahan
  3. Kolaborasi dengan keluarga atau lainnya untuk mengidentifikasi hambatan pengobatan
  4. Berikan instruksi secara tertulis atau verbal dengan jelas tentang pemberian obat dan caranya
  5. Rujuk klien ke pelayanan kesehatan masyarakat untuk memberikan pengobatan lanjutan
3) Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan sifat basil mikobakterium tuberkulosa yang tahan hidup setelah disekresikan.

Tujuan:
  • Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi
  • Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman
Intervensi:
  1. Kaji patologi penyakit (fase aktif atau bta (+)) dan potensial penyebaran infeksi melalui batuk, bersin, meludah, bicara.
  2. Identifikasi orang lain yang beresiko tertular: anggota keluarga, sahabat
  3. Anjurkan untuk batuk/bersin dengan menutup mulut/hidung dengan tissue yang disposible
  4. Buang tissue bekas tersebut pada tempat yang layak
  5. Anjurkan untuk meludah atau mengeluarkan dahak pada wadah yang telah diberikan desinfektan
  6. Kaji kontrol penyebaran infeksi, gunakan masker atau isolasi pernafasan
  7. Identifikasi faktor resiko infeksi berulang seperti status nutrisi, adanya dm, penggunaan kortikosteroid, hiv, kanker dsb.
  8. Anjurkan untuk pemeriksaan dahak ulang sesuai anjuran
  9. Penting! kolaborasi pemberian pengobatan OAT (obat anti TBC)
4) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses infeksi paru

Tujuan:
  • Klien memperlihatkan RR dalam batas normal dan tidak melaporkan adanya sesak nafas
Intervensi:
  1. Kaji RR dan kenyamanan untuk bernafas
  2. Auskultasi suara nafas
  3. Kumpulkan spesimen sputum untuk pemeriksaan bta / kultur, observasi warna, jumlah dan konsistensi sputum
  4. Rencanakan aktivitas klien yang diikuti periode istirahat
  5. Anjurkan cukup cairan bila tidak ada kontra indikasi
  6. Laksanakan program pengobatan
5) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekret kental, upaya batuk buruk, kelemahan.

Tujuan:
  • Jalan nafas klien paten
  • Mengeluarkan sekret tanpa bantuan
  • Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/mempertahankan jalan nafas
  • Berpartisipasi dalam program pengobatan
Intervensi:
  1. Kaji fungsi pernafasan: RR, kedalaman pernafasan dan penggunaan otot bantu nafas
  2. Kaji kemampuan untuk batuk efektif
  3. Ajarkan batuk efektif
  4. Posisi semi fowler tinggi
  5. Bersihkan sekret dari mulut, bila perlu lakukan penghisapan
  6. Berikan cairan sedikitnya 2500 ml per hari
  7. Kolaborasi pemberian mukolitik, bronkhodilator
6) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,sering batuk, dispnea

Tujuan:
  • Berat badan klien menuju BB ideal
  • Perubahan pola hidup untuk mempertahankan/meningkatkan BB ideal
Intervensi:
  1. Kaji status nutrisi pasien secara periodik
  2. Berikan diet TKTP
  3. Anjurkan untuk membawa makanan dari rumah bila tidak nafsu makan dari RS
  4. Anjurkan makan sedikit-sedikit tetapi sering
  5. Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan
  6. Tingkatkan nafsu makan klien dengan: ruangan bebas bau yang tidak sedap, atur jadwal tindakan perawatan dengan jam makan, sediakan menu yang menarik