Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Peran Perawat dan Hak Pasien Dalam Pemberian Obat


Secara umum, perawat memiliki peran sebagai advokat (Pembela) klien, koordinator, kolaborator, konsultan, pembaharu dan perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan.

Dalam manajemen terapi, perawat memiliki peran yang penting. Peran sebagai kolaborator dan pemberi asuhan keperawatan, mewajibkan seorang perawat memastikan bahwa kebutuhan pasien akan terapi dapat terpenuhi dengan tepat.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah dengan proses keperawatan, meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

A. Peran Perawat Dalam Pemberian Obat Kepada Pasien

Dalam menjalankan perannya, perawat menggunakan pendekatan proses keperawatan dengan memperhatikan 7 hal benar dalam pemberian obat, yaitu benar pasien, obat, dosis, rute pemberian, waktu, dokumentasi dan benar dalam informasi.

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah pasien (Doenges, 2000).

Untuk menetapkan kebutuhan terhadap terapi obat dan respon potensial terhadap terapi obat, perawat mengkaji banyak faktor. Adapun data hasil pengkajian dapat dikelompokkan ke dalam data subjektif dan data obyektif.

a. Data subyektif

1) Riwayat kesehatan sekarang
Perawat mengkaji tentang gejala-gejala yang dirasakan klien.

2) Pengobatan sekarang
Perawat mengkaji informasi tentang setiap obat, termasuk kerja, tujuan, dosis normal, rute pemberian, efek samping, dan implikasi keperawatan dalam pemberian dan pengawasan obat. 

Beberapa sumber harus sering dikonsultasi untuk memperoleh keterangan yang dibutuhkan. Perawat bertanggung jawab untuk mengetahui sebanyak mungkin informasi tentang obat yang diberikan.
  • Dosis, rute, frekuensi, dokter yang meresepkan, jika ada
  • Pengetahuan klien mengenai obat dan efek sampingnya
  • Harapan dan persepsi klien tentang efektivitas obat
  • Kepatuhan klien terhadap aturan dan alasan ketidakpatuhan
  • Alergi dan reaksi terhadap obat
  • Obat yang dibeli sendiri
3) Riwayat kesehatan dahulu, meliputi:
  • Riwayat Penyakit dahulu yang pernah diderita pasien
  • Obat yang disimpan dalam pemakaian waktu lampau
  • Obat yang dibeli sendiri /OTC
4) Sikap dan lingkungan klien
Sikap klien terhadap obat menunjukkan tingkat ketergantungan pada obat. Klien seringkali enggan mengungkapkan perasaannya tentang obat,khususnya jika klien mengalami ketergantungan obat. Untuk mengkaji sikap klien, perawat perlu mengobservasi perilaku klien yang mendukung bukti ketergantungan obat.
  • Anggota keluarga
  • Kemampuan menjalankan Activity of Daily Living (ADL)
  • Pola makan, pengaruh budaya klien
  • Sumber keuangan klien
b. Data Obyektif

Dapat diketahui dengan beberapa cara, diantaranya adalah dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan pemeriksaan laboratorium. Jangan lupa, anda harus memusatkan perhatian pada gejala-gejala dan organ-organ yang kemungkinan besar terpengaruh oleh obat.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan dibuat berdasarkan hasil pengkajian. Dibawah ini beberapa contoh diagnosa keperawatan NANDA untuk terapi obat.

a. Kurang pengetahuan tentang terapi obat yang berhubungan dengan:
  • Kurang informasi dan pengalaman
  • Keterbatasan kognitif
  • Tidak mengenal sumber informasi
b. Ketidakpatuhan terhadap terapi obat yang berhubungan dengan:
  • Sumber ekonomi yang terbatas
  • Keyakinan tentang kesehatan
  • Pengaruh budaya
c. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan:
  • Penurunan kekuatan
  • Nyeri dan ketidaknyamanan
d. Perubahan sensori atau persepsi yang berhubungan dengan:
  • Pandangan kabur
e. Ansietas yang berhubungan dengan:
  • Status kesehatan yang berubah atau terancam
  • Status sosial ekonomi yang berubah atau terancam
  • Pola interaksi yang berubah atau terancam
f. Gangguan menelan yang berhubungan dengan:
  • Kerusakan neuromuscular
  • Iritasi rongga mulut
  • Kesadaran yang terbatas
g. Penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif yang berhubungan dengan:
  • Terapi obat yang kompleks
  • Pengetahuan yang kurang

3. Perencanaan

Fase perencanaan ditandai dengan penetapan lingkup tujuan, atau hasil yang diharapkan. Lingkup tujuan yang efektif memenuhi hal berikut ini:
  • Berpusat pada klien dan dengan jelas menyatakan perubahan yang diharapkan.
  • Dapat diterima (pasien dan perawat)
  • Realistik dan dapat diukur
  • Dikerjakan bersama
  • Batas waktu jelas
  • Evaluasi jelas
Sebagai salah satu contoh adalah klien mampu mandiri dalam memberikan dosis insulin yang diresepkan pada akhir sesi ketiga dari pendidikan kesehatan yang dilakukan perawat.

Perawat mengatur aktivitas perawatan untuk memastikan bahwa teknik pemberian obat aman. Perawat juga dapat merencanakan untuk menggunakan waktu selama memberikan obat. Pada situasi klien belajar menggunakan obat secara mandiri, perawat dapat merencanakan untuk menggunakan semua sumber pengajaran yang tersedia. Apabila klien dirawat di rumah sakit,sangat penting bagi perawat untuk tidak menunda pemberian instruksi sampai hari kepulangan klien.

Baik,seorang klien mencoba menggunakan obat secara mandiri maupun perawat yang bertanggung jawab memberikan obat, sasaran berikut harus dicapai:
  • Tidak ada komplikasi yang timbul akibat rute pemberian obat yang digunakan.
  • Efek terapeutik obat yang diprogramkan dicapai dengan aman sementara kenyamanan klien tetap dipertahankan.
  • Klien dan keluarga memahami terapi obat.
  • Pemberian obat secara mandiri dilakukan dengan aman.

4. Implementasi

Implementasi meliputi tindakan keperawatan yang perlu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penyuluhan dan pengajaran pada fase ini merupakan tanggungjawab perawat. Dalam beberapa ruang lingkup praktek, pemberian obat dan pengkajian efek obat juga merupakan tanggung jawab keperawatan yang penting. Selain itu perawat harus mampu mencegah resiko kesalahan dalam pemberian obat.

Kesalahan pengobatan adalah suatu kejadian yang dapat membuat klien menerima obat yang salah atau tidak mendapat terapi obat yang tepat. Kesalahan pengobatan dapat dilakukan oleh setiap individu yang terlibat dalam pembuatan resep, transkripsi, persiapan, penyaluran, dan pemberian obat.

Perawat sebaiknya tidak menyembunyikan kesalahan pengobatan. Pada catatan status klien, harus ditulis obat apa yang telah diberikan kepada klien, pemberitahuan kepada dokter, efek samping yang klien alami sebagai respons terhadap kesalahan pengobatan dan upaya yang dilakukan untuk menetralkan obat.

Perawat bertanggung jawab melengkapi laporan yang menjelaskan sifat insiden tersebut. Laporan insiden bukan pengakuan tentang suatu kesalahan atau menjadi dasar untuk memberi hukuman dan bukan merupakan bagian catatan medis klien yang sah.

Laporan ini merupakan analisis objektif tentang apa yang terjadi dan merupakan penatalaksanaan risiko yang dilakukan institusi untuk memantau kejadian semacam ini. Laporan kejadian membantu komite interdisiplin mengidentifikasi kesalahan dan menyelesaikan masalah sistem di rumah sakit yang mengakibatkan terjadinya kesalahan.

B. Cara Mencegah Kesalahan Pemberian Obat

Untuk mencegah kesalahan dalam pemberian obat kepada pasien,perawat harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
  • Baca label obat dengan teliti → Banyak produk yang tersedia dalam kotak, warna, dan bentuk yang sama.
  • Pertanyakan pemberian banyak tablet atau vial untuk dosis tunggal → Kebanyakan dosis terdiri dari satu atau dua tablet atau kapsul atau vial dosis tunggal. Interpretasi yang salah terhadap program obat dapat mengakibatkan pemberian dosis tinggi berlebihan.
  • Waspadai obat-obatan bernama sama → Banyak nama obat terdengar sama (misalnya, digoksin dan digitoksin, keflex dan keflin, orinase dan ornade)
  • Cermati angka di belakang koma → Beberapa obat tersedia dalam jumlah seperti berikut ini: tablet coumadin dalam tablet 2,5 dan 25 mg, Thorazine dalam Spansules (sejenis kapsul) 30 dan 300 mg.
  • Pertanyakan peningkatan dosis yang tiba-tiba dan berlebihan → Kebanyakan dosis diprogramkan secara bertahap supaya dokter dapat memantau efek terapeutik dan responsnya.
  • Ketika suatu obat baru atau obat yang tidak lazim diprogramkan, konsultasi kepada sumbernya → Jika dokter tidak lazim dengan obat tersebut maka risiko pemberian dosis yang tidak akurat menjadi besar
  • Jangan beri obat yang diprogramkan dengan nama pendek atau singkatan tidak resmi → Banyak dokter menggunakan nama pendek atau singkatan tidak resmi untuk obat yang sering diprogramkan. Apabila perawat atau ahli farmasi tidak mengenal nama tersebut, obat yang diberikan atau dikeluarkan bisa salah.
  • Jangan berupaya atau mencoba menguraikan dan mengartikan tulisan yang tidak dapat dibaca → Apabila ragu, tanyakan kepada dokter. Kesempatan terjadinya salah interpretasi besar, kecuali jika perawat mempertanyakan program obat yang sulit dibaca.
  • Kenali klien yang memiliki nama akhir sama. Juga minta klien menyebutkan nama lengkapnya. Cermati nama yang tertera pada tanda pengenal → Seringkali, satu dua orang klien memiliki nama akhir yang sama atau mirip. Label khusus pada kardeks atau buku obat dapat memberi peringatan tentang masalah yang potensial.
  • Cermati ekuivalen → Saat tergesa-gesa, salah baca ekuivalen mudah terjadi(contoh, dibaca miligram, padahal mililiter)

C. Keamanan Dalam Pemberian Obat Melalui Injeksi

Cedera akibat tusukan jarum pada perawat merupakan masalah yang signifikan dalam institusi pelayanan kesehatan dewasa ini. Ketika perawat tanpa sengaja menusuk dirinya sendiri dengan jarum suntik yang sebelumnya masuk dalam jaringan tubuh klien, perawat beresiko terjangkit sekurang kurangnya 20 patogen potensial.

Perawat beresiko terkena cedera akibat tusukan jarum suntik melalui salah satu dari cara berikut:
  • Meleset ketika mencoba kembali menutup jarum dan menusuk tangan anda yang sebelah.
  • Anda kembali menutup jarum dan jarum menembus tutup itu.
  • Tutup jarum yang sudah dipasang lepas
  • Mencederai diri anda sendiri saat mengumpulkan kotoran yang ternyata berisi instrumen tajam.
Mengingat resiko tertular penyakit akibat needle stick injury, ada cara untuk melindungi diri agar aman saat menutup kembali jarum suntik yang telah digunakan.

Teknik menutup kembali jarum dengan satu tangan
  • Jangan pernah menutup jarum kembali. Gunakan prosedur ini hanya bila sebuah wadah pembuangan benda tajam tidak tersedia dan anda tidak dapat meninggalkan ruangan → Cedera akibat tertusuk jarum menempatkan tenaga perawat pada risiko terkena patogen yang ditularkan melalui darah. Setelah menggunakan sebuah jarum, perawat kesehatan harus membuang benda yang tajam ini ke wadah pembuangan terdekat yang sudah didesain
  • Sebelum memberi injeksi, tempatkan tutup jarum di atas benda padat yang tidak bergerak, misalnya tepi meja disisi tempat tidur. Bagian tutup jarum yang terbuka harus menghadap ke wajah dan dalam jangkauan tangan perawat yang dominan, atau jangkauan infeksi, atau jangkauan tangan → Hal ini membuat perawat siap melakukan seluruh prosedur dengan cara yang aman.
  • Beri injeksi → Hal ini memastikan pemberian obat.
  • Tempatkan ujung jarum pada pintu masuk tutup jarum. Dengan perlahan masukkan jarum ke dalam tutupnya → Memaksa jarum masuk ke dalam tutupnya dapat membuat jarum menjadi bengkok
  • Begitu jarum berada di dalam tutupnya, gunakan sebuah benda untuk menahan sehingga jarum dapat ditutup seluruhnya → Gunakan gerakan perlahan dan jangan pernah memaksa jarum ke dalam tutupnya.
  • Buang jarum pada kesempatan pertama → Hal ini menjamin lingkungan yang aman untuk klien dan perawat

1. Evaluasi

Efektivitas pendidikan kesehatan mengenai terapi obat dan pencapaian tujuan dinyatakan dalam fase evaluasi. Jika tujuan tidak tercapai, perawat perlu menentukan penyebabnya dan mengkaji ulang sesuai sebabnya. Bila tujuan terpenuhi maka rencana keperawatan telah selesai.

Berikut adalah contoh langkah evaluasi untuk menentukan bahwa ada komplikasi yang terkait dengan rute pemberian obat:
  • Mengobservasi adanya memar, implamasi, nyeri setempat atau perdarahan di tempat injeksi.
  • Menanyakan klien tentang adanya rasa baal atau rasa kesemutan di tempat injeksi.
  • Mengkaji adanya gangguan saluran cerna, termasuk mual, muntah, dan diare pada klien.
  • Menginspeksi tempat IV untuk mengetahui adanya feblitis, termasuk demam, pembengkakkan dan nyeri tekan setempat

2. Hak Klien dalam Pemberian Obat

Hak merupakan kekuasaan/kewenangan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu badan hukum untuk mendapatkan atau memutuskan untuk berbuat sesuatu. Terkait dengan pemberian obat-obatan, pasien memiliki hak sebagai berikut:

a. Hak klien mengetahui alasan pemberian obat

Hak ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi (informed concent), yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan.

b. Hak klien untuk menolak pengobatan

Klien dapat menolak pemberian pengobatan. Adalah tanggung jawab perawat untuk menentukan, jika memungkinkan, alasan penolakan dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan.

Jika suatu pengobatan ditolak, penolakan ini harus segera didokumentasikan. Perawat yang bertanggung jawab, perawat primer, atau dokter harus diberitahu jika pembatalan pemberian obat ini dapat membahayakan klien, seperti dalam pemberian insulin. Tindak lanjut juga diperlukan jika terjadi perubahan pada hasil pemeriksaan laboratorium, misalnya pada pemberian insulin atau warfarin (Taylor, Lillis and LeMone, 1993; Kee and Hayes, 1996).

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat.