Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Prinsip Etik dalam Asuhan Keperawatan


BLOGPERAWAT.NET - Kali ini kita akan mempelajari pokok-pokok materi tentang prinsip etik dalam melakukan pengkajian keperawatan, menetapkan diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan yang akan menjadi dasar dalam pendekatan keperawatan berdasarkan asuhan.

Ketika seorang perawat memberikan pelayanan kesehatan pada klien, maka perawat tersebut harus mengikuti prinsip-prinsip etika keperawatan yang ada. Dalam memberikan pelayanan kesehatan pada klien, ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh pasien.

Artinya, pelayanan keperawatan sebenarnya tidak hanya mementingkan tercapainya tujuan, tetapi juga mementingkan proses bagaimana pelayanan tersebut diberikan kepada pasien.

Hal ini sesuai dengan pengertian praktek keperawatan yang bermakna tindakan perawat yang dilakukan melalui kolaborasi dengan klien dan atau tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan yang dilandasi dengan substansi keilmuan khusus, pengambilan keputusan dan keterampilan perawat berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip ilmu biologis, psikologis, sosial, kultural dan spiritual.

Prinsip dari tahapan proses keperawatan juga sesuai dengan pengertian asuhan keperawatan yang bermakna sebagai sebuah proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang diberikan kepada klien di sarana kesehatan dan tatanan pelayanan lainnya, dengan menggunakan pendekatan ilmiah keperawatan berdasarkan kode etik dan standar praktik keperawatan.

Tahapan proses keperawatan telah diidentikkan sebagai metode ilmiah keperawatan untuk para penerima tindakan keperawatan, disajikan sesuai dengan langkah-langkah dari proses keperawatan. Atas dasar itu, berikut ini akan dijelaskan secara detail tentang prinsip tahapan proses keperawatan terhadap pasien.

Prinsip Etis dalam Melakukan Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam melakukan pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Lyer etal, 1996).

Tujuan dari pengkajian adalah agar perawat dapat mengumpulkan data objektif dan subjektif dari klien, khususnya mengenai keluhan yang dideritanya sehingga memudahkan perawat mengambil tindakan keperawatan. Dalam pengkajian tersebut, data-data yang terkumpul mencakup klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, maupun kebudayaan.

Selama melakukan pengkajian perawat harus memperhatikan beberapa hal pokok, sebagaimana berikut:

a. Perawat berusaha untuk mengetahui dan memahami secara keseluruhan tentang keluhan yang dialami oleh pasien. Perawat juga harus mengetahui tentang situasi yang sedang dihadapi oleh pasien secara keseluruhan yang berkaitan dengan keluhan yang dideritanya.

Misal, perawat menanyakan dengan cara yang asertif, tidak menuduh, tidak menghakimi, mendengarkan dengan empati apakah pasien adalah seorang perokok; apakah di rumahnya terdapat salah seorang anggota keluarga yang perokok; apakah ia senang meminum alkohol, dan lain sebagainya.

Cara untuk mengetahui semua hal tersebut yaitu dengan memperhatikan kondisi fisik, psikologis, emosi, sosial kultural, spiritual yang bisa mempengaruhi status kesehatannya.

b. Perawat berusaha mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini, bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi pasien dimasa yang akan datang.

Hal itu diperlukan untuk membuat sebuah database yang lengkap dan objektif. Data yang terkumpul tersebut berasal dari perawat – klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. Misalnya, dengan gaya yang santai bertanya tentang kebiasaan, pola makan, pola tidurnya, dan lain-lain.

c. Dalam pengkajian, perawat juga harus memahami bahwa pasien adalah sumber informasi primer.

Artinya, jawaban yang harus dipegang oleh seorang perawat ketika ia bertanya sesuatu adalah jawaban yang keluar dari mulut pasien, bukan keluarganya, apalagi orang lain. Sebab, orang yang lebih tahu mengenai keadaan pasien dan keluhan yang diderita pasien adalah pasien itu sendiri. Kecuali pasien tersebut tidak bisa berbicara karena dalam kondisi tidak sadar, pingsan, maka informasi penting yang harus diperoleh perawat adalah dari keluarga dekatnya.

d. Dalam melakukan pengkajian, bisa saja seorang perawat melengkapi informasi dari sumber sekunder selain pasien itu sendiri.

Artinya, dimungkinkan bagi perawat untuk bertanya kepada pihak-pihak lain yang dianggap mempunyai/memberikan informasi seputar kesehatan pasien. Sumber informasi selain pasien meliputi anggota keluarga, teman dekat maupun orang-orang yang berperan penting dalam kesehatan klien.

Dalam melakukan pengkajian perawat dapat menggunakan beberapa metode untuk bisa mendapatkan informasi-informasi seputar kesehatan pasien yang dirawatnya.

Metode mengumpulkan informasi dalam pengkajian keperawatan

Adapun metode mengumpulkan informasi dalam pengkajian adalah sebagai berikut:
  1. Interview/wawancara - Perawat bisa bertanya secara langsung kepada pasien.
  2. Riwayat kesehatan atau keperawatan - Perawat bisa melacak riwayat kesehatan pasien. Misalnya, berapa kali ia telah mengalami keluhan batuk, sakit kepala, dan lain sebagainya.
  3. Pemeriksaan fisik - Metode ini untuk mengetahui apakah ada kelainan dalam fisik pasien sehingga menyebabkan ia mengalami gangguan kesehatan tertentu (mengalami keluhan).
  4. Mengumpulkan data penunjang - Hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medis) untuk menunjang informasi mengenai kesehatan pasien.
Catatan: Perawat harus melakukan pengkajian secara akurat, lengkap sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosis keperawatan serta perawat harus berusaha mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan masa lalu, saat ini bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi pasien di masa yang akan datang.

Prinsip Etis dalam Menetapkan Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif untuk membuat diagnosis keperawatan.

Menurut Carpenito (2000), diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu, kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan.

Diagnosis keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekan medis dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.

Diagnosis keperawatan adalah suatu bagian integral dari proses keperawatan. Hal ini merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisis, dimana perawat mengidentifikasi respons-respons individu terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual dan potensial. Jadi, intervensi merupakan metode komunikasi tentang asuhan keperawatan pada klien.

Di beberapa negara, mendiagnosis diidentifikasi dalam tindakan praktik keperawatan sebagai suatu tanggung jawab legal dari seorang perawat profesional. Diagnosis keperawatan memberikan dasar petunjuk untuk memberikan terapi yang pasti, dimana perawat bertanggung jawab didalamnya. Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi mendalam terhadap data yang diperoleh perawat dari pengkajian keperawatan klien.

Salah satu manfaat dari diagnosis keperawatan adalah memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan batas wewenang perawat.

The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 1992) mendefinisikan diagnosis keperawatan sebagai semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga dan dan respons komunitas terhadap sesuatu yang berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.

Ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan oleh seorang perawat ketika melakukan diagnosis keperawatan, yaitu:
  1. Seorang perawat membuat diagnosis keperawatan tentu membutuhkan keterampilan klinik yang baik, mencakup proses diagnosis keperawatan dan perumusan dalam pembuatan pelayanan keperawatan.
  2. Proses dari diagnosis keperawatan dibagi menjadi kelompok interpretasi dan menjamin akurasi diagnosis dari proses keperawatan itu sendiri.
  3. Perumusan pernyataan diagnosis keperawatan memiliki beberapa syarat yaitu mempunyai pengetahuan yang dapat membedakan antara sesuatu yang aktual, risiko dan potensial dalam diagnosis keperawatan.
Semua data yang ditampilkan pada setiap diagnosis keperawatan mencakup hal-hal berikut ini:
  1. Definisi. Merujuk kepada definisi NANDA yang digunakan pada diagnosis-diagnosis keperawatan yang telah ditetapkan.
  2. Kemungkinan etiologi. Bagian ini menyatakan penyebab-penyebab yang mungkin untuk masalah yang telah diidentifikasi. Faktor yang berhubungan/risiko diberikan untuk diagnosis yang beresiko tinggi.
  3. Batasan karakteristik. Bagian ini mencakup tanda dan gejala yang cukup jelas mengidentifikasi keberadaan suatu masalah. Sekali lagi seperti pada definisi dan etiologi.
  4. Sasaran/tujuan. Pernyataan-pernyataan ini ditulis sesuai dengan objektif perilaku klien. Sasaran/tujuan ini harus dapat diukur, merupakan tujuan jangka panjang dan pendek, untuk digunakan dalam mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan dalam mengatasi masalah yang telah diidentifikasi.
  5. Mungkin akan ada lebih dari satu tujuan jangka pendek dan mungkin merupakan “batu loncatan” untuk memenuhi tujuan jangka panjang.
  6. Intervensi dengan rasional tertentu. Hanya intervensi-intervensi yang sesuai untuk bagian diagnosis yang dapat ditampilkan.
  7. Hasil klien yang diharapkan/kriteria pulang. Perubahan perilaku sesuai dengan kesiapan klien untuk pulang yang mungkin untuk dievaluasi.
  8. Informasi mengenai obat-obatan. Informasi ini mencakup implikasi keperawatan.
Catatan: Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga dan respons komunitas terhadap sesuatu yang berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.

Prinsip Etis dalam Menentukan Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan, yaitu kesembuhan atas penyakit atau segala keluhan yang diderita pasien.

Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan.

Intervensi keperawatan harus spesifik dan harus dinyatakan dengan jelas dan tegas, seperti bagaimana, kapan, dimana, frekuensi dan besarnya, memberikan isi dari aktivitas yang direncanakan. Intervensi keperawatan dapat dibagi menjadi dua, mandiri (dilakukan oleh perawat sendiri tanpa bantuan adanya dari orang lain) dan kolaboratif (dilakukan oleh pemberi perawatan lainnya/kerja sama).

Langkah-langkah perencanaan

Untuk mengevaluasi rencana tindakan keperawatan, maka ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan, yaitu:
  1. Menentukan prioritas masalah: melalui pengkajian
  2. Menentukan kriteria hasil (outcomes). Pedoman penulisan kriteria hasil berdasarkan:
    • S → Spesifik (tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda)
    • M → Measurable (tujuan keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang perilaku klien; dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dll.)
    • A → Achievable (tujuan harus dicapai)
    • R → Reasonable (tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah)
    • T → Time
  3. Menentukan rencana tindakan
  4. Dokumentasi

Prinsip Etis dalam Melakukan Implementasi Keperawatan

Tahap keempat yang dilakukan perawat dalam tindakan keperawatan atau proses keperawatan adalah implementasi. Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Lyer, 1996).

Pengertian implementasi dalam konteks ini adalah memulai dan melengkapi tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan.Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditunjukkan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.

Prinsip Etis dalam Melakukan Evaluasi Keperawatan

Dalam evaluasi perawat menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan keperawatan yang telah ia capai. Menurut Griffith (1998), evaluasi sebagai sesuatu yang direncanakan, dan perbandingan yang sistematik pada status kesehatan klien.

Evaluasi berfokus pada individu klien dan kelompok dari klien itu sendiri. Proses evaluasi memerlukan beberapa keterampilan dalam menetapkan rencana asuhan keperawatan, termasuk pengetahuan mengenai standar asuhan keperawatan, respons klien yang normal terhadap tindakan keperawatan dan pengetahuan konsep teladan dari keperawatan.

Evaluasi yang dilakukan perawat tentang keperawatan mengacu pada beberapa hal, penilaian, tahapan dan perbaikan. Perawat akan menemukan faktor-faktor yang menjadi penyebab mengapa suatu proses keperawatan dapat berhasil atau gagal. Misalnya, perawat akan menemukan reaksi klien terhadap intervensi keperawatan yang diberikan dan menetapkan apa yang menjadi sasaran dari rencana keperawatan dapat diterima.

Dari evaluasi, perawat bisa melakukan beberapa hal berikut:
  • Menetapkan kembali informasi baru yang diberikan kepada klien untuk mengganti atau menghapus diagnosa keperawatan, tujuan atau intervensi keperawatan.
  • Perawat juga bisa menentukan target dari suatu hasil yang ingin dicapai bersama dengan klien.

Pendekatan Keperawatan Berdasarkan Asuhan

Hubungan antar perawat dengan pasien merupakan pusat pendekatan berdasarkan asuhan,dimana seorang perawat dapat memberikan perhatian khusus secara langsung kepada pasien, sebagaimana yang dilakukan sepanjang kehidupannya sebagai perawat.

Perspektif asuhan memberikan arah bagaimana perawat sebagai tenaga medis dapat memberi waktunya untuk dapat duduk bersama dengan pasien maupun sejawat.

Karakteristik perspektif dari asuhan meliputi hal-hal berikut ini:
  1. Pendekatan keperawatan berdasarkan asuhan berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan
  2. Pendekatan keperawatan berdasarkan asuhan dapat meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau pasien sebagai manusia. Sebab, pendekatan ini menjunjung tinggi hubungan kultural dan hubungan emosional sehingga semakin merekatkan antara perawat dengan pasien.
  3. Pendekatan keperawatan berdasarkan asuhan mendorong perawat bersedia untuk mendengarkan dan mengolah saran-saran dari orang lain baik dari teman sejawat, dokter, masyarakat, bahkan pasien sebagai dasar yang mengarah pada tanggung jawab profesional di bidang keperawatan.
  4. Pendekatan keperawatan berdasarkan asuhan mendorong perawat untuk meningkatkan kembali arti tanggung jawab moral yang meliputi kebajikan-kebajikan berikut ini: kebaikan, kepedulian, empati, perasaan kasih sayang, dan menerima kenyataan apa adanya.
Pada sisi yang lain, praktik keperawatan yang berdasarkan prinsip asuhan juga memiliki tradisi memberikan komitmen utamanya terhadap pasien. Selain itu, banyak yang mengklaim bahwa advokasi terhadap pasien merupakan salah satu peran yang sudah dilegitimasi sebagai peran dalam memberikan asuhan keperawatan. Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung hak-hak pasien.

Hal tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat, dalam menemukan kepastian tentang dua sistem pendekatan etika yang dilakukan, yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan asuhan.

Seorang perawat yang memiliki komitmen tinggi dalam mempraktikkan keperawatan profesional dan tradisi tersebut perlu mengingat hal-hal sebagai berikut:
  1. Perawat hendaknya dapat memastikan staf atau kolega tetap memegang teguh komitmen utamanya terhadap pasien, sehingga tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
  2. Perawat hendaknya dapat memberikan prioritas utama terhadap pasien dan masyarakat pada umumnya. Jangan sampai kepentingan masyarakat atau pasien dinomorduakan di bawah kepentingan pribadi. Kemaslahatan masyarakat (pasien) adalah hal terpenting dalam pendekatan keperawatan berdasarkan asuhan.
  3. Perawat hendaknya memiliki kepedulian untuk mengevaluasi terhadap kemungkinan adanya klaim otonomi dalam kesembuhan pasien. Karena itu, seorang perawat harus memberikan informasi yang akurat, menghormati dan mendukung hak pasien dalam mengambil keputusan