Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Askep Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene

Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene

Konsep Dasar Personal Hygiene

Salah satu tanda seseorang dikatakan sehat adalah adanya kemampuan orang tersebut melakukan aktivitas seperti bekerja, makan dan minum, personal hygiene, rekreasi dan lain lain. Jika seseorang sakit atau terjadi kelemahan fisik sehingga kemampuan aktivitas menurun. Seseorang tersebut biasanya terjadi masalah personal hygiene kurang mendapatkan perhatian, hal ini bisa berpengaruh pada masalah kesehatan seseorang.

Akibat yang dapat ditimbulkan jika personal hygiene tidak terpenuhi diantaranya adalah gangguan membrane mukosa mulut, integritas kulit, rabut, mata, kuku dan kelamin. Selain menimbulkan dampak fisik, gangguan personal hygiene dapat pula berdampak pada gangguan pemenuhan kebutuhan psikososial dan kenyamana.

Pertama kita akan membahas tentang personal hygiene terlebih dahulu, lalu akan mempelajari tentang konsep dasar personal hygiene dan asuhan keperawatan klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.

Konsep Dasar Personal Hygiene

Saudara-saudara sekalian, agar anda dapat mencegah terjadinya masalah yang terjadi pada klien dengan personal hygiene yang tidak terpenuhi seperti kerusakan integritas kulit, gigi dan mukosa dan lain-lain. Klien tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan fisik dan psikologis. Sedangkan gangguan fisik dan psikologis mengurangi keindahan penampilan dan reaksi emosional. Dengan demikian peran perawat sangat dibutuhkan dalam melakukan asuhan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene terutama pada klien yang tidak mampu untuk memenuhi dan meningkatkan pengetahuannya.

Seseorang dalam kehidupan sehari- hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus terpenuhi karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikologis. Aktivitas pemenuhan kebersihan sangat dipengaruhi budaya, sosial-ekonomi, status kesehatan, pengetahuan dan lain-lain.

Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang mendapatkan perhatian. Hal ini bisa terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah yang tidak penting, padahal masalah kebersihan apabila dibiarkan dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.

Sehingga anda harus mempelajari dulu tentang konsep dasar personal hygiene dan memberikan asuhan keperawatan pada klien gangguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene untuk mencegah kerusakan membrane mukosa mulut, integritas kulit, rabut, mata, kuku dan kelamin.

Pengertian Personal Hygiene

Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yang berarti personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Jadi personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.

Cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka disebut higiene perorangan. Personal hygiene atau kebersihan diri adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan dan kesehatan untuk memperoleh kesejahteraan fisik dan psikologis.

Tujuan Personal Hygiene

Tujuan seseorang dalam melakukan perawatan personal hygiene meliputi:
  1. Meningkatkan derajat kesehatan.
  2. Rasa nyaman dan menciptakan keindahan.
  3. Mencegah penyakit pada diri sendiri maupun pada orang lain.
  4. Meningkatkan percaya diri.

Manfaat Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun bagi profesi kesehatan lain, di antaranya:
  1. Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan.
  2. Mengetahui masalah kesehatan yang dialami klien.
  3. Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat.
  4. Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene

a. Status kesehatan
Seseorang dalam kondisi sakit atau cedera, sehingga memerlukan bedrest, apalagi dalam waktu lama, hal ini akan mempengaruhi kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan personal hygiene dan tingkat kesehatan klien. Di sinilah peran perawatan untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene dan mencegah gangguan seperti kerusakan membrane mukosa, kulit dan lain lain.

b. Budaya
Sejumlah mitos berkembang di masyarakat menjelaskan bahwa seseorang yang dalam keadaan sakit tidak dimandikan, hal ini dikarenakan nanti penyakitnya tambah parah.

c. Status sosial-ekonomi
Seseorang dalam kegiatan pemenuhan personal hygiene yang baik memerlukan sarana dan prasarana, seperti kamar mandi, air cukup dan bersih, peralatan ( misalnya sabun, shampo, dan lain lain) (Nancy Roper, 2002). Hal ini membutuhkan biaya dan akan berpengaruh seseorang dalam memenuhi dan mempertahankan personal hygiene dengan baik.

d. Tingkat pengetahuan dan perkembangan
Kedewasaan seseorang berpengaruh pada kualitas hidup, salah satunya pengetahuan yang lebih baik. Pengetahuan itu penting untuk meningkatkan status kesehatan seseorang. Sebagai contoh, agar seseorang terhindar dari penyakit kulit, maka seseorang tersebut harus selalu menjaga kulit agar tetap bersih dengan mandi secara teratur dan menggunakan sabun dan air bersih.

e. Cacat jasmani atau mental
Seseorang dalam kondisi cacat jasmani atau mental akan menghambat kemampuan individu untuk melakukan perawatan pemenuhan kebutuhan diri sendiri.

f. Praktik sosial
Selama anak-anak mendapatkan praktik hygiene dari orang tua, sedangkan masa remaja lebih perhatian pada hygiene karena pengaruh teman atau pacar. Praktik hygiene lansia dapat berubah dikarenakan situasi kehidupan.

g. Citra tubuh
Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentingnya hygiene pada orang tersebut. Jika seorang klien rapi sekali maka perawat mempertimbangkan ketika merencanakan perawatan dan akan berkonsultasi membuat keputusan dalam perawatan hygiene.

Contoh:
Klien yang telah mengalami pembedahan seperti kolostomi selalu memperhatikan penampilan stoma dan bau fekal, maka perawat membantu klien menjaga kebersihan area stoma dan mengurangi atau menghilangkan bau. Sebaliknya, klien yang tidak rapi atau tidak tertarik pada hygiene maka klien membutuhkan pendidikan pentingnya hygiene.

h. Pilihan pribadi
Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan kapan untuk mandi, sikat gigi dan perawatan rambut, dan lain-lain. Klien memilih produk berbeda untuk perawatan hygiene dan bagaimana cara melakukan hygiene. Pilihan klien membantu perawat pengembangan rencana perawatan, hal ini tidak perlu mengubah pilihan, kecuali hal itu tidak mempengaruhi kesehatan. Misalnya, klien diabetes harus hati-hati menjaga kakinya bersih dan menghindari infeksi. Perawat harus menjelaskan kebutuhan perawatan kaki yang baik dan bahan yang digunakan.

Macam-Macam Personal Hygiene

a. Perawatan kulit
Kulit merupakan organ aktif yang berfungsi sebagai, sekresi, ekskresi, pengatur temperatur, sensasi, dan kulit berfungsi juga sebagai pertukaran oksigen, nutrisi dan cairan cairan dengan pembuluh di bawahnya, sintesa sel baru dan eliminasi sel mati.

Epidermis (lapisan luar) merupakan pelindung jaringan di bawahnya terhadap kehilangan cairan, cedera mekanis maupun kimia serta masuknya mikroorganisme penyakit. Seseorang harus menjaga kebersihan kulit karena sangatlah penting, kulit sebagai pintu masuk utama kuman pathogen ke dalam tubuh.

Bakteri, umumnya tinggal pada permukaan luar kulit. Tempat tinggal bakteri misalnya korinebakterium merupakan flora normal yang tidak menyebabkan penyakit tapi menghalangi multiplikasi penyakit akibat mikroorganisme.

Dermis lapisan kulit yang lebih tebal terdiri dari jaringan ikat kolagen dan serabut saraf, pembuluh darah, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, dan folikel rambut. Kelenjar sebasea mengeluarkan sebum, minyak, cairan odor ke dalam folikel rambut untuk minyak kulit dan rambut agar lemas dan liat.

Ada dua tipe kelenjar keringat yaitu ekrin lebih banyak pada dahi,telapak tangan dan kaki, hal ini untuk membantu pengendalian temperatur melalui evaporasi, sedangkan kelenjar apokrin pada area aksila dan genital. Dekomposisi bakteri dari keringat dari kelenjar ini bertanggung jawab pada bau tubuh.

Sedangkan cara merawat kulit dengan melakukan mandi minimal 2 kali sehari setelah melakukan aktivitas, keadaan kulit kotor, menjalani operasi dan sebaiknya menggunakan sabun yang tidak iritatif atau sesuai kebiasaan.

Kulit seringkali merefleksikan perubahan pada kondisi fisik dengan perubahan pada warna, ketebalan, tekstur, turgor, temperatur, dan hidrasi, sedangkan selama kulit masih utuh dan sehat, fungsi fisiologis masih optimal.

Perawatan genetalia untuk mencegah dan mengontrol infeksi, mencegah kerusakan kulit dan meningkatkan kenyamanan, serta mempertahankan kebersihan diri ( Poter & Perry, 2000). Perawatan dilakukan minimal dua kali sehari, lebih sering klien dengan infeksi genetalia atau wanita menstruasi.

Mengkaji perawatan hygiene kulit:
  1. Identifikasi klien terhadap toleransi prosedur hygiene, tipe perawatan yang diperlukan dan masalah kesehatan klien.
  2. Selama membantu klien melakukan hygiene kaji seluruh permukaan kulit secara inspeksi dan palpasi, meliputi perubahan integumen, respon terapi.
  3. Kaji fisik kulit
    • Observasi kondisi kulit meliputi warna, tekstur, turgor, temperatur, dan hidrasi kulit.
    • Masalah kulit seperti:
      • Kulit kering karena kebanyakan mandi, penggunaan sabun berlebihan atau sabun kasar dan alkalin, kulit maserasi, daerah kalus kaki, tangan.
      • Ruam kulit atau erupsi kulit dari reaksi alergi bisa datar, naik berupa lokal atau sistemik, pruritik atau nonpruritik.
      • Dermatitis kontak yaitu inflasi ditandai dengan letusan eritema, pruritis, nyeri, bersisik.
      • Abrasi dan lesi kulit rusak, perdarahan, cairan
      • Dekubitus dampak dari imobilisasi lama, bagian badan tergantung, terpapar tekanan seperti gips, linen, matras.
  4. Kaji kemampuan perawatan diri klien seperti klien tidak mampu merawat kulit maka perawat memberi bantuan atau mengajarkan pada keluarga. Kaji keseimbangan, toleransi, kekuatan otot, keadaan berbaring, kemampuan duduk, alat yang dibutuhkan, dan jarak rentang gerak pada ekstremitas klien.
  5. Kaji masalah kesehatan klien seperti gangguan fungsi kognitif dan kondisi fisik.
  6. Kaji penurunan sensasi. Klien tidak mampu merasakan cedera permukaan kulit biasanya pada klien dengan paralisis, insufisiensi sirkulasi, kerusakan saraf.

b. Perawatan Kaki dan Kuku
Kaki dan kuku seringkali memerlukan perhatian khusus untuk mencegah infeksi, bau dan cedera pada jaringan. Kuku merupakan pelengkap kulit, tetapi bila tidak mendapatkan perawatan yang baik maka kuku bisa sebagai sarang penyakit.

Masalah yang dihasilkan karena perawatan yang salah atau kurang kurang seperti menggigit kuku, memotong tidak tepat, pemaparan zat kimia yang tajam, dan pemakaian sepatu tidak pas. Ketidaknyamanan dan nyeri pada kaki dapat mengarah pada stres fisik dan emosional. Sedangkan cara merawat kuku dengan menjaga kebersihan kotoran di balik kuku dan memotongnya sesuai kebutuhan.

Pengkajian perawatan kaki dan kuku:
  1. Lakukan inspeksi pada permukaan kulit : bentuk, ukuran, jumlah jari, bentuk kaki, dan kondisi kaki meliputi adanya luka, inflamasi, iritasi dan pecah-pecah.
  2. Amati jari kaki, secara normal adalah lurus, datar dan kaki harus dalam garis lurus dengan mata kaki dan tibia.
  3. Kaji cara berjalan, apa pincang atau tidak alami, rasa nyeri saat berjalan.
  4. Kaji keadekuatan sirkulasi perifer pada kaki terutama klien dengan diabetes: dengan cara palpasi dari pedisdorsalis dan denyut tibial posterior.
  5. Kaji adanya neuropati yaitu degerasi saraf perifer yang ditandai kehilangan sensasi dengan cara sentukan ringan, suhu atau tusukan.
  6. Kaji kemampuan klein tentang perawatan kaki dan kuku.
  7. Amati kuku: kuku sehat yaitu transparan, lembut dan alas jari pink dan ujung putih tembus cahaya, sedangkan pada lansia tebal dan kuning. Kulit sekitar kuku dan kutikula lembut dan tanpa inflamasi.
  8. Kaji masalah umum pada kaki dan kuku seperti: 
    • Kalus (pengerasan)
    • Katimumul atau keratosis pada jari di atas tonjolan tulang bentuknya kerucut, bulat dan naik.
    • Kutil (plantar wart) yaitu luka yang menjamur pada tumit kaki disebabkan virus papiloma.
    • Infeksi jamur kaki (tinea pedis) biasanya antara jari dan tumit, keadaan melepuh, berair, hal ini biasanya disebabkan alas kaki yang ketat.
    • Kuku yang tumbuh kedalam.
    • Bau kaki, hal ini disebabkan keringat berlebih yang meningkatkan perkembangan mikroorganisme.

c. Perawatan rambut
Rambut merupakan struktur kulit, rambut sehat terlihat mengkilat, tidak berminyak dan tidak kering atau tidak mudah patah, kondisi panas dan malnutrisi akan mengganggu pertumbuhan rambut. Bila rambut kotor dan tidak dibersihkan bisa menyebabkan ketombe dan sarang kutu.

Pertumbuhan, distribusi, dan pola rambut dapat menjadi indikator status kesehatan umum. Perubahan hormonal, stres emosional atau fisik, penuaan, infeksi, penyakit, dan obat-obatan dapat mempengaruhi perubahan rambut.

Sedangkan cara merawat rambut antara lain, cuci rambut 1-2 kali seminggu(sesuai keadaan klien), dengan memakai shampo yang cocok, gunakan sisir besar untuk rambut keriting dan tidak bergigi tajam.

Pengkajian:
  1. Kaji kondisi rambut dan kulit kepala : rambut normal bersih, bercahaya, tidak kusut, kulit kepala bebas dari lesi.
  2. Mengkaji masalah rambut: ketombe, kutu (pediculosis), kehilangan rambut, pembotakan (alopesia).
  3. Mengkaji kemampuan perawatan diri klien untuk merawat rambut (kondisi penyakit klien merusak kemampuan klien dalam perawatan rambut).
  4. Praktik perawatan rambut : dengan mengkaji gaya rambut perawat dapat mengatur pola rambut, produk perawatan, waktu perawatan.

d. Perawatan gigi dan mulut
Mulut merupakan rongga, merupakan sistem pencernaan dan bagian tambahan sistem pernafasan sehingga tidak bersih dan penuh dengan bakteri, maka harus dibersihkan.

Mulut terdiri dari bibir, gigi, lidah dan langit-langit. Mukosa mulut normal berwarna merah muda terang dan basah. Gigi normal terdiri dari tiga bagian, kepala, leher dan akar, sedangkan sehat tampak putih, halus, bercahaya, dan berjajar rapi.

Hygiene mulut: membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi dan bibir yang sehat menstimulasi nafsu makan. Sedangkan cara membersihkannya dengan menyikat gigi sesudah makan dan sebelum tidur, atau sesuai kebutuhan, dengan menggunakan sikat yang halus dan bulu banyak.

Tanggung jawab perawat pada higiene mulut adalah pemeliharaan dan pencegahan dengan cara mengajarkan teknik yang benar, memotivasi, perawat membuat rujukan, memberikan pendidikan dan membantu membersihkan gigi dan mulut.

e. Perawatan mata
Secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk mata karena secara terus-menerus dibersihkan air mata, dan kelopak mata dan bulu mata mencegah masuknya partikel asing. Seseorang hanya membersihkan kotoran mata dapat menempel pada sudut mata dan bulu mata, sehingga perlu menjaga kebersihan untuk mempertahankan kesehatan mata dan mencegah infeksi.

Klien yang tidak sadar berisiko cedera mata karena refleks kedipan tidak ada. Klien yang telah mengalami operasi mata atau infeksi menyebabkan peningkatan pengeluaran atau drainase.
Perawat sering membantu dalam perawatan kacamata, lensa kontak, atau mata buatan.

f. Perawatan hidung
Hidung memberikan indera penciuman, pemantau temperatur, kelembaban udara serta mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem pernafasan. Akumulasi sekresi yang mengeras di dalam nares dapat merusak sensasi olfaktori dan pernafasan. Iritasi mukosa nasal menyebabkan pembengkakan, mengarah pada obstruksi nares.

Secara tipikal, perawatan higienis hidung adalah sederhana, tetapi untuk klien menggunakan nasogastrik, pemberian makan enteral, atau pipa endotrakhea yang masuk ke dalam membutuhkan perhatian khusus. Hidung terdiri dari mukosa hidung, maka harus dijaga agar tidak terjadi iritasi.

g. Perawatan telinga
Hygiene telinga mempunyai implikasi untuk ketajaman pendengaran, bila substansi lilin atau benda asing berkumpul pada kanal telinga luar, yang mengganggu konduksi suara. Khususnya pada lansia rentan terkena masalah ini.

Perawat harus sensitif pada isyarat perilaku apapun yang mengindikasikan kerusakan pendengaran. Telinga harus dibersihkan bila ada kotoran yang menyumbat telinga, dengan mengeluarkan secara pelan. Ketika merawat klien yang menggunakan alat bantu pendengaran, perawat menginstruksikan klien pada pembersihan dan pemeliharaan yang tepat seperti teknik komunikasi yang meningkatkan pendengaran kata yang diucapkan.

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene, yaitu
status kesehatan, budaya, social-ekonomi, pengetahuan / perkembangan
dan cacat atau gangguan mental.
Sehingga seseorang tidak mampu untuk pemenuhan keperawatan
kebersihan dirinya yang meliputi kulit, mata, hidung, genetalian, dan lain-lain.
Bila pemenuhan kebersihan diri klien tidak terpenuhi akan menimbulkan
masalah seperti, 1) gangguan fisik yaitu mukosa mulut, integritas kulit dan
lain-lain, 2) dan psikologis.
Peran perawat untuk memenuhi kebutuhan perawatan klien seperti,
perawatan mandi, cuci rambut, gosok gigi, genetalia, mata, hidung, telinga.

Jika saudara sudah mengetahui konsep personal hygiene dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta macam dan prinsip perawatan personal hygiene, maka saudara pasti tidak kesulitan untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan pemenuhan personal hygiene dengan tahap-tahap sebagai berikut: 1) pengkajian, 2) merumuskan diagnosa, 3) menyusun rencana, 4) mencegah dan memperbaiki struktur tubuh, dan menyusun kriteria evaluasi.

Proses Keperawatan

A. Pengkajian

Dalam melakukan pengkajian harus menggerakan semua indra dan tenaga untuk melakukan pengkajian secara cermat baik melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik untuk menggali data yang akurat meliputi:

1. Riwayat Keperawatan
Tanyakan tentang pola kebersihan individu sehari-hari, sarana dan prasarana yang dimiliki, serta faktor-faktor yang mempengaruhi hygiene personal individu baik faktor pendukung maupun faktor pencetus.

2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, kaji hygiene personal individu, mulai dari ekstremitas atas sampai bawah.
  • Rambut. Amati kondisi rambut (warna, tekstur, kuantitas), apakah tampak kusam? Apakah ditemukan kerontokan?
  • Kepala. Amati dengan seksama kebersihan kulit kepala. Perhatikan adanya ketombe, kebotakan, atau tanda-tanda kemerahan.
  • Mata. Amati adanya tanda-tanda ikterus, konjungtiva pucat, secret pada kelopak mata, kemerahan atau gatal-gatal pada mata.
  • Hidung. Amati kondisi kebersihan hidung, kaji adanya sinusitis, pendarahan hidung, tanda-tanda pilek yang tidak kunjung sembuh, tanda-tanda alergi atau perubahan pada daya penciuman.
  • Mulut. Amati kondisi mukosa mulut dan kaji kelembabannya. Perhatikan adanya lesi, tanda-tanda radang gusi/sariawan, kekeringan, atau pecah-pecah.
  • Gigi. Amati kondisi dan kebersihan gigi. Perhatikan adanya tanda-tanda karang gigi, karies, gigi pecah-pecah, tidak lengkap, atau gigi palsu.
  • Telinga. Amati kondisi dan kebersihan telinga. Perhatikan adanya serumen atau kotoran pada telinga, lesi, infeksi, atau perubahan daya pendengaran.
  • Kulit. Amati kondisi kulit (tekstur, turgor, kelembaban) dan kebersihannya. Perhatikan adanya perubahan warna kulit, stria, kulit keriput, lesi, atau pruritus.
  • Kuku tangan dan kaki. Amati bentuk dan kebersihan kuku. Perhatikan adanya kelainan atau luka.
  • Genetalia. Amati kondisi dan kebersihan genetalia berikut area perineum. Perhatikan pola pertumbuhan rambut pubis. Pada laki-laki, perhatikan kondisi skrotum dan testisnya.
  • Higiene personal secara umum. Amati kondisi dan kebersihan kulit secara umum. Perhatikan adanya kelainan pada kulit dan bentuk tubuh.

B. Penetapan Diagnosis

Menurut NANDA (2015), diagnosis keperawatan umum untuk klien dengan masalah perawatan hygiene adalah pada defisit perawatan diri.

Lebih lanjut, diagnosis tersebut terbagi menjadi empat (Kozier, 2004), yaitu:
  1. Defisit perawatan diri: makan
  2. Defisit perawatan diri: mandi/hygiene
  3. Defisit perawatan diri: berpakaian/berhias
  4. Defisit perawatan diri: eliminasi.

Sedang masalah secara umum pada klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan kebersihan diri adalah sebagai berikut:

1. Risiko kerusakan integritas kulit
  • Definisi: keadaan di mana kulit seorang tidak utuh.
  • Kemungkinan berhubungan dengan: bagian tubuh yang lama tertekan, imobilisasi, terpapar zat kimia.
  • Kemungkinan data yang ditemukan: kerusakan jaringan kulit, gangren, dekubitus, kelemahan fisik.
  • Kondisi klinis kemungkinan terjadi : stroke, fraktur femur, koma, trauma medulla spinalis.
  • Tujuan yang diharapkan:
    1. Pola kebersihan diri pasien normal dan kulit utuh
    2. Keadaan kulit, rambut kepala bersih
    3. Klien bebas bau badan
    4. Klien dapat mandiri dalam kebersihan diri sendiri.

Intervensi Keperawatan
  1. Kaji kembali pola kebutuhan personal hygiene pasien
    • Rasional: Data dasar dalam melakukan intervensi
  2. Kaji keadaan luka pasien
    • Rasional: Menentukan intervensi lebih lanjut
  3. Jaga kulit agar tetap utuh dan kebersihan kulit pasien dengan cara membantu mandi pasien
    • Rasional: Menghindari risiko infeksi kulit
  4. Jaga kebersihan tempat tidur, selimut bersih dan kencang
    • Rasional: Mengurangi tekanan dan menghindari luka dekubitus
  5. Lakukan perawatan luka dengan teknik steril sesuai program
    • Rasional: Penyembuhan luka
  6. Observasi tanda-tanda infeksi
    • Rasional: Mencegah infeksi secara dini
  7. Lakukan pijat pada kulit dan lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
    • Rasional: Mencegah dekubitus
  8. Ubah posisi secara teratur (minimal setiap 2 jam)
    • Rasional: Tekanan lama lebih besar berisiko kerusakan kulit
  9. Keringkan kulit, setelah itu gunakan losion setelah mandi
    • Rasional: Emolien menghaluskan dan mencegah kehilangan kelembaban

2. Gangguan membrane mukosa mulut
  • Definisi: kondisi dimana mukosa mulut pasien mengalami luka.
  • Kemungkinan berhubungan dengan: trauma oral, pembatasan intake cairan, pemberian kemoterapi dan radiasi pada kepala dan leher.
  • Kemungkinan data yang ditemukan: iritasi/luka pada mukosa mulut, peradangan/infeksi, kesulitan dalam makan dan menelan, dan keadaan mulut yang kotor.
  • Kondisi klinis kemungkinan terjadi : stroke, stomatitis, koma.
  • Tujuan yang diharapkan:
    1. Keadaan mukosa mulut, lidah dalam keadaan utuh, warna merah muda
    2. Inflamasi tidak terjadi
    3. Klien mengatakan rasa nyaman
    4. Keadaan mulut bersih.

Intervensi
  1. Kaji kembali pola kebersihan mulut
    • Rasional: Data dasar dalam melakukan intervensi
  2. Lakukan kebersihan mulut sesudah makan dan sebelum tidur
    • Rasional: Membersihkan kotoran dan mencegah karang gigi
  3. Gunakan sikat gigi yang lembut
    • Rasional: Mencegah pendarahan
  4. Gunakan larutan garam/baking soda dan kemudian bilas dengan air bersih
    • Rasional: Larutan garam/soda membantu melembabkan mukosa, meningkatkan granulasi, dan menekan bakteri
  5. Lakukan pendidikan kesehatan tentang kebersihan mulut
    • Rasional: Mencegah gangguan mukosa
  6. Laksanakan program terapi medis
    • Rasional: Membantu menyembuhkan luka/infeksi

3. Defisit perawatan diri/kebersihan diri
  • Definisi: kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya
  • Kemungkinan berhubungan dengan: kelelahan fisik, penurunan kesadaran
  • Kemungkinan data yang ditemukan: badan kotor dan berbau, rambut kotor, kuku panjang dan kotor, bau mulut dan kotor.
  • Kondisi klinis kemungkinan terjadi : stroke, fraktur, koma.
  • Tujuan yang diharapkan:
    1. Kebersihan diri sesuai pola
    2. Keadaan badan, mulut, rambut, dan kuku bersih
    3. Pasien merasa nyaman.

Intervensi
  1. Kaji kembali pola kebersihan diri
    • Rasional: Data dasar dalam melakukan intervensi
  2. Bantu klien dalam membersihkan badan, mulut, rambut, dan kuku
    • Rasional: Mempertahankan rasa nyaman
  3. Lakukan pendidikan kesehatan: 1). Pentingnya kebersihan diri 2). Pola kebersihan diri 3). Cara kebersihan
    • Rasional: Meningkatkan pengetahuan dan membuat klien lebih kooperatif

C. Implementasi

Implementasi atau tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan intervensi atau rencana yang telah disusun.

D. Kriteria Evaluasi

  1. Mendemonstrasikan cara memenuhi personal hygiene ( bila sadar dan cara memiliki alat dalam pemenuhan personal hygiene.
  2. Pemenuhan kebersihan diri klien dan respon nyaman klien.

Daftar Pustaka
  • Alman. 2000, Fundamental & Advanced Nursing Skill, Canada, Delmar Thompson, Learning Publisher.
  • Asmadi. 2008, Teknik Prosedural Keperawatan, Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Jakarta: Salemba Medika.
  • Azis Alimun. 2006, Kebutuhan Dasar Manusia I , Jakarta: Salemba Medika.
  • Elkin, et al. 2000., Nursing Intervention and Clinical Skills, Aecond edt.
  • Kozier, B. 1995, Fundamental of Nursing: Concept Process and Practice, Ethics and Values, California, Addison Wesley.
  • North American Nursing Association (NANDA). 2015, NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2015-2017, Wisconsin, Wiley Blackwell.
  • Perry,at al. 2005, Keterampilan dan Prosedur Dasar, Kedokteran, Jakarta: EGC.
  • Potter, P. 1998, Fundamental of Nursing, Philadelphia: Lippincott.
  • Tarwoto Wartonah. 2006, Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi 3, Jakarta: Salemba Medika.
  • Tim Poltekkes Depkes Jakarta III. 2009, Panduan Praktek KDM, Jakarta: Salemba Medika.
  • Tim Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, 2012, Modul pembelajaran KDM, Malang.
  • Wahid, IM dan Nuruk, C. 2008, Kebutuhan Dasar Manusia, Teori dan Aplikasi Dalam Praktek, Jakarta: Salemba Medika.