Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Konsep Integritas Kulit dan Luka


A. INTEGRITAS KULIT

Konsep integritas kulit akan menggambarkan pentingnya menjaga kulit dalam kondisi utuh dan sehat. Dengan memahami tentang struktur kulit, kita akan selalu mempertahankan kesehatan kulit dan mendukung penyembuhan luka. Kulit yang utuh dan sehat akan melindungi kita dari cedera kimiawi dan mekanik. Saat kulit cedera, epidermis berfungsi melindungi dari serangan mikroorganisme pathogen. Dermis berfungsi mengembalikan integritas struktural (kolagen) dan bagian fisik kulit.

Kulit merupakan organ tubuh yang memiliki fungsi sebagai pertahanan primer tubuh dalam mencegah invasi mikroorganisme pathogen. Apabila sampai terjadi kerusakan di kulit, maka mikroorganisme berpotensi masuk dan menyebabkan infeksi.

Lapisan Kulit

Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis dan dibatasi oleh membran.
  1. Epidermis - Lapisan paling atas disebut epidermis memiliki beberapa lapisan.
    • Stratum korneum adalah lapisan terluar epidermis yang tipis. Stratum korneum ini terdiri atas sel datar, sel mati, dan sel yang mengandung keratin. Sel ini terbentuk dari lapisan epidermis yang paling dalam, yang biasanya disebut lapisan basal. Sel pada lapisan basal membagi, mengembangbiakkan, dan bermigrasi menuju permukaan epidermis. Setelah sel mencapai stratum korneum, sel menjadi datar dan mati.
    • Gerakan konstan ini memastikan bahwa sel di permukaan terkelupas melalui proses deskuamasi atau pengelupasan. Stratum korneum yang tipis ini melindungi sel dan jaringan yang berada di bawahnya dari dehidrasi dan mencegah masuknya agen kimia tertentu. Stratum korneum memungkinkan evaporasi air dari kulit dan absorpsi obat topikal tertentu.
  2. Dermis - Lapisan kulit yang paling dalam memiliki daya rentang, pendukung mekanik, dan memberikan perlindungan pada tulang, otot, dan organ yang berada di bawahnya. Dermis berbeda dari epidermis yang sebagian besar terdiri atas jaringan penghubung dan beberapa sel kulit. Kolagen (protein fibrosa yang keras), pembuluh darah, dan saraf yang berada di lapisan dermal. Fibroblas, yang bertanggungjawab untuk pembentukan kolagen, adalah jenis sel yang khusus diantara dermis. integritas kulit dan mendukung penyembuhan luka.

B. KONSEP LUKA

1. Pengertian Luka

Luka adalah rusak atau terputusnya kontinuitas jaringan kulit atau jaringan di bawahnya.

2. Mekanisme Terjadinya Luka

  • Luka insisi (incised wounds) - Terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal, yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura setelah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi).
  • Luka memar (contusion wound) - Terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
  • Luka lecet (abraded wound) - Terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
  • Luka tusuk (punctured wound) - Terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.
  • Luka gores (lacerated wound) - Terjadi akibat benda yang tajam, seperti oleh kaca atau oleh kawat.
  • Luka tembus (penetrating wound) - Adalah luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil, tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
  • Luka bakar (combustio) - Adalah kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh karena bersentuhan atau terpapar suhu yang tinggi.

3. Klasifikasi Luka

Menurut Mansjoer (2007), klasifikasi luka adalah sebagai berikut:
  • Berdasarkan sifatnya
    1. Luka akut - Adalah luka yang sembuh sesuai dengan periode waktu yang diharapkan. Luka akut dapat dikategorikan sebagai:
      • Luka akut pembedahan, contoh: insisi, eksisi, dan skin graft.
      • Luka akut bukan pembedahan, contoh: luka bakar.
      • Luka akut akibat faktor lain, contoh: abrasi, laserasi, atau injuri pada lapisan kulit superfisial.
    2. Luka kronis - Adalah luka yang proses penyembuhannya mengalami keterlambatan atau bahkan kegagalan. Contoh: luka decubitus, luka diabetes, dan leg ulcer.
  • Berdasarkan kehilangan jaringan
    1. Superfisial; luka hanya terbatas pada lapisan epidermis.
    2. Parsial (partial-thickness); luka meliputi lapisan epidermis dan dermis.
    3. Penuh (full-thickness); luka meliputi epidermis, dermis dan jaringan subcutan bahan dapat juga melibatkan otot, tendon, dan tulang.
  • Berdasarkan stadium
    1. Stadium I (Stage I) - Lapisan epidermis utuh, namun terdapat eritema atau perubahan warna.
    2. Stadium II (Stage II) - Kehilangan kulit superfisial dengan kerusakan lapisan epidermis dan dermis. Eritema di jaringan sekitar yang nyeri, panasa, dan edema. Exudate sedikit sampai sedang.
    3. Stadium III (Stage III) - Kehilangan jaringan sampai dengan jaringan sub cutan, dengan terbentuknya rongga (cavity), eksudasi sedang sampai banyak.
    4. Stadium IV (Stage IV) - Hilangnya jaringan subkutan dengan terbentuknya rongga (cavity) yang melibatkan otot, tendon dan atau tulang. Exudat sedang sampai banyak.
  • Berdasarkan mekanisme terjadinya
    1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal, yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura setelah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (ligasi)
    2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
    3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
    4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.
    5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam, seperti oleh kaca atau oleh kawat.
    6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil, tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
    7. Luka bakar (Combustio), adalah luka yang disebabkan oleh trauma panas, listrik, kimiawi, radiasi atau suhu dingin yang ekstrim.
  • Berdasarkan penampilan klinis
    1. Nekrotik (hitam): Eschar yang mengeras dan nekrotik, mungkin kering atau lembab.
    2. Sloughy (kuning): Jaringan mati yang fibrous.
    3. Terinfeksi (kehijauan): Terdapat tanda-tanda klinis adanya infeksi, seperti nyeri, panas, bengkak, kemerahan dan peningkatan eksudat.
    4. Granulasi (merah): Jaringan granulasi yang sehat.
    5. Epitelisasi (pink): Terjadi epitelisasi.

4. Proses Penyembuhan Luka

Proses penyembuhan luka menurut Mansjoer (2007) adalah:

a. Fase inflamasi

Berlangsung sampai hari ke-5. Akibat luka terjadi pendarahan, tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang terputus (retraksi) dan reaksi hemostasis.

Hemostasis terjadi karena keluarnya trombosit, trombosit mengeluarkan prostaglandin, tromboksan, bahan kimia tertentu dan asam amino tertentu yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dinding pembuluh darah dan kemotaksis terhadap leukosit.

Sel radang keluar dari pembuluh darah secara diapedesis dan menuju daerah luka secara kemotaksis. Sel Mast mengeluarkan serotinin dan histamin yang meningkatkan permiabilitas kapiler, terjadi eksudasi cairan edema. Dengan demikian akan timbul tanda-tanda radang. Leukosit, limfosit dan monosit menghancurkan dan memakan kotoran dan kuman. Pertautan pada fase ini hanya oleh fibrin, belum ada kekuatan pertautan luka sehingga disebut fase tertinggal (lag phase).

Berat-ringannya reaksi radang ini dipengaruhi juga oleh adanya benda-benda asing dari luar tubuh, misalnya: benang jahit, infeksi kuman dll. Tidak adanya serum maupun pus/nanah menunjukkan reaksi radang yang terjadi bukan karena infeksi kuman, tetapi karena proses penyembuhan luka.

b. Fase proliferasi atau fibroplasi

Berlangsung dari akhir masa inflamasi sampai kira-kira minggu ke-3. Pada fase ini terjadi proliferasi dari fibroblast yang menghasilkan mukopolisakarida, asam aminoglisin dan prolin yang akan mempertautkan tepi luka. Pada fase ini terbentuk jaringan granulasi. Pembentukan jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan luka tertutup epitel dan mulailah proses pendewasaan penyembuhan luka, pengaturan kembali dan penyerapan yang berlebih.

c. Fase remodelling/fase reabsorbsi/fase penyudahan

Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini berakhir bila tanda radang sudah hilang.

5. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Penyembuhan Luka

Menurut Mansjoer (2007), faktor-faktor yang memengaruhi penyembuhan luka adalah:
  • Koagulasi - Adanya kelainan pembekuan darah (koagulasi) akan menghambat penyembuhan luka sebab hemostasis merupakan tolak dan dasar fase inflamasi.
  • Gangguan sistem imun (infeksi, virus) - Gangguan sistem imun akan menghambat dan mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan dan kontaminasi. Bila sistem  daya tahan tubuh, baik seluler maupun humoral terganggu, maka pembersihan kontaminasi dan jaringan mati serta penahanan infeksi tidak berjalan baik.
  • Gizi (kelaparan, malabsorbsi), gizi kurang - Memengaruhi sistem imun.
  • Penyakit kronis - Penyakit kronis, seperti TBC, Diabetes, juga memengaruhi sistem imun.
  • Keganasan - Keganasan tahap lanjut dapat menyebabkan gangguan sistem imun yang akan mengganggu penyembuhan luka.
  • Obat-obatan - Pemberian sitostatika, obat penekan reaksi imun, kortikosteroid dan sitotoksik memengaruhi penyembuhan luka dengan menekan pembelahan fibroblast dan sintesis kolagen.
  • Teknik penjahitan - Teknik penjahitan luka yang tidak dilakukan lapisan demi lapisan akan mengganggu penyembuhan luka.
  • Kebersihan diri/personal hygiene - Kebersihan diri seseorang akan memengaruhi proses penyembuhan luka, karena kuman setiap saat dapat masuk melalui luka bila kebersihan diri kurang.
  • Vaskularisasi baik proses penyembuhan berlangsung - Cepat, sementara daerah yang memiliki vaskularisasi kurang baik proses penyembuhan membutuhkan waktu lama.
  • Pergerakan, daerah yang relatif sering bergerak - Penyembuhan terjadi lebih lama.
  • Ketegangan tepi luka - Pada daerah yang tight (tegang) penyembuhan lebih lama dibandingkan dengan daerah yang loose.

6. Komplikasi Dari Luka

Walaupun luka dapat sembuh secara fisiologis, tetapi luka harus tetap dirawat dengan baik untuk mencegah komplikasi-komplikasi. Adapun komplikasi dari luka adalah:
  1. Hematoma (hemorrhage) - Perawat harus mengetahui lokasi insisi pada klien, sehingga balutan dapat diinspeksi terhadap perdarahan dalam interval 24 jam pertama setelah pembedahan.
  2. Infeksi (wounds sepsis) - Merupakan infeksi luka yang sering timbul akibat infeksi nosokomial di rumah sakit. Proses peradangan biasanya muncul dalam 36 – 48 jam, denyut nadi dan temperatur tubuh klien biasanya meningkat, sel darah putih meningkat, luka biasanya menjadi bengkak, hangat dan nyeri. Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain:
    • Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan.
    • Abses, merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang ditandai oleh: terkumpulnya pus (bakteri, jaringan nekrotik, sel darah putih).
    • Lymphangitis, yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau abses yang menuju ke sistem limfatik. Hal ini dapat diatasi dengan istirahat dan antibiotik.
    • Dehiscence dan Eviscerasi - Dehiscence adalah rusaknya luka bedah. Eviscerasi merupakan keluarnya isi dari dalam luka.
    • Keloid - Merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan. Keloid ini biasanya muncul tidak terduga dan tidak pada setiap orang.