Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep Diri: Pengertian, Pengembangan, Komponen dan Faktor yang Mempengaruhi


Pengertian Konsep Diri

Konsep diri adalah pengetahuan individu tentang diri (Wigfield & Karpathian, 2007). Konsep diri memberikan kita kerangka acuan yang memengaruhi manajemen kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain (Sundeen, Stuart, & Laraia, 2007).

Pengembangan Konsep Diri

Konsep diri adalah kombinasi dinamis yang dibentuk selama bertahun-tahun dan didasarkan pada hal berikut:
  1. Reaksi orang lain terhadap tubuh seseorang.
  2. Persepsi berkelanjutan tentang reaksi orang lain terhadap diri.
  3. Hubungan dengan diri dan orang lain.
  4. Struktur kepribadian.
  5. Persepsi terhadap stimulus yang mempunyai dampak pada diri.
  6. Pengalaman baru atau sebelumnya.
  7. Perasaan saat ini tentang fisik, emosional, dan sosial diri.
  8. Harapan tentang diri.

Komponen Konsep Diri

a. Gambaran Diri (body image)

Citra tubuh adalah bagian dari konsep diri yang mencakup sikap dan pengalaman yang berkaitan dengan tubuh, termasuk pandangan tentang maskulinitas dan femininitas, kegagahan fisik, daya tahan, dan kapabilitas (Sundeen, Stuart, & Laraia, 2007). Citra tubuh dapat berubah dalam beberapa jam, hari, minggu, atau bulan, bergantung pada stimuli eksternal pada tubuh dan perubahan aktual dalam penampilan, struktur atau fungsi.

b. Ideal Diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang   diinginkan/disukainya atau sejumlah aspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita ataupun penghargaan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut melahirkan penyesuaian diri.

c. Harga Diri

Harga diri berasal dari dua sumber, yaitu diri sendiri dan orang lain. Harga diri bergantung pada kasih sayang dan penerimaan. Harga diri mencakup penerimaan diri sendiri karena nilai dasar, meski lemah dan terbatas. Seseorang yang menghargai dirinya dan merasa dihargai oleh orang lain biasanya mempunyai harga diri yang tinggi. Yang merasa tidak berharga dan menerima sedikit respek dari orang lain biasanya mempunyai harga diri yang rendah.

d. Identitas

Identitas mencakup rasa internal tentang individualitas, keutuhan, dan konsistensi dari seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Karenanya konsep tentang identitas mencakup konstansi dan kontinuitas. Identitas menunjukkan menjadi lain dan terpisah dari orang lain, namun menjadi diri yang utuh dan unik. Identitas kita membentuk salah satu dari ke empat prinsip yang terintegrasi dari konsep diri. Menjadi “diri-sendiri” adalah hal yang terpenting dari identitas. Identitas sering didapat dari observasi-diri seseorang dan dari apa yang kita katakan tentang diri kita (Sundeen, Stuart, & Laraia, 2007).

e. Peran

Peran mencakup harapan atau standar perilaku yang telah diterima oleh keluarga, komunitas, dan kultur. Perilaku didasarkan pada pola yang ditetapkan melalui sosialisasi. Sosialisasi dimulai tepat setelah lahir, ketika bayi berespons terhadap orang dewasa dan orang dewasa berespons terhadap perilaku bayi.

Anak belajar perilaku yang diterima oleh masyarakat melalui proses berikut:
  1. Reinforcement-extionction: perilaku tertentu menjadi umum atau dihindari, bergantung pada apakah perilaku ini diterima dan diharuskan atau tidak diperbolehkan dan dihukum.
  2. Inhibition: seorang anak belajar memperbaiki perilaku, bahkan ketika berupaya untuk melibatkan diri mereka.
  3. Substitution: seorang anak menggantikan satu perilaku dengan perilaku lainnya, yang memberikan kepuasan pribadi yang sama.
  4. Imitation: seorang anak mendapatkan pengetahuan. Keterampilan atau perilaku dari anggota sosial atau kelompok cultural.
  5. Identification: seorang anak menginternalisasikan keyakinan, perilaku, dan nilai dari model peran ke dalam ekspresi diri yang unik dan personal.

Faktor-Faktor Pembentukan Konsep Diri

Ada beberapa faktor yang memengaruhi pembentukan dan perkembangan konsep diri, antara lain:

a. Usia

Konsep diri terbentuk seiring dengan bertambahnya usia, dimana perbedaan ini lebih banyak berhubungan dengan tugas-tugas perkembangan. Pada masa kanak-kanak, konsep diri seseorang menyangkut hal-hal di sekitar diri dan keluarganya.

Pada masa remaja, konsep diri sangat dipengaruhi oleh teman sebaya dan orang yang dipujanya, sedangkan remaja yang kematangannya terlambat, yang diperlakukan seperti anak-anak, merasa tidak dipahami sehingga cenderung berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri.

Pada masa dewasa konsep dirinya sangat dipengaruhi oleh status sosial dan pekerjaan, dan pada usia tua konsep dirinya lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan fisik, perubahan mental, maupun sosial.

b. Inteligensi

Inteligensi memengaruhi penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya, orang lain dan dirinya sendiri. Semakin tinggi taraf intelegensinya semakin baik penyesuaian dirinya dan lebih mampu bereaksi terhadap rangsangan lingkungan atau orang lain dengan cara yang dapat diterima.

c. Pendidikan

Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan prestisenya.

d. Status Sosial Ekonomi

Status sosial seseorang memengaruhi bagaimana penerimaan orang lain terhadap dirinya. Penerimaan lingkungan dapat memengaruhi konsep diri seseorang. Penerimaan lingkungan terhadap seseorang cenderung didasarkan pada status sosial ekonominya.

e. Hubungan Keluarga

Seseorang yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama.

f. Orang Lain

Sullivan menjelaskan bahwa individu diterima orang lain, dihormati dan disenangi karena keadaan dirinya, individu akan cenderung bersikap menghormati dan menerima dirinya. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan dirinya, menyalahkan dan menolaknya, ia akan cenderung tidak akan menyenangi dirinya. Orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain, cenderung memberikan skor yang tinggi juga dalam menilai dirinya. Artinya, harga diri sesuai dengan penilaian orang lain terhadap dirinya.

g. Kelompok Rujukan (Reference Group)

Kelompok rujukan adalah kelompok yang secara emosional mengikat individu, dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep dirinya. Ciri orang yang memiliki konsep diri  negatif ialah peka terhadap kritik, responsif sekali terhadap pujian, mempunyai sikap hiperkritis, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, dan bersikap pesimis terhadap kompetisi.

Sebaliknya, orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal:
  1. Kemampuan mengatasi masalah
  2. Merasa setara dengan orang lain
  3. Menerima pujian tanpa rasa malu
  4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
  5. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Konsep Diri

Menurut Sundeen, Stuart, & Laraia (2007) ada beberapa faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan konsep diri, seperti:

a. Teori Perkembangan

Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir, seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.

b. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)

Di mana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain, yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interpretasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.

c. Self Perception (persepsi diri sendiri)

Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif.