Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep Dasar Riset Keperawatan

BLOGPERAWAT.NET - Dalam materi kali ini akan dibahas tentang konsep dasar riset keperawatan. berikut ini adalah rincian penjelasan dari materi tersebut.

Hakekat Riset Keperawatan

Sebagai awal pembelajaran materi ini, Anda perlu memahami tentang hakekat riset keperawatan. Tiga kata yang menyusunnya yaitu 1) hakekat, 2) riset, dan 3) keperawatan. Teori yang mengungkapkan pengertian ketiga kata di atas sangat banyak, kita samakan pengertian tiga kata tersebut.

Kata hakekat berasal dari bahasa Arab, dalam bahasa Indonesia disebut filosofi atau filsafat. Dua kata itu merupakan terjemahan dari kata philosophia (bahasa Yunani). Philosophia sendiri berasal dari dua kata yaitu philo berarti cinta dan Sophia berarti kebenaran atau bijak. Sehingga kata hakekat diartikan cinta kebenaran atau mencintai sesuatu yang bijak.

Kata riset terjemahan dari research (bahasa Inggris). Research berasal dari dua kata yaitu re berarti kembali atau berulang dan search berarti mencari. Sehingga research diartikan mengulang pencarian atau mencari kembali. Kegiatan riset harus berpedoman pada tiga kaidah ilmiah yaitu logika = hipotesis – verifikasi yang berasal dari kata logico – hypothetico – verificative (Yunani).

Kata keperawatan terjemahan dari nursing (bahasa Inggris). Keperawatan, menurut hasil lokakarya nasional keperawatan tahun 1983 yaitu suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Tiga pengertian kata di atas jika digabungkan berarti suatu kegiatan berulang atau mencari kembali tentang keperawatan yang didasarkan pada kebenaran. Sehingga dengan riset, ilmu keperawatan berkembang terus berdasarkan kebenaran yang ada berbasis fakta (evidence based).

Mempelajari hakekat sama halnya mempelajari filosofi atau filsafat ilmu termasuk ilmu keperawatan. Dalam filsafat ilmu, Anda akan mempelajari:

1. Ontologi

Adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang obyek apa yang ditelaah ilmu. Dapat dijawab, ilmu yang dimaksud dalam materi ini adalah ilmu keperawatan dan obyek yang ditelaah dalam ilmu keperawatan adalah empat teori yang menyusun paradigma keperawatan yaitu keperawatan, kesehatan, lingkungan, dan manusia.

2. Epistemologi

Adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana proses diperolehnya ilmu atau proses penyusunan suatu ilmu. Untuk menyusun ilmu keperawatan berdasarkan teori yang diyakini dalam paradigma keperawatan, bukan disusun dalam waktu yang cepat dan mudah untuk memperolehnya.

Ilmu keperawatan ditemukan oleh tokoh keperawatan modern yaitu Florence Nightingale pada tahun 1852 dengan melakukan pengamatan terus menerus dalam jangka waktu lama. Pengamatan dilakukan pada lingkungan yang mempengaruhi masalah kesehatan penghuni barak pengungsian saat terjadi perang di Inggris.

Ilmu keperawatan dari tahun ke tahun berkembang pesat ilmu termasuk tokoh keperawatan yang mengembangkan. Saat ini lebih dari 22 teori keperawatan yang dikembangkan oleh tokoh keperawatan.

3. Aksiologi

Adalah ilmu yang mempelajari tentang untuk apa ilmu diciptakan atau dipergunakan. Secara sederhana, kita bertanya apakah kemanfaatan ilmu bagi kemaslahatan umat manusia. Dari pengertian keperawatan, tergambar jelas bahwa ilmu keperawatan sangat bermanfaat untuk membantu manusia menyelesaikan masalah kesehatan manusia sesuai kebutuhannya. Sehingga, ilmu keperawatan perlu dikembangkan terus seiring dengan kehidupan manusia dan kemajuan teknologi.

Teori keperawatan yang dikenalkan pertama kali oleh Florence Nightingale mengalami perkembangan melalui suatu riset. Pada saat itu, teori keperawatan menekankan tentang pentingnya lingkungan yang dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia, kesehatan, dan keperawatan.

Kelemahan yang terdapat dalam teori keperawatan pertama kali, terus dikembangkan sehingga banyak teori keperawatan memiliki kekhususan. Sebagai teladan:
  1. Teori keperawatan oleh Dorothea Orem berfokus pada tingkat ketergantungan pasien dirawat
  2. Teori keperawatan oleh Virginia Henderson berfokus pada 14 kebutuhan manusia
  3. Teori keperawatan oleh Betty Newman berfokus pada model sistem, dan sebagainya.

Manfaat Riset Keperawatan

Riset adalah suatu kegiatan yang sangat penting dalam keperawatan. Menurut Hamid (1999) dan Brockopp & Tolsma (1995) dengan riset keperawatan akan diperoleh manfaat:
  1. Menyelesaikan masalah keperawatan dan pengembangan atau memvalidasi teori.
  2. Memberikan fakta yang berasal dari pelayanan keperawatan.
  3. Menerapkan hasil riset untuk meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan keperawatan.
  4. Mengevaluasi mutu pelayanan dan asuhan keperawatan.
  5. Mengembangkan pengetahuan ilmiah yang menjadi landasan praktik keperawatan.
  6. Sebagai kunci untuk menyediakan pelayanan yang tepat sesuai kebutuhan manusia.
  7. Proses yang memungkinkan banyak pertanyaan muncul dalam praktik keperawatan sehari-hari dapat dijawab.
  8. Memberikan data yang mencatat efektifitas dan kualitas asuhan keperawatan.

Proses Berpikir Ilmiah

Riset keperawatan memerlukan proses berpikir ilmiah. Secara filsafat ilmu proses berpikir ilmiah seorang perawat dalam riset keperawatan yaitu LOGICO – HYPOTHETICO – VERIFICATIVE yang artinya buktikan secara logis, tarik hipotesis, dan ajukan bukti empiris.

Penjelasannya yaitu:
  • LOGICO - Merupakan suatu proses berpikir logis yang dibedakan menjadi berpikir induktif dan berpikir deduktif. Saat berpikir logis seorang perawat harus memiliki fakta yang akurat berasal dari praktik keperawatan dan kesenjangan teori yang diterapkan dalam praktik keperawatan. Berdasar fakta dan kesenjangan selanjutnya dianalisis dan ditarik suatu simpulan.
  • HYPOTHETICO - Simpulan yang dirumuskan berasal dari proses berpikir logis (logico) berbasis fakta dan teori. Simpulan tersebut merupakan simpulan sementara atau hipotesis atau hypothetico setelah menganalisis suatu teori dan fakta. Hipotesis sendiri berasal dari dua kata yaitu hipo berarti lemah dan tesis berarti pernyataan. Secara harfiah, hipotesis adalah suatu pernyataan yang lemah dan perlu dibuktikan kebenarannya. Untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis diperlukan kegiatan verifikasi atau pembuktian.
  • VERIFICATIVE - Suatu kegiatan perawat yang harus dilakukan untuk membuktikan hipotesis yang telah ditetapkan. Pembuktian yang dilakukan haruslah diperoleh informasi atau data yang sesuai dengan hipotesis pada tempat yang dimana obyek yang tersebut dalam hipotesis berada. Pada kegiatan verifikasi ini, keadaan harus ditentukan oleh perawat.
Dalam melakukan logico – hypothetico – verificative ini, perawat perlu memiliki kemampuan menulis yang sederhana dan lugas. Sederhana dan lugas bermaksud bahwa kalimat yang ditulis hanya terdiri beberapa kata tetapi padat makna.

Teladan proses berpikir dan kemampuan menulis seperti di bawah.
  • Data/fakta: Dua desa berlainan mempunyai penduduk tradisional yang memelihara ayam petelur. Desa pertama telurnya dijual, desa kedua telurnya dimakan oleh anggota keluarga. Pada satu saat dilakukan pengukuran, penduduk desa kedua relatif sehat.
  • Simpulan: Penduduk yang makan telur kesehatannya dalam kondisi baik atau Telur berpengaruh positif terhadap kesehatan.
  • Verifikasi: Pembuktian pada situasi yang mirip.

Syarat Riset Keperawatan

Syarat kemampuan seorang perawat yang melakukan riset keperawatan yaitu:
  1. Daya nalar tinggi - Yang dimaksud daya nalar tinggi, seorang perawat harus mampu mengenali fakta yang ditemui pada tempat praktik keperawatan dan berpikir secara logis untuk menemukan kesenjangan yang ada secara cepat agar dapat ditentukan dan dilakukan penyelesaian terhadap kesenjangan yang ada.
  2. Ide originalitas - Originalitas ini merupakan suatu kunci untuk mengembangkan teori keperawatan dengan ciri tertentu (spesifik) sehingga memungkinkan hasil pemikiran (ide) yang diciptakan mendapatkan pengakuan dari orang lain.
  3. Daya ingat - Kemampuan mengingat merupakan suatu syarat penting yang perlu dimiliki perawat dalam melakukan riset. Selama melakukan pengamatan untuk mengumpulkan data riset, tidak semua kegiatan dapat didokumentasikan secara langsung secara tertulis sehingga diperlukan kemampuan daya ingat untuk didokumentasikan pada waktu yang lain secara cepat.
  4. Sifat waspada - Dalam melakukan riset keperawatan, kewaspadaan diperlukan untuk menyusun suatu perencanaan (proposal) dan pengumpulan data riset. Kewaspadaan pada saat penyusunan diperlukan agar tujuan riset keperawatan dapat dilakukan dan diperoleh hasil yang optimal. Kewaspadaan pengumpulan data diperlukan agar data yang diperoleh memiliki akurasi (ketepatan) yang tinggi.
  5. Pengamatan akurat - Keakurasian dalam pengamatan diperlukan untuk mengidentifikasi suatu perubahan kecil yang diberikan subyek dalam riset keperawatan. Semakin akurat pengamatan semakin baik hasil riset yang dikumpulkan sehingga dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
  6. Daya konsentrasi tinggi -  Setiap melakukan riset keperawatan, diperlukan kemampuan konsentrasi untuk menyelesaikan suatu kegiatan.
  7. Bekerjasama - Kegiatan riset keperawatan sebenarnya bukan merupakan hasil karya individu tetapi merupakan hasil dari kontribusi orang lain. Sebagai ilustrasi: pada saat pengumpulan data pasien, pasien merupakan subyek riset yang dapat menentukan data yang diperoleh perawat dapat tidak akurat, agar data yang diperoleh akurat kerja sama perawat dengan pasien sangat diperlukan. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa dalam riset keperawatan sangat diperlukan kerja sama.
  8. Sehat - Suatu kegiatan riset keperawatan memerlukan kesiapan dan kemampuan perawat untuk melakukan secara tepat dan cepat, sehingga riset ini diperlukan seorang perawat yang memiliki kesehatan yang prima secara fisik dan jiwa.
  9. Motivasi tinggi - Setiap perawat yang melakukan riset diperlukan daya, upaya, dan komitmen yang optimal untuk mengembangkan teori keperawatan. Tindakan yang demikian merupakan bentuk motivasi internal yang tinggi.
  10. Jujur - Kegiatan riset keperawatan tidak setiap saat mendapat asupan dan supervisi dari orang lain. Kegiatan perencanaan dan pelaksanaan riset sepenuhnya menjadi tanggung jawab periset. Oleh karena itu diperlukan kejujuran yang berasal dari periset, sehingga akan diperoleh hasil riset yang baik dan bermutu untuk pengembangan teori keperawatan. Kejujuran yang perlu dilakukan oleh periset adalah mengungkapkan keadaan dan hasil yang sebenarnya.

Keterkaitan Teori, Praktik, dan Riset Keperawatan

Keterkaitan antara teori, praktik, dan riset keperawatan digambarkan sebagai segitiga emas sebagai berikut:

Keterkaitan Teori, Praktik, dan Riset Keperawatan

Pada gambar tampak bahwa antara teori, praktik, dan riset keperawatan masing-masing dihubungkan dengan tanda panah dua arah berarti ketiganya mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling tergantung.

Penjelasan keterkaitan gambar di atas:
  • Teori keperawatan yang telah dipelajari
    1. Secara aksiologi akan bermanfaat bagi kemaslahatan umat apabila mempunyai tempat praktik keperawatan untuk penerapan
    2. Harus diyakini setiap teori keperawatan memiliki keterbatasan sehingga keterbatasan yang telah diidentifikasi harus dilakukan riset agar dapat menyelesaikan masalah.
  • Praktik keperawatan sebagai tempat pelayanan kepada pasien atau klien
    1. Selama pelayanan asuhan akan ditemukan hambatan atau kendala atau masalah baru, sehingga akan memberi kontribusi langsung kepada teori untuk dikembangkan
    2. Merupakan tempat pelaksanaan riset dan pengumpulan data sesuai perencanaan yang telah dibuat.
  • Riset keperawatan merupakan suatu kegiatan
    1. Menghasilkan teori baru untuk memperkaya khasana teori keperawatan yang akhirnya dapat dikembangkan ilmu keperawatan yang baru
    2. Hasil riset yang ada harus diterapkan pada praktik keperawatan untuk menilai efektifitas atau memungkinkan menemukan masalah baru untuk dicarikan alternatif penyelesaian masalah.
Gambar dan penjelasan di atas menggambarkan keterkaitan antara teori, praktik, dan riset keperawatan sangat erat berhubungan sehingga tidak mungkin untuk dipisahkan atau dihilangkan salah satu. Sehingga,
  1. Setiap perawat yang mempelajari teori harus berpikir tentang penerapan (praktik) dan pengembangan (riset)
  2. Setiap perawat yang memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan harus berpikir tentang kontribusi kepada teori dan menyadari sebagai tempat riset.
  3. Setiap perawat yang melakukan riset harus berpikir tentang pengembangan teori keperawatan baru dan hasil riset dapat diterapkan pada tempat praktik keperawatan.

Peran Perawat Dalam Riset

Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan masyarakat. Peran perawat yang utama (Loknas Keperawatan tahun 1983) yaitu:
  1. Care giver
  2. Manager
  3. Educator
  4. Researcher
Peran yang keempat menunjukkan bahwa perawat harus menjadi periset unggul dalam rangka pengembangan ilmu keperawatan untuk meningkatkan manfaat dan mutu pelayanan keperawatan. Peran perawat sebagai periset keperawatan sangat penting untuk pengembangan ilmu keperawatan.

Peran perawat dalam riset yaitu:
  1. Menyadari nilai dan relevansi riset keperawatan.
  2. Membantu mengidentifikasi area masalah riset keperawatan.
  3. Membantu pelaksanaan pengumpulan data dalam riset keperawatan.
  4. Menerapkan hasil penemuan riset dalam praktik klinik keperawatan.