Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pengkajian pada Pasien dengan Gangguan Kebutuhan Oksigen

Pengkajian sistem pernapasan

BLOGPERAWAT.NET - Silakan Anda pelajari materi pengkajian pada pasien dengan gangguan kebutuhan oksigen secara cermat dan penuh motivasi, agar Anda lebih memahaminya! Pengkajian pada pasien dengan gangguan kebutuhan oksigen meliputi riwayat perawatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Riwayat Perawatan

  1. Keletihan (Fatigue) - Klien melaporkan bahwa ia kehilangan daya tahan. Untuk mengukur keletihan secara objektif, klien diminta untuk menilai keletihan dengan skala 1 – 10.
  2. Dispnea - Dispnea merupakan tanda klinis hipoksia dan termanifestasi dengan sesak napas, yaitu pernapasan sulit dan tidak nyaman. Tanda klinis dispnea, seperti usaha napas berlebihan, penggunaan otot bantu napas, pernapasan cuping hidung, peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan, napas pendek. Skala analog visual dapat membantu klien membuat pengkajian objektif dispnea, yaitu garis vertikal dengan skala 0-100 mm. Saat terjadinya dispnea (bernapas disertai usaha napas, sedang stres, infeksi saluran napas, saat berbaring datar/orthopnea).
  3. Batuk - Batuk merupakan pengeluaran udara dari paru yang tiba-tiba dan dapat didengar. Batuk merupakan refleks untuk membersihkan trakhea, bronkhus, dan paru untuk melindungi organ tersebut dari iritan dan sekresi. Pada sinusitis kronis, batuk terjadi pada awal pagi atau segera setelah bangun tidur, untuk membersihkan lendir jalan napas yang berasal dari drainage sinus. Pada bronkhitis kronis umumnya batuk sepanjang hari karena produksi sputum sepanjang hari, akibat akumulasi sputum yang menempel di jalan napas dan disebabkan oleh penurunan mobilitas. Perawat mengidentifikasi apakah batuk produktif atau tidak, frekuensi batuk, putum (jenis, jumlah, mengandung darah/hemoptisis)
  4. Mengi (Wheezing) - Wheezing ditandai dengan bunyi bernada tinggi, akibat gerakan udara berkecepatan tinggi melalui jalan napas yang sempit. Wheezing dapat terjadi saat inspirasi, ekspirasi, atau keduanya. Wheezing dikaitkan dengan asma, bronkhitis akut, atau pneumonia
  5. Nyeri - Nyeri dada perlu dievaluasi dengan memperhatikan lokasi, durasi, radiasi, dan frekuensi nyeri. Nyeri dapat timbul setelah latihan fisik, rauma iga, dan rangkaian batuk yang berlangsung lama. Nyeri diperburuk oleh gerakan inspirasi dan kadang-kadang dengan mudah dipersepsikan sebagai nyeri dada pleuritik.
  6. Pemaparan Geografi atau Lingkungan - Pemaparan lingkungan didapat dari asap rokok (pasif/aktif), karbon monoksida (asap perapian/cerobong), dan radon (radioaktif). Riwayat pekerjaan berhubungan dengan asbestosis, batubara, serat kapas, atau inhalasi kimia.
  7. Infeksi Pernapasan - Riwayat keperawatan berisi tentang frekuensi dan durasi infeksi saluran pernapasan. Flu dapat mengakibatkan bronkhitis dan pneumonia. Pemaparan tuberkulosis dan hasil tes tuberkulin, risiko infeksi HIV dengan gejala infeksi pneumocystic carinii atau infeksi mikobakterium pneumonia perlu dikaji.
  8. Faktor Risiko - Riwayat keluarga dengan tuberkulosis, kanker paru, penyakit kardiovaskular merupakan faktor risiko bagi klien.
  9. Obat-obatan - Komponen ini mencakup obat yang diresepkan, obat yang dibeli secara bebas, dan obat yang tidak legal. Obat tersebut mungkin memiliki efek yang merugikan akibat kerja obat itu sendiri atau karena interaksi dengan obat lain. Obat ini mungkin mempunyai efek racun dan dapat merusak fungsi kardiopulmoner.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
  1. Inspeksi - Observasi dari kepala sampai ujung kaki untuk mengkaji kulit dan warna membran mukosa (pucat, sianosis), penampilan umum, tingkat kesadaran (gelisah), keadekuatan sirkulasi sistemik, pola pernapasan, dan gerakan dinding dada.
  2. Palpasi - Dengan palpasi dada, dapat diketahui jenis dan jumlah kerja thoraks, daerah nyeri tekan, taktil fremitus, getaran dada (thrill), angkat dada (heaves), dan titik impuls jantung maksimal, adanya massa di aksila dan payudara. Palpasi ekstremitas untuk mengetahui sirkulasi perifer, nadi perifer (takhikardia), suhu kulit, warna, dan pengisian kapiler.
  3. Perkusi - Perkusi untuk mengetahui adanya udara, cairan, atau benda padat di jaringan. Lima nada perkusi adalah resonansi, hiperresonansi, redup, datar, timpani.
  4. Auskultasi - Auskultasi untuk mendengarkan bunyi paru. Pemeriksa harus mengidentifikasi lokasi, radiasi, intensitas, nada, dan kualitas. Auskultasi bunyi paru dilakukan dengan mendengarkan gerakan udara di sepanjang lapangan paru : anterior, posterior, dan lateral. Suara napas tambahan terdengar jika paru mengalami kolaps, terdapat cairan, atau obstruksi.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik dilakukan untuk mengukur keadekuatan ventilasi dan oksigenasi.
  1. Pemeriksaan Fungsi Paru - Pemeriksaan fungsi paru dilakukan dengan menggunakan spirometer. Klien bernapas melalui masker mulut yang dihubungkan dengan spirometer. Pengukuran yang dilakukan mencakup volume tidal (Vт), volume residual (RV), kapasitas residual fungsional (FRC), kapasitas vital (VC), kapasitas paru total (TLC).
  2. Kecepatan Aliran Ekspirasi Puncak (Peak Expiratory Flow Rate/PEFR) - PEFR adalah titik aliran tertinggi yang dicapai selama ekspirasi maksimal dan titik ini mencerminkan terjadinya perubahan ukuran jalan napas menjadi besar.
  3. Pemeriksaan Gas Darah Arteri - Pengukuran gas darah untuk menentukan konsentrasi hidrogen (H+), tekanan parsial oksigen (PaO2) dan karbon dioksida (PaCO2), dan saturasi oksihemoglobin (SaO2), pH, HCO3-.
  4. Oksimetri - Oksimetri digunakan untuk mengukur saturasi oksigen kapiler (SaO2), yaitu persentase hemoglobin yang disaturasi oksigen.
  5. Hitung Darah Lengkap - Darah vena untuk mengetahui jumlah darah lengkap meliputi hemoglobin, hematokrit, leukosit, eritrosit, dan perbedaan sel darah merah dan sel darah putih.
  6. Pemeriksaan sinar X dada - Sinar X dada untuk mengobservasi lapang paru untuk mendeteksi adanya cairan (pneumonia), massa (kanker paru), fraktur (klavikula dan costae), proses abnormal (TBC)
  7. Bronkoskopi - Bronkoskopi dilakukan untuk memperoleh sampel biopsi dan cairan atau sampel sputum dan untuk mengangkat plak lendir atau benda asing yang menghambat jalan napas.
  8. CT Scan - Dapat mengidentifikasi massa abnormal melalui ukuran dan lokasi, tetapi tidak dapat mengidentifikasi tipe jaringan.
  9. Kultur Tenggorok - Kultur tenggorok menentukan adanya mikroorganisme patogenik, dan sensitivitas terhadap antibiotik.
  10. Spesimen Sputum - Spesimen sputum diambil untuk mengidentifikasi tipe organisme yang berkembang dalam sputum, resistensi, dan sensitivitas terhadap obat.
  11. Skin Tes - Pemeriksaan kulit untuk menentukan adanya bakteri, jamur, penyakit paru viral, dan tuberkulosis.
  12. Torasentesis - Torasentesis merupakan perforasi bedah dinding dada dan ruang pleura dengan jarum untuk mengaspirasi cairan untuk tujuan diagnostik atau tujuan terapeutik atau untuk mengangkat spesimen untuk biopsi.